Gandeng Ibu ke Job Fair, Cerita Pemuda 19 Tahun Buang Gengsi Demi Masa Depan

Reza (19) berjuang mencari kerja di TKM Expo 2026 didampingi sang ibu. Dari kurir hingga belajar AI, begini perjuangan ibu dan anak demi kemandirian finansial.

Diterbitkan 24 Oktober 2026, 18:40 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah riuh stan perusahaan yang memadati Karir Jakarta dan Tenaga Kerja Mandiri (TKM) Expo 2026 di SMESCO, Jakarta Selatan, Reza (19) melangkah mantap. Di sampingnya, sang ibu setia mendampingi.

Keduanya beranjak dari Kota Tangerang sejak pukul pagi demi satu misi: mengamankan pekerjaan tetap dan menyusun fondasi masa depan Reza sedini mungkin.

Bagi pemuda seusianya, masa kuliah kerap dihabiskan dengan fokus pada kegiatan kampus semata. Namun, Reza memilih jalan berbeda. Lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) yang kini berkuliah di jurusan Manajemen Universitas Terbuka (UT) ini merancang strategi hidupnya dengan matang.

Demi bisa bekerja full-time, Reza bahkan berani mengambil keputusan besar dengan berpindah dari jalur kuliah reguler di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) ke UT.

Berbekal pengalaman magang selama tiga bulan di PT GMF AeroAsia, ia paham betul bahwa persaingan dunia kerja tak bisa dihadapi dengan santai.

"Saya tahu ke depannya persaingan makin ketat, enggak bisa santai-santai terus. Makanya disiapkan dari awal," ujar Reza saat ditemui Liputan6.com, dikutip Sabtu (24/10/2026).

"Kalau nanti sudah lulus S1 dan punya bekal pengalaman kerja, peluang diterimanya jauh lebih besar dibandingkan lulusan baru yang belum punya pengalaman sama sekali."

 

Anti-Gengsi: Dari Kurir Ekspedisi hingga Ditempa Ghosting

Sembari menunggu panggilan kerja, Reza menolak untuk berpangku tangan. Pemuda ini tetap produktif menjemput rezeki dengan menjadi kurir paket ekspedisi daring. Baginya, tak ada tempat untuk gengsi selama pekerjaan tersebut halal dan melatih kedisiplinan.

Sikap realistis itu juga membuatnya fleksibel. Reza tak membatasi diri pada lowongan yang harus sebangun dengan jurusan sekolahnya. Motivasi utamanya lugas dan jujur: mencapai stabilitas finansial.

"Jujur, saya belum kepikiran industri apa yang paling disukai. Asal penghasilannya jelas, saya mau. Tujuan utamanya simpel, ingin punya kestabilan finansial sedini mungkin biar masa tua tenang," tegasnya.

Perjalanan itu tentu tak selalu mulus. Berkas lamaran yang dikirim via platform digital kerap berakhir tanpa kepastian alias di-ghosting. Namun, Reza menyikapinya dengan kepala dingin. Penolakan justru ia jadikan cermin untuk mengevaluasi diri agar tampil lebih baik pada wawancara berikutnya.

 

Sang Ibu: Mentor Kehidupan yang Ikut Belajar AI

Kematangan berpikir Reza tak lepas dari hadirnya sang ibu. Di arena pameran, sang ibu bukan sekadar pendamping, melainkan rekan diskusi dan mentor kehidupan. Ia terus menyemangati Reza untuk berani mencoba setiap peluang sebagai sarana "mengetes ombak" di pasar kerja.

"Kalau kualifikasinya masih di level awal, kita belum bisa terlalu memilih. Ambil peluang yang ada dulu, kerja apa saja yang penting halal dan ada pembelajarannya," tutur sang ibu penuh kehangatan.

Menariknya, teladan itu ditunjukkan langsung oleh sang ibu. Agar tetap relevan dan tak kalah bersaing di era digital, sang ibu bahkan turut mempelajari teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

"Saya selalu bilang ke anak, hidup dari muda sampai tua itu tidak ada hentinya untuk belajar. Saya sendiri sekarang ikut belajar AI supaya tidak kalah saing dan tergeser dengan anak-anak muda. Kalau berhenti belajar, kita pasti tertinggal," tambahnya.

Menjelang siang, usai meluruskan kaki dan merapikan kembali berkas lamaran, ibu dan anak itu kembali bersiap menyusuri stan-stan yang tersisa. Di antara deretan riuh pencari kerja, hadirnya Reza dan sang ibu menjadi potret hangat tentang keberanian meruntuhkan gengsi, sikap realistis, dan eratnya kolaborasi keluarga dalam menyongsong masa depan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6