Kisah Sejam Bersama Arbas dan Sebuah Pesan: Jangan Pernah Sombong

Meski memenangkan banyak perlombaan, Arbas tak sungkan melihat karya fotografer lainnya.

Diterbitkan 23 September 2026, 06:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kalau ada tipe manusia yang banyak diam tapi sekali bicara isinya dalam, itulah Arie Basuki. Jika sedang di kantor, Arbas, sapaan akrabnya, lebih sering duduk diam. Kalaupun bergerak, mungkin minum kopi atau merokok. Tetapi ketika berbincang, apalagi bicara fotografi, lawan bicaranya akan segera memahami, dia bukan sembarang orang.

Dalam khasanah fotografi Indonesia, Arbas dikenal sering memenangi berbagai penghargaan. Dia satu dari sedikit fotografer di Indonesia yang pernah meraih anugerah World Press Photo (WPP).

Arbas menang untuk kategori honorable mention wilayah Asia Tenggara dan Oceania Tahun 2024. World Press Photo adalah kompetisi foto jurnalistik internasional tahunan yang sangat bergengsi.

"Alhamdulillah bisa masuk," kata Arbas beberapa hari setelah diumumkan sebagai pemenang World Press Photo. Saya mengenang momen ketika berbincang dengan Arbas pada Podcast Merdeka, Juli 2024. 

Arbas bersama 4 jurnalis lainnya dan 3 kru speedboat Arupadathu 1 dinyatakan hilang kontak saat meliput letusan Gunung Anak Krakatau, Senin (7/9/2026). Hingga proses pencarian besar-besaran oleh Basarnas dan berbagai pihak dihentikan, masih belum ada tanda-tanda keberadaan Arbas dkk.

Senyum kecil beberapa kali menyelinap di tengah obrolan. Meskipun tampak pendiam, obrolan dengan Arbas mengalir tanpa sekat. Ilmu dan pengalaman dia bagi tanpa syarat. Bila sudah terlalu serius, Arbas melempar guyonan untuk mencairkan suasana.

Menjadi nominasi WPP bukan hal mudah. Arbas sampai lima kali mencoba. Jika sebelumnya gugur di proses seleksi, kali ini berbeda. Februari 2024 panitia memberikan email balasan. Nama Arbas ada di antara 24 dari 3.850 fotografer jurnalistik dunia yang mengikuti kompetisi tersebut. Fotonya berjudul 'Pollution in the Cileungsi River' terpilih di antara 60.000 file diterima panitia.

"Setelah daftar satu bulan udah mulai dikabari, diminta file asli tujuh frame itu. Udah mulai deg-degan tu. Terus setelah satu minggu, saya dikabarkan Anda masuk dalam kategori honorable mention," kenang Arbas. Sebagai rekan sekantor, tentu saya ikut bangga dengan capaian Arbas.

Di kantor, penghargaan untuk Arbas ini dirayakan dengan sukacita. Arbas kebanjiran ucapan selamat lewat pesan singkat di grup. Dengan gaya khasnya dia membalas "terima kasih honey.. honey.."

Bang Honey menjadi panggilan 'sayang' teman-teman wartawan pada Arbas.

 

Arbas kemudian terbang ke Belanda untuk menerima penghargaan. Para pemenang juga berkesempatan memanjang hasil jepretannya di gedung World Press Photo.

WPP sebenarnya bukan satu-satunya penghargaan kelas internasional yang pernah diraih Arbas selama menekuni prosesi fotografer jurnalistik. Sebut saja, Achieve Special Mentions at WHO International Photo Competition held by World Health Organization in New York (2007), Asian Press Photo (2022), APEC Photo Contest by APEC of Singapore (2022) dan masih banyak lagi.

Arbas bercerita, setiap foto karyanya tidak terjadi tiba-tiba. Biasanya, dia melakukan riset untuk menentukan lokasi dan angle pemotretan. Seperti foto yang dikirimkan di WPP 2024, Arbas melakukan riset 3 hari sampai memutuskan datang ke lokasi.

