Liputan6.com, Jakarta - Vietnam, negara tetangga kita di Asia Tenggara, bergerak cepat mengubah masa depannya. Pemerintah Vietnam baru mengeluarkan Resolusi 71-NQ/TW sebagai lompatan besar untuk menjadikan pendidikan mesin pembangunan nasional.
Melalui resolusi ini, Vietnam menegaskan satu hal sederhana bahwa masa depan ekonomi negara itu ditentukan kualitas pendidikannya. Dalam bentuk target konkret, Vietnam menetapkan sejumlah ambisi besar: setidaknya 8 perguruan tinggi masuk daftar 200 universitas terbaik di Asia pada 2030, kemudian minimal 5 universitas menembus peringkat 100 besar dunia pada 2035.
Puncaknya, Vietnam ingin membangun sistem pendidikan yang berkualitas tinggi, cukup untuk masuk 20 besar sistem pendidikan terbaik dunia.
Advertisement
Jika target 2045 tercapai, Vietnam bisa menjadi hub pendidikan Asia Tenggara, pusat universitas regional dan sumber tenaga kerja berteknologi tinggi. Langkah fenomenal bagi negara yang sempat miskin usai dicabik perang. Anda tahu, tahun 1980-an Vietnam tergolong salah satu negara paling miskin di dunia.
Untuk Vietnam, target 2045 ini bukan pungguk merindukan bulan. Meskipun berstatus termiskin atau kedua termiskin, Vietnam berhasil mengungguli seluruh negara berkembang, serta banyak negara lebih kaya, dalam penilaian PISA tahun 2012, 2015, dan 2018. PISA (Programme for International Student Assessment) semacam rapor pendidikan siswa di dunia.
Pada PISA 2015, Vietnam ranking 8 dunia dalam sains, lebih unggul dari Amerika Serikat.
Hasil PISA tahun 2022 menunjukkan skor siswa Vietnam sedikit di bawah rata-rata negara OECD, organisasi yang kerap dijuluki “klub negara maju”.
Saking kagumnya, The Economist pernah mengulas keajaiban pendidikan Vietnam pada 2023 bertajuk, Why are Vietnam Schools so Good?.
Sebelum kita bedah mengapa pendidikan Vietnam sangat bagus, perlu diingatkan kepada para pembaca kolom ini betapa pentingnya pendidikan. Salah satunya, pendidikan adalah alat mobilitas vertikal paling egaliter. Pendidikan menjadi elevator bagi keluarga miskin untuk memperbaiki taraf hidup.
Dari anaknya Raeni yang S3 di Birmingham, kehidupan tukang becak Mugiyono pun berubah. Dari anaknya Wishka yang dokter, keluarga pemulung Permana bisa keluar dari kesulitan.
Kalau ini menular ke keluarga lain, dampaknya akan menjadi gelombang besar perubahan sosial yang mampu membawa bangsa keluar dari lingkaran kemiskinan. Semakin banyak orang terdidik, semakin bisa memikirkan jalan paling baik buat negeri ini.
"Saya ingin anak tukang pemulung bisa menjadi dokter, insinyur, atau pemimpin. Itu cita-cita saya," kata Presiden Prabowo dalam pidato baru-baru ini.
Filosofi Pendidikan Vietnam
Kembali ke Vietnam. Satu filosofi pendidikan penting yang menjadi pegangan adalah: kualitas pendidikan tidak bisa melampaui kualitas gurunya. Artinya begini, reformasi kurikulum tidak akan berhasil tanpa guru yang siap.
Vietnam ingin berpindah dari sistem hafalan menuju pembelajaran berbasis kompetensi (critical thinking, problem solving). Tetapi perubahan itu hanya bisa terjadi jika guru dilatih untuk mengajar dengan metode baru. Guru pusat reformasi, bukan sekadar pelaksana kebijakan.
Undang-undang, kurikulum, atau anggaran tidak otomatis meningkatkan kualitas belajar jika guru tidak punya keterampilan pedagogi yang kuat. Guru menjadi kunci.
Vietnam sangat memperhatikan kenaikan status dan kesejahteraan guru. Di Negeri Naga Biru itu, guru profesi paling prestisius.
Sekarang kita intip transformasi pendidikan Vietnam. Perjalanan pendidikan berlangsung dalam empat tahap yang saling memperkuat. Dimulai dengan membangun literasi nasional (1980–2000), Vietnam kemudian memperluas akses pendidikan (2000–2013), lalu mendorong reformasi kualitas pada kurun 2013–2024. Kini, dengan Resolusi 71, Vietnam mencanangkan transformasi besar pada 2045.
