Liputan6.com, Nias: Gempa berkekuatan 8,7 skala Richter yang melanda Pulau Nias, Sumatra Utara, diperkirakan merenggut ribuan korban jiwa. Jumlah ini diperkirakan terus bertambah mengingat banyak korban lain yang masih tertimbun reruntuhan bangunan. Demikian pemantauan SCTV hingga Selasa (29/3) pukul 18.00 WIB.
Saat ini, Pulau Nias memerlukan bantuan alat berat termasuk relawan untuk mengangkat puing-puing bangunan agar para korban gempa bisa segera dievakuasi. Sebagian warga yang selamat berusaha mengevakuasi korban dengan peralatan seadanya. Warga juga membutuhkan bantuan pangan dan tenda darurat. Sejauh ini, belum ada bantuan yang masuk karena akses jalan dari dan menuju lokasi bencana tertutup.
Sementara itu di Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, Sumut, warga terlihat membawa jenazah dengan sepeda motor. Selain karena kondisi jalan yang rusak, mobil-mobil tak bisa berjalan karena persediaan bahan bakar minyak habis. Kebanyakan korban tewas adalah anak-anak dan perempuan [baca: Mayat Korban Gempa Diangkut dengan Sepeda Motor].
Hingga petang ini, jumlah korban gempa di Pulau Nias masih simpang siur. Direktorat Bantuan Sosial Departemen Sosial memperkirakan jumlah korban mencapai 200 hingga 300 orang. Jumlah tersebut dihimpun dari berbagai jaringan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) dan jaringan radio kapal laut lepas pantai.
Sedangkan Gubernur Sumut Rizal Nurdin menyatakan jumlah korban meninggal lebih dari 1.000 orang. Sejauh ini, pihak Hubungan Masyarakat Pemerintah Provinsi Sumut baru mencatat korban meninggal di Kota Gunung Sitoli mencapai 220 orang dan di kawasan Teluk Dalam sebanyak 110 jiwa.
Ketidakpastian jumlah korban meninggal ini karena jalur informasi di Pulau Nias terputus akibat padamnya aliran listrik dan komunikasi. Selain itu, cuaca buruk menyulitkan transportasi Sibolga-Pulau Nias. Hari ini, sebuah pesawat Casa yang hendak ke Pulau Nias bahkan harus kembali ke Medan, Sumut, karena terhadang kabut tebal dan kondisi Bandara Binaka yang rusak [baca: Gempa Melumpuhkan Kota Gunung Sitoli].(DNP/TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)
Saat ini, Pulau Nias memerlukan bantuan alat berat termasuk relawan untuk mengangkat puing-puing bangunan agar para korban gempa bisa segera dievakuasi. Sebagian warga yang selamat berusaha mengevakuasi korban dengan peralatan seadanya. Warga juga membutuhkan bantuan pangan dan tenda darurat. Sejauh ini, belum ada bantuan yang masuk karena akses jalan dari dan menuju lokasi bencana tertutup.
Sementara itu di Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, Sumut, warga terlihat membawa jenazah dengan sepeda motor. Selain karena kondisi jalan yang rusak, mobil-mobil tak bisa berjalan karena persediaan bahan bakar minyak habis. Kebanyakan korban tewas adalah anak-anak dan perempuan [baca: Mayat Korban Gempa Diangkut dengan Sepeda Motor].
Hingga petang ini, jumlah korban gempa di Pulau Nias masih simpang siur. Direktorat Bantuan Sosial Departemen Sosial memperkirakan jumlah korban mencapai 200 hingga 300 orang. Jumlah tersebut dihimpun dari berbagai jaringan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) dan jaringan radio kapal laut lepas pantai.
Sedangkan Gubernur Sumut Rizal Nurdin menyatakan jumlah korban meninggal lebih dari 1.000 orang. Sejauh ini, pihak Hubungan Masyarakat Pemerintah Provinsi Sumut baru mencatat korban meninggal di Kota Gunung Sitoli mencapai 220 orang dan di kawasan Teluk Dalam sebanyak 110 jiwa.
Ketidakpastian jumlah korban meninggal ini karena jalur informasi di Pulau Nias terputus akibat padamnya aliran listrik dan komunikasi. Selain itu, cuaca buruk menyulitkan transportasi Sibolga-Pulau Nias. Hari ini, sebuah pesawat Casa yang hendak ke Pulau Nias bahkan harus kembali ke Medan, Sumut, karena terhadang kabut tebal dan kondisi Bandara Binaka yang rusak [baca: Gempa Melumpuhkan Kota Gunung Sitoli].(DNP/TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365046/original/083732600_1791097921-cek_fakta_sapi_bebek.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5360863/original/067393500_1758767787-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-09-25T090726.096.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343958/original/032352600_1788928394-HOAX__14_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2845750/original/003475400_1562319949-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/435139/original/290305cGempaDepsos.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361300/original/000394000_1790692999-WhatsApp_Image_2026-09-29_at_9.36.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360089/original/_Langkah_Membumi_mengajak_mahasiswa_mempraktikkan_pemilahan_sampah_berdasarkan_kategori_organik__anorganik_dan_residu_dalam_Waste_Sorting_Competition_yang_berlangsung_sepanjang_Bulan_September_202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360261/original/089333200_1790604449-1790416230.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4938388/original/037330400_1725618752-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_6.54.31_AM.jpeg)