Liputan6.com, Jakarta - Ulat daun menjadi salah satu hama yang cukup menyebalkan bagi tanaman di rumah. Ukurannya memang kecil, tetapi dalam waktu singkat ulat dapat membuat daun berlubang, rusak, bahkan menyisakan tulang daun saja. Jika dibiarkan, pertumbuhan tanaman juga bisa terganggu karena luas daun yang berfungsi menangkap cahaya semakin berkurang.
Namun, membasmi ulat daun tidak selalu berarti harus menggunakan insektisida kimia yang keras. Terlebih jika tanaman berada di halaman rumah, kebun dapur, atau area yang sering digunakan untuk beraktivitas. Ada beberapa cara yang lebih sederhana dan relatif aman untuk mengurangi ulat tanpa membuat tanaman ikut mengalami kerusakan.
Kuncinya adalah mengendalikan ulat sejak populasinya masih sedikit. Pemeriksaan rutin, mengambil ulat secara manual, membersihkan bagian tanaman yang menjadi tempat telur, hingga menggunakan bahan alami dapat menjadi langkah awal. Berikut beberapa cara membasmi ulat daun tanpa merusak tanaman yang bisa dicoba di rumah, dirangkum Liputan6.com, Senin (5/10/2026).
Advertisement
1. Ambil Ulat Secara Manual
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309397/original/002385800_1785226530-f6a041fa-fbea-4530-9130-73555e3a8690.jpg)
Jika jumlah ulat belum terlalu banyak, cara paling sederhana adalah mengambilnya satu per satu. Periksa bagian bawah daun, batang muda, dan area yang terlindung karena ulat sering bersembunyi di tempat tersebut.
Gunakan sarung tangan saat mengambil ulat, terutama jika belum mengetahui jenis ulat yang menyerang tanaman. Ulat yang sudah dikumpulkan dapat dipindahkan jauh dari area tanaman atau dimusnahkan dengan cara yang aman.
Metode ini memang membutuhkan ketelatenan, tetapi memiliki kelebihan karena tidak meninggalkan residu pada daun. Cara ini juga cocok untuk tanaman yang jumlahnya tidak terlalu banyak.
Advertisement
2. Pangkas Daun yang Dipenuhi Telur
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308775/original/011135800_1785201108-8bb1e45a-c729-4dd3-bfc7-16bd811b1fd5.jpg)
Selain mencari ulat, periksa apakah terdapat kelompok telur pada permukaan atau bagian bawah daun. Telur biasanya memiliki bentuk dan warna yang berbeda-beda tergantung jenis serangga, sehingga pemeriksaan secara rutin lebih penting daripada mengandalkan satu ciri saja.
Jika telur atau daun yang terserang hanya berada pada beberapa bagian, pangkas bagian tersebut menggunakan gunting yang bersih. Jangan langsung memasukkan daun yang sudah dipotong ke dalam kompos karena telur atau larva masih mungkin berkembang.
Buang bagian tanaman yang terserang jauh dari area kebun agar siklus hama tidak berlanjut.
3. Semprot dengan Larutan Bawang Putih
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7739877/original/057039300_1780546552-Larutan_Bawang_Putih_dan_Air_Sabun.jpeg)
Bawang putih dapat digunakan sebagai salah satu bahan semprotan rumahan untuk membantu mengganggu keberadaan hama pada tanaman. Aromanya yang kuat membuatnya sering digunakan dalam campuran pengendalian hama berbahan nabati.
Untuk membuatnya, haluskan beberapa siung bawang putih, kemudian campurkan dengan air. Diamkan beberapa jam dan saring sebelum dimasukkan ke botol semprot. Semprotkan tipis pada permukaan daun, terutama bagian bawah daun yang sering menjadi tempat ulat bersembunyi.
Jangan membuat larutan terlalu pekat. Sebelum menyemprot seluruh tanaman, lakukan uji pada beberapa daun terlebih dahulu dan amati reaksinya. Jika daun menunjukkan tanda terbakar, menguning, atau berubah bentuk, hentikan penggunaan.
Advertisement
4. Gunakan Larutan Cabai dengan Konsentrasi Ringan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5473416/original/062828800_1768441779-Encerkan_Larutan_Sebelum_Aplikasi.jpg)
Cabai juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan semprotan nabati untuk membantu mengendalikan hama. Kandungan senyawa pedas pada cabai dapat membuat permukaan tanaman menjadi kurang menarik bagi sebagian hama.