Akhir tahun 2025, saya menyaksikan sendiri bukti kualitas pendidikan tinggi di Vietnam ketika mengunjungi VinUniversity, kampus nonprofit yang didirikan pada 2018 untuk mendorong Vietnam menjadi pusat inovasi tidak sekadar pangkalan manufaktur.
VinUniversity punya fasilitas riset dan pembelajaran mutakhir, serta menjadi universitas termuda yang meraih peringkat keseluruhan QS Five Star Rating. Kampusnya berdiri di atas lahan luas dengan perpustakaan yang buka 24 jam dan pusat simulasi medis yang menyerupai rumah sakit sungguhan.
Advertisement
Perlu Kerja Keras
Dalam menulis kolom ini, saya tidak ingin terjebak sesat pikir cultural self defeatism. Contohnya ungkapan seperti: saat Vietnam sudah memikirkan sistem pendidikan terbaik di dunia, kita masih bergulat soal makan bergizi gratis. Tidak.
Saya meyakini, otoritas seperti kementerian pendidikan dasar dan menengah atau kementerian dikti sudah berusaha yang terbaik.
Hanya saja, berkaca pada Vietnam perlu kita ingatkan tahapan-tahapan penting yang tidak boleh dilalaikan. Problem pendidikan Indonesia yang paling melekat bisa dirangkum sebagai berikut. Pertama, krisis literasi. Skor membaca siswa Indonesia stagnan di papan bawah PISA. Dalam situasi ini, anggaran Perpustakaan Nasional justru dipangkas 47 persen pada 2026.
Kedua, kesejahteraan guru yang belum tuntas, terutama honorer, karena sulit meminta guru menginspirasi generasi penerus bangsa jika gajinya masih rendah. Kata Hamka, kalau di dunia ini ada pengorbanan, kejujuran, dan lapangan hati, ia adalah pekerjaan guru. Maka, pantasnya ada imbalan setimpal.
Ketiga, jurang kualitas antara Jawa dan luar Jawa, di mana banyak di luar Jawa anak-anak masih belajar dengan guru yang merangkap semua mata pelajaran, tanpa buku yang cukup. Keempat, budaya pendidikan kita masih cenderung menghargai hafalan daripada kemampuan bernalar, sehingga banyak lulusan fasih mengingat rumus tetapi kesulitan menghadapi persoalan nyata.
Mewujudkan cita-cita Prabowo agar setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk maju tentu memerlukan kerja keras. Namun seperti yang ditunjukkan Vietnam, perubahan besar dalam pendidikan selalu dimulai dari keberanian menetapkan arah jelas.
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Liputan6.com
Baca Kolom Penulis Lainnya:
Mengapa Sustainability Sangat Penting
Manusia Makhluk Antroposen di Kue Donat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5411187/original/066520500_1763004762-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-11-13T103028.882.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4461201/original/062506100_1686446588-cek_fakta_timnas_argentina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5566966/original/026954400_1777262107-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-27T105347.703.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/figure_images/100/original/001103300_1770611587-WhatsApp_Image_2026-02-09_at_11.30.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497061/original/062450000_1770615193-WhatsApp_Image_2026-02-09_at_11.07.00.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412054/original/002847300_1479720733-vietnam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5519344/original/095709500_1772548220-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8315631/original/085066700_1782183105-AP26173665939735.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309678/original/024525200_1782176074-AP26174009363435-Prancis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5370720/original/047083500_1759567179-Piala_Dunia_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258039/original/088971800_1781299445-AP26163759108481-Kanada.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262481/original/011971700_1781803398-Croatia_s_Luka_Modric.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9238165/original/069215800_1783129384-mes9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264340/original/096862300_1782107767-salah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9243416/original/040076400_1783136603-063_2284562735.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5248356/original/073589100_1749606013-AP25162020726631.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9235541/original/012266500_1783127691-063_2284556932.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9233776/original/041944300_1783126285-000_B98N9AV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3225394/original/006677000_1598958672-000_1WW4MK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2559129/original/026504800_1546249540-vietnam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5164389/original/011289000_1742172576-1__3_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2921616/original/011797600_1569399780-20190925-Buruh-NKRI-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8165033/original/018372800_1781019835-20260609BL_Timnas_Indonesia_Vs_Mozambik_FIFA_Matchday_2026-12.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8160428/original/098426300_1781014928-20260609_210316.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5133406/original/5400_1739534519-DALL__E_2025-02-14_19.00.40_-_A_vibrant_digital_illustration_showcasing_multiple_cryptocurrency_coins__including_Bitcoin__BTC___Ethereum__ETH___Binance_Coin__BNB___Solana__SOL___Do.jpg)