Fresh Graduate Ungkap Sulitnya Cari Kerja Sesuai Jurusan

Selain kesesuaian bidang, kualifikasi pendidikan menjadi salah satu tantangan yang dirasakan Ikrom saat mencari pekerjaan.

Diterbitkan 23 September 2026, 18:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan tentu menjadi impian sebagian orang. Salah satunya Ikrom (23), lulusan Teknik Sipil Universitas Brawijaya. Namun, impian tersebut tidak mudah diwujudkan karena ia masih kesulitan menemukan lowongan kerja yang sesuai dengan bidang pendidikannya.

Ikrom mengaku sudah beberapa kali mendatangi job fair untuk mencari pekerjaan. Namun, hingga mengikuti Job Fair Jakarta Barat, dia masih kesulitan menemukan lowongan yang sesuai dengan bidang yang ingin digelutinya.

Ia mengaku ingin bekerja di industri konstruksi, proyek, atau bidang manufaktur yang masih berkaitan dengan latar belakang pendidikannya. Namun, dari sejumlah lowongan yang ditemuinya, belum ada posisi yang benar-benar sesuai dengan bidang tersebut.

“Sebenarnya saya nyari yang sesuai sama industri saya, industri konstruksi gitu atau manufaktur, kan. Iya, nyari industri yang kayak mungkin industri konstruksi atau proyek, gitu, kan. Tapi saya nyari sih masih belum ada,” kata Ikrom di Job Fair Jakarta Barat, Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (23/9/2026).

Ikrom datang ke job fair tersebut sejak pukul 08.00 WIB bersama sepupunya yang juga mencari kerja. Ikrom merupakan fresh graduate yang baru lulus pada Juli 2026 dan memiliki pengalaman magang selama enam bulan di salah satu BUMN bidang konstruksi.

 

 

Memanfaatkan Peluang

Meski belum menemukan posisi yang sesuai di Job Fair Jakarta Barat, Ikrom tetap mencoba memanfaatkan peluang yang ada. Bahkan, ia sempat membuat dan mengedit CV secara dadakan setelah menemukan lowongan yang dianggap menarik.

“Ini tadi sih kita udah sempat kayak bikin CV dadakan karena ngelihat, ‘Ih, ini posisi yang cocok nih.’ Kita bikin CV, entar ada posisi yang cocok lagi, bikin CV, ngedit-nyedit gitulah,” ujarnya.

Bagi Ikrom, job fair juga memberi keuntungan karena pencari kerja bisa bertanya langsung kepada perusahaan mengenai posisi dan cara melamar. Hal itu dinilainya lebih memudahkan dibandingkan harus mencari informasi lowongan secara mandiri melalui situs perusahaan.

“Kalau menurut saya sih lumayan ngebantu banget ya ada job fair karena kan kita kalau misalkan datang ke booth-booth gini langsung kan kita bisa tahu posisi yang tersedia tuh apa, terus juga bisa tahu website ataupun tempat untuk kita ngelamar tuh di mana,” jelas Ikrom.

Meski begitu, Ikrom mengatakan kualifikasi pendidikan menjadi persoalan lain yang kerap dihadapi pencari kerja. Pasalnya, tidak semua lowongan dapat diakses oleh pencari kerja dengan latar belakang pendidikan berbeda sehingga pilihan pekerjaan yang tersedia bisa menjadi lebih terbatas.

“Kan kadang pendidikan kita, iya ada yang SMA, SMK, tapi juga ada yang khusus D3 atau S1. Nah itu kadang jadi kesenjangan lah buat yang mau nyari kerja yang mungkin dia hanya lulusan SMA, tapi mungkin mau bekerja di bidang itu sih,” ucap dia.

Oleh karena itu, Ikrom berharap job fair ke depan dapat menghadirkan lebih banyak jenis industri dan posisi sehingga pencari kerja dengan beragam latar belakang pendidikan memiliki peluang yang lebih luas.

“Semoga nanti bisa lebih beragam lagi lah jenis industri dan perusahaan penerima kerjanya, jadi daya tampungnya lebih banyak,” kata Ikrom.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6