Makna Syal Save Palestine di Kepengurusan Baru PBNU

Para pengurus baru PBNU tampak kompak mengenakan syal bertuliskan "Save Palestine".

Diterbitkan 01 Oktober 2026, 08:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • PBNU umumkan struktur kepengurusan baru 2026-2031 pada 30 September 2026.
  • Pengurus PBNU kenakan syal 'Save Palestine' sebagai bentuk dukungan kebebasan Palestina.
  • Jumlah pengurus PBNU bertambah menjadi 210 orang untuk pemerataan keterwakilan.

Liputan6.com, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi mengumumkan struktur kepengurusan masa khidmah 2026-2031 pada Rabu, 30 September 2026 malam. Ada momen menarik setelah seluruh jajaran kepengurusan dibacakan oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh.

Para pengurus tampak kompak mengenakan syal bertuliskan "Save Palestine".

Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menjelaskan bahwa penggunaan syal tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap kebebasan Palestina. Menurut dia, isu Palestina bukan hal baru bagi PBNU dan telah menjadi perhatian organisasi sejak masa awal berdirinya NU.

"Ini sebetulnya ini memang isu yang belakangan, ini kan isu yang sudah sangat lama," ujar Gus Kikin usai konferensi pers, Rabu malam, 30 September 2026.

Gus Kikin menyebut perhatian terhadap Palestina telah disuarakan sejak masa KH Hasyim Asy'ari, salah satu pendiri NU. Karena itu, ia menilai dukungan tersebut perlu kembali digaungkan.

"Ini sejak dari tahun-tahun 1938, 1939 itu zaman Kiai Hasyim Asy'ari, Hadratussyeikh sebagai muassis NU, dulu sudah menyuarakan untuk memerdekakan Palestina. Nah, kita lanjutkan lagi," jelas Gus Kikin.

 

Susunan Pengurus PBNU 2026-2031

Dalam konferensi pers yang sama, Gus Kikin menjelaskan komposisi kepengurusan baru PBNU. Jumlah pengurus meningkat dibandingkan hasil Muktamar NU sebelumnya, dengan tujuan memperluas keterwakilan dalam struktur organisasi.

"Secara keseluruhan hasil muktamar di Lampung seluruh jajaran pengurus PBNU 189 orang, dan yang sekarang total semuanya 210 orang, mengalami kenaikan sebesar 21 orang. Ini dimaksudkan kita ingin ada pemerataan," ujar Gus Kikin.

Ia menjelaskan, pemerataan tersebut mencakup keterwakilan dari berbagai generasi, jajaran, serta lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Sejumlah unsur badan otonom, seperti Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Gerakan Pemuda Ansor, turut diperhatikan dalam penyusunan kepengurusan baru.

"Sehingga semuanya kira-kira kurang lebih kita dari tiga unsur itu ditambah dengan unsur-unsur yang lain itu kita seimbang semuanya. Oleh karena itu kita butuh waktu, kita memanfaatkan waktu yang diberikan, yang diamanahkan dari hasil muktamar itu selama 1 bulan," papar Gus Kikin.

Setelah itu, susunan kepengurusan PBNU dibacakan secara lengkap oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh.

Dalam struktur baru tersebut, sejumlah tokoh masuk dalam jajaran pimpinan PBNU. Salah satunya Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul yang dipercaya sebagai Wakil Ketua PBNU.

Selain itu, mantan Wakil Presiden ke-13 Ma'ruf Amin masuk dalam jajaran Mustasyar. Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla juga tercatat sebagai Mustasyar PBNU.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6