Gerindra Sebut MBG Serap 1,3 Juta Pekerja

Partai Gerindra menyebut, program ini menyerap sekitar 1,3 juta tenaga kerja.

Diterbitkan 28 Juni 2026, 06:29 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Program MBG diklaim menciptakan 1,3 juta lapangan kerja baru, setara sektor industri.
  • Survei Bappenas menunjukkan MBG tingkatkan gizi anak, kurangi lapar, dan naikkan konsumsi buah.
  • Evaluasi dan perbaikan tata kelola program MBG terus dilakukan untuk efektivitas.

Liputan6.com, Jakarta - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diklaim tak hanya meningkatkan asupan gizi masyarakat, tetapi juga membuka jutaan lapangan pekerjaan. Partai Gerindra menyebut, program ini menyerap sekitar 1,3 juta tenaga kerja.

Juru Bicara (Jubir) Partai Gerindra sekaligus Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Bahtra Banong mengatakan, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG membutuhkan sekitar 50 tenaga kerja.

“Dari MBG saja bisa menyumbang tenaga kerja, karena kalau saya enggak salah setiap dapur itu kurang lebih 50 orang di SPPG, ya. Kalau kurang lebih 50 orang dikali 27 ribu dapur, artinya ada hampir 1,3 juta orang,” kata Bahtra di kawasan Jakarta Pusat, Sabtu (27/6/2026).

Menurut Bahtra, jumlah tersebut setara dengan serapan tenaga kerja di sektor industri. Dia menilai manfaat besar MBG, khususnya dalam membuka lapangan pekerjaan, kerap luput dari perhatian publik.

“Kita lihat selama ini kan bagaimana pengelolaan MBG yang dianggap carut-marut, bagaimana pengelolaan MBG yang dianggap kurang tepat sasaran. Padahal, di sana banyak sekali kemanfaatannya yang perlu dicermati oleh teman-teman,” ujarnya, dikutip dari Antara.

MBG Bikin Anak Lebih Kenyang

Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah, Hariqo Wibawa Satria mengatakan, hasil survei Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mencatatkan dampak positif MBG bagi anak-anak.

“Bappenas di surveinya menyebutkan, sebelum MBG, persen anak-anak itu lapar, sekarang sudah turun menjadi 16 persen. Kemudian, anak-anak yang kenyang sebelum MBG itu 43 persen, sekarang naik menjadi 84 persen. Kemudian, konsumsi buah naik menjadi 26 ke 84 persen,” jelasnya.

Meski terdapat beberapa polemik dalam program ini, dia mengatakan bahwa hal tersebut bagian dari perbaikan tata kelola agar lebih baik.

“Dulu setiap dapur Rp6 juta, sekarang dievaluasi, tidak harus semua dapur 6 juta, tergantung jumlah penerima manfaatnya. Pasti banyak yang enggak senang. Buktinya ada beberapa mitra kemarin yang komplain, dengan pemberhentian MBG sementara. Tapi inilah konsekuensi dari perbaikan dan perbaikan itu harus dijalankan,” ucapnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6