Caranya, haluskan cabai secukupnya lalu campurkan dengan air. Setelah didiamkan, saring larutan agar ampas tidak menyumbat sprayer. Gunakan larutan dalam konsentrasi ringan dan semprotkan pada daun yang menjadi sasaran hama.
Hindari penyemprotan saat matahari sedang terik. Waktu pagi atau sore hari lebih baik untuk mengurangi risiko daun mengalami stres akibat kombinasi larutan dan panas matahari.
5. Manfaatkan Minyak Neem
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2381002/original/031368500_1539253676-Tiara_Leitzman.jpg)
Minyak neem atau neem oil merupakan salah satu bahan nabati yang banyak digunakan dalam pengendalian berbagai hama tanaman. Bahan ini dapat mengganggu beberapa tahap perkembangan serangga sehingga penggunaannya dapat menjadi bagian dari pengendalian ulat.
Gunakan produk sesuai petunjuk pada kemasan karena konsentrasi setiap produk dapat berbeda. Biasanya minyak neem perlu dicampur dengan air dan bahan pengemulsi agar dapat tercampur dengan baik sebelum digunakan sebagai semprotan.
Hindari penggunaan berlebihan. Sama seperti bahan semprot lainnya, lakukan uji pada sebagian kecil daun terlebih dahulu untuk memastikan tanaman tidak mengalami reaksi negatif.
Advertisement
6. Bersihkan Gulma di Sekitar Tanaman
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5477603/original/099435300_1768876073-Penyiangan_Manual_Rutin__Cara_Dasar_yang_Paling_Aman.jpg)
Area kebun yang terlalu rimbun dapat menjadi tempat persembunyian berbagai serangga. Gulma yang tumbuh di sekitar tanaman juga dapat menjadi tanaman inang bagi sebagian hama sebelum berpindah ke tanaman utama.
Karena itu, cabut gulma secara berkala dan bersihkan daun kering yang menumpuk di sekitar tanaman. Namun, jangan membuat area tanah menjadi benar-benar kosong jika tanaman membutuhkan penutup tanah. Fokuskan pembersihan pada gulma yang tumbuh terlalu dekat dan berpotensi mengganggu tanaman.
Lingkungan kebun yang lebih terawat juga membuat pemeriksaan hama menjadi lebih mudah.
7. Pasang Jaring Pelindung untuk Tanaman
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5474881/original/090816900_1768539867-penutup_kebun.jpg)
Jika tanaman terus-menerus diserang ulat, jaring pelindung dapat menjadi solusi pencegahan. Jaring dengan ukuran lubang yang sesuai dapat membantu menghalangi serangga dewasa mendekati tanaman dan meletakkan telur.
Cara ini sangat berguna untuk tanaman sayuran yang ditanam dalam pot, polybag, atau bedengan kecil. Pastikan jaring dipasang dengan baik sehingga tidak meninggalkan celah besar yang dapat dimasuki serangga.
Periksa tanaman secara berkala meskipun sudah menggunakan jaring. Telur atau larva bisa saja sudah berada di tanaman sebelum jaring dipasang.
Advertisement
8. Hindari Menyemprot Insektisida Secara Sembarangan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5493498/original/016226500_1770254662-Gunakan_Insektisida.jpg)
Keinginan untuk membasmi ulat secepat mungkin sering membuat pemilik tanaman menggunakan insektisida dengan dosis berlebihan. Padahal, penggunaan bahan kimia yang tidak sesuai aturan dapat menyebabkan daun terbakar dan mengganggu organisme lain yang sebenarnya bermanfaat bagi kebun.
Jika insektisida memang diperlukan, pilih produk yang sesuai dengan jenis tanaman dan hama. Ikuti dosis, frekuensi, waktu aplikasi, serta aturan keamanan yang tercantum pada label.
Untuk tanaman pangan, perhatian terhadap petunjuk penggunaan menjadi semakin penting. Jangan menganggap dosis yang lebih tinggi akan selalu membuat hama lebih cepat hilang.
9. Ciptakan Kebun yang Mendukung Musuh Alami
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5460985/original/075417100_1767330696-desain_halaman_rumah__4_.jpg)
Tidak semua serangga yang berada di kebun merupakan hama. Beberapa jenis serangga dan hewan lain justru dapat membantu mengendalikan populasi hama secara alami.
Karena itu, penggunaan pestisida secara berlebihan sebaiknya dihindari. Tanaman berbunga tertentu juga dapat membantu menyediakan sumber makanan bagi serangga yang bermanfaat.
