Mentan Amran Sebut Harga Telur Mulai Turun Usai Koordinasi dengan Kabareskrim

Mentan Amran sebut harga telur mulai turun usai koordinasi dengan Kabareskrim. Pemerintah siapkan pakan lebih murah hingga pabrik tepung telur.

Diterbitkan 27 Oktober 2026, 13:54 WIB
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Harga telur konsumen turun setelah koordinasi Mentan dan Polri.
  • Pemerintah dukung peternak dengan pakan murah dan subsidi jagung.
  • Pabrik tepung telur akan dibangun untuk kurangi impor dan perkuat hilir.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut harga telur ayam di tingkat konsumen mulai mengalami penurunan setelah pihaknya berkoordinasi dengan Kabareskrim Polri untuk menangani anomali harga.

Bersamaan dengan langkah tersebut, pemerintah memperkuat dukungan bagi peternak melalui penyediaan bahan baku pakan dengan harga lebih terjangkau. Pembangunan pabrik tepung telur juga disiapkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Hal itu disampaikan Amran dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Pangan di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (26/10/2026). Menurutnya, koordinasi dengan aparat penegak hukum sudah mulai ditindaklanjuti dan memberikan dampak terhadap harga yang dibayarkan konsumen.

“Alhamdulillah terima kasih Pak Kabareskrim, juga Pak Polri, kami sudah bicara, sudah mulai menindak. Baru diumumkan harga sudah turun. Jadi harga turun di konsumen. Nah jadi ini kabar baik,” kata Mentan Amran.

Soroti Selisih Harga Telur di Peternak dan Konsumen

Mentan Amran menjelaskan, anomali harga terlihat dari kesenjangan antara harga telur di tingkat peternak dan konsumen. Harga telur di tingkat peternak berada pada kisaran Rp20.000–Rp21.000 per kilogram, sedangkan di tingkat konsumen mencapai Rp40.000–Rp45.000 per kilogram.

“Telur ayam surplus, bahkan ekspor. Tapi di tingkat peternak itu harga telur ayam Rp20.000–Rp21.000 per kilogram. Harusnya Rp26.000 dan Rp30.000. Tetapi juga ironisnya di konsumen Rp40.000–Rp45.000. Ini di atas harga eceran tertinggi. Ada anomali,” ujar Mentan Amran.

Untuk membantu peternak, pemerintah menyiapkan langkah jangka pendek melalui dukungan bahan baku pakan. Pemerintah membeli bahan baku pakan berupa bungkil kedelai untuk disalurkan langsung kepada peternak dengan harga Rp8.630 per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga swasta yang berkisar Rp10.000–Rp12.000 per kilogram.

“Solusi yang kami lakukan yang jangka pendek kepada peternak, pertama SPHP (jagung). Kemudian pemerintah yang membeli pakan soybean itu langsung ke peternak, harganya Rp8.630 per kilogram. Sedangkan swasta Rp10.000, Rp11.000, Rp12.000,” ungkap Mentan Amran.

Pemerintah juga menyalurkan jagung melalui skema Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog bagi peternak kecil dengan subsidi pemerintah. Langkah ini ditujukan untuk membantu peternak memperoleh bahan baku pakan dengan harga lebih terjangkau.

Siapkan Pabrik Tepung Telur Bersama BUMN

Di sisi hilir, pemerintah menyiapkan pembangunan pabrik tepung telur bersama badan usaha milik negara (BUMN). Pembangunan fasilitas ini diharapkan memperkuat industri pengolahan hasil peternakan dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor tepung telur.

“Karena ada impor telur, tepung telur dari negara lain, insyaallah kita akan bangun bersama BUMN. Mudah-mudahan satu tahun selesai, impornya nanti kita stop,” ujarnya.

Rangkaian kebijakan tersebut diarahkan untuk membenahi sektor perunggasan dari hulu hingga hilir. Pemerintah menangani anomali harga, membantu menekan biaya produksi peternak, dan mendorong pengembangan industri pengolahan agar produksi dalam negeri memberikan nilai tambah lebih besar.

Kementerian Pertanian terus mendorong penguatan sektor perunggasan nasional agar surplus produksi dapat memberikan manfaat bagi peternak, sementara konsumen memperoleh pangan dengan harga yang wajar.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6