Kepada saya, Arbas bercerita kalau profesi fotografer sudah dipilihnya sejak di bangku kuliah. Profesi ini sebenarnya bertolak belakang dengan jurusan ditekuni. Arbas kuliah di Universitas Udayana, Denpasar. Dia mengambil Antropologi. Pemahamannya terhadap Antropologi sangat mumpuni. Dia bisa bercerita tentang buku Folklor Indonesia karangan James Danandjaja secara mendetail.

Tetapi, bagi Arbas seni dalam lensa lebih menarik perhatian selepas lulus. Dia mulai tekun mengulik segala sesuatu perihal fotografi.

"Sekitar tahun 97-98 pas kuliah semester 7 lah aku udahmulai. Jadi kuliah nyambi-nyambi fotografer jurnalistik. Dan aku tuh orangnya pengen tahu saja, pengen tahu sesuatu yang baru. Termasuk dengan fotografer jurnalistik. Jadi, aku belajar otodidak," kenangnya.

Saking haus ilmu berkaitan fotografi, Arbas meluangkan waktu khusus untuk mendatangi perpustakaan dan toko buku untuk memperdalam pengetahuannya. Bertahun-tahun mengasah kemampuan, hingga akhirnya Arbas benar-benar jatuh cinta para fotografi dan memilih bekerja sebagai pewarta foto.

Tak peduli betapa lelahnya dia harus memanggul set tas ransel hitam berisi 7-10 kg peralatan foto setiap hari. Berapa kilometer jalanan harus ditempuh. Fotografi sudah menyatu di dirinya.

Sudah 20 tahun Arbas menggeluti profesi ini. Mendengar berbagai pengalamanannya, saya melihat betapa Arbas ingin terus belajar. Buatnya, insting dalam menangkap momen harus terus diasah dan penting dipelajari.

"Ternyata foto jurnalistik cukup-cukup mengasyikkan dan menantang. Fotografer jurnalistik itu harus melibatkanperson di situ, individu, orang. Jadi istilahnya lebih humanis," katanya.

Arbas memang selalu mengisi foto-foto karyanya dengan pesan. Arbas mengakui, menjadi seorang fotografer tak bisa sekadar menjepret momen tanpa cerita yang kuat. Tak heran, foto Arbas memiliki ciri khas. Kekhasan itulah yang membuat banyak panggung juara dinaiki Arbas.

Arbas membagikan sedikit trik sederhana ketika dia sedang memotret di momen apapun. Sebagai pembawa pesan untuk pembaca, dia ingin fotonya punya cerita, dan cerita yang baik menurut dia akan muncul dari hati. Jika hal itu dipertahankan, maka foto yang dihasilkan berbeda dengan lainnya.

"Bagi saya foto itu kita harus istilahnya dengan hati, dengan touchy saja. Kalau kita udah masuk ke dalam rasa yang nyaman seperti dengan kita yang kita foto, itu Insya Allah kita bisa dapat foto yang bagus. Dengan penguasaan komposisi, lighting, segala macam. Jadi pesan yang akan disampaikan akan masuk ke dalam foto itu," kata Arbas.

Setiap foto memiliki cerita berbeda. Begitupun dalam proses pengambilannya. Alasan itulah yang membuat Arbas tak pernah ragu tetap mengirimkan karyanya di setiap perlombaan. Bagi Arbas, perlombaan tak sekadar soal kemenangan. Dia ingin memastikan, karya tetap dapat diterima di tengah bermunculannya fotografer-fotografer baru.

"Rencana setelah ini ya masih motret di lapangan dan kita kita mencoba sesuatu foto yang baru. Karena kita fotografer ditantang untuk challenge. Makanya mau enggak mau kita harus perbanyak dengan riset dan dengan riset itu kita kita Insya Allah akan menemukan sesuatu yang baru," ujarnya.

Tak kalah penting, kata Arbas, menjadi seorang fotografer berkarakter adalah kekuatan. Arbas menekankan, sederet capaian jangan pernah membuat diri kita menjadi sombong. Arbas bahkan tak sungkan untuk melihat karya-karya fotografer lainnya.

"Aku sampai sekarang itu aku masih ngelihat karya-karya foto orang lain untuk pengayaan visualitas aku. Jadi satu kita jangan sombong gitu saja," ujar Arbas.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6