Catatan Ilmiah Galodo Solok, di Sana Kebakaran Hutan di Sini Banjir Bandang

Curah hujan 94 mm/hari di musim kemarau memang ekstrem, namun mengapa aliran air bisa berkembang menjadi galodo, itu perlu ditelisik.

Diterbitkan 23 September 2026, 10:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

 

Liputan6.com, Jakarta - Banjir bandang yang menerjang Solok Sumbar memakan korban jiwa. Dari dua orang yang dilaporkan hilang, satu di antaranya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Sebelumnya banjir bandang menerjang Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, pada Senin malam (21/9/2026) sekitar pukul 19.30 WIB. Banjir menerjang setelah wilayah