Pendekatan ini tidak berarti ulat akan langsung hilang dalam satu atau dua hari. Namun, menjaga keseimbangan ekosistem dapat membantu mencegah ledakan populasi hama dalam jangka panjang.
Advertisement
10. Lakukan Pemeriksaan Daun Secara Rutin
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364476/original/055192700_1790997187-HL_tanaman_gantung.jpg)
Pengendalian ulat akan lebih mudah jika dilakukan sebelum jumlahnya terlalu banyak. Luangkan waktu beberapa menit untuk memeriksa daun, terutama bagian bawah dan pucuk tanaman yang masih muda.
Perhatikan tanda-tanda seperti lubang kecil, tepi daun yang menggigit, kotoran ulat berbentuk butiran kecil, daun yang menggulung, atau adanya telur pada permukaan daun. Semakin cepat tanda tersebut ditemukan, semakin mudah tindakan pengendalian dilakukan.
Pemeriksaan rutin juga memungkinkan pemilik tanaman mengetahui metode mana yang paling efektif. Jika ulat hanya ditemukan pada satu atau dua tanaman, pengambilan manual mungkin sudah cukup tanpa perlu menggunakan semprotan.
Pertanyaan Seputar Cara Membasmi Ulat Daun
Apakah ulat daun bisa dibasmi tanpa pestisida?
Bisa, terutama jika populasinya masih sedikit. Pengambilan manual, pemangkasan bagian yang memiliki telur, menjaga kebersihan area tanaman, penggunaan jaring, serta beberapa bahan nabati dapat menjadi pilihan. Jika serangan sudah berat, pengendalian mungkin membutuhkan metode tambahan yang lebih terukur.
Apakah bawang putih aman untuk semua tanaman?
Belum tentu. Larutan yang terlalu pekat dapat menyebabkan daun mengalami kerusakan pada sebagian tanaman. Karena itu, lakukan uji pada beberapa daun terlebih dahulu sebelum menyemprotkannya ke seluruh tanaman.
Kapan waktu terbaik menyemprot tanaman untuk mengatasi ulat?
Pagi atau sore hari umumnya lebih baik dibandingkan saat matahari sedang terik. Selain mengurangi risiko daun mengalami stres karena panas, waktu tersebut juga membantu menghindari penguapan larutan yang terlalu cepat.
Mengapa ulat muncul lagi setelah dibasmi?
Ulat bisa muncul kembali karena telur masih berada di tanaman atau terdapat serangga dewasa yang kembali meletakkan telur. Karena itu, membasmi ulat saja tidak cukup. Pemeriksaan telur, kebersihan area kebun, dan pencegahan masuknya serangga perlu dilakukan secara bersamaan.
Apakah daun yang sudah berlubang akibat ulat masih bisa tumbuh?
Jika kerusakannya ringan, tanaman biasanya masih dapat melanjutkan pertumbuhan. Namun, daun yang kerusakannya sangat parah dapat mengurangi kemampuan tanaman melakukan fotosintesis. Setelah hama dikendalikan, fokus berikutnya adalah menjaga tanaman mendapatkan air, nutrisi, dan cahaya yang sesuai.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365046/original/083732600_1791097921-cek_fakta_sapi_bebek.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5360863/original/067393500_1758767787-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-09-25T090726.096.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343958/original/032352600_1788928394-HOAX__14_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2845750/original/003475400_1562319949-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5474880/original/076218100_1768539866-ulat_di_kebun.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361300/original/000394000_1790692999-WhatsApp_Image_2026-09-29_at_9.36.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360089/original/_Langkah_Membumi_mengajak_mahasiswa_mempraktikkan_pemilahan_sampah_berdasarkan_kategori_organik__anorganik_dan_residu_dalam_Waste_Sorting_Competition_yang_berlangsung_sepanjang_Bulan_September_202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360261/original/089333200_1790604449-1790416230.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4938388/original/037330400_1725618752-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_6.54.31_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5370102/original/016132800_1759489345-gla1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5493940/original/096490700_1770272514-Membersihkan_Got.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315076/original/040729300_1785826533-3b030088-5842-4dd0-8a23-147b3dca5029.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5371486/original/011163300_1759659889-def6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5456968/original/059102500_1766982723-SnapInsta-Ai_3720053977506767582.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365229/original/061768400_1791162023-2843dacf-0fe8-4604-8bdd-ad61c521e589.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5750816/original/056636900_1778651360-Penyiraman_Rutin___Konsisten.jpg)