4.922 Sekolah Terdampak Bencana Sumatera Kembali Gelar Pembelajaran

Ribuan sekolah terdampak bencana di tiga provinsi Sumatera sudah kembali menggelar pembelajaran, meski rehabilitasi masih berlanjut.

Diterbitkan 23 September 2026, 20:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • 4.922 sekolah terdampak bencana telah kembali melaksanakan pembelajaran.
  • Mendagri Tito Karnavian pantau pemulihan pendidikan di tiga provinsi.
  • Rehabilitasi masih perlu karena kendala geografis, akses, dan material.

Liputan6.com, Jakarta - Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera mencatat sebanyak 4.922 sekolah terdampak bencana telah kembali melaksanakan pembelajaran.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian selaku Ketua Satgas PRR terus memantau percepatan pemulihan fasilitas pendidikan terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).

Dalam Rapat Koordinasi Perkembangan Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Provinsi Aceh, Sumut, dan Sumbar di Bidang Pendidikan, Tito mendengarkan paparan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengenai progres pemulihan pendidikan di tiga provinsi terdampak.

Hingga 22 September 2026, sebanyak 4.922 sekolah terdampak bencana telah kembali melaksanakan pembelajaran.

"Keberlanjutan proses belajar mengajar menjadi salah satu capaian penting dalam pemulihan pendidikan pascabencana," ujar Tito di Posko Satgas PRR, Kantor Kemendagri, Rabu (23/9/2026).

Dia melanjutkan, meski jumlah sekolah terdampak mencapai ribuan, proses pembelajaran telah kembali berjalan di seluruh sekolah terdampak.

"Tadi good news-nya tidak ada yang total semuanya di tenda seperti dulu. Sudah selesai, tinggal dua saja yang masih sebagian di tenda karena tidak mencukupi," ucap Tito.

 

Tetap Perlu Rehabilitasi dan Rekonstruksi

Tito mengatakan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi tetap perlu dilakukan mengingat masih terdapat sejumlah sekolah yang menghadapi kendala pembangunan.

"Perbedaan kondisi geografis, kerusakan akses, ketersediaan material, hingga bencana susulan turut memengaruhi kecepatan pemulihan di setiap daerah," terang dia.

"Jadi memang sekali lagi jumlahnya karena jumlahnya masif yang 4.922 (sekolah), tidak mungkin diselesaikan dalam waktu yang sangat cepat," ujar Tito.

Untuk mempercepat penyelesaian pembangunan sekolah tersebut, Tito meminta adanya pendampingan intensif, khususnya terhadap sekolah dengan progres fisik di bawah 50 persen.

Satgas PRR juga akan mengoordinasikan berbagai kendala yang masih dihadapi pemerintah daerah (pemda) bersama kementerian/lembaga terkait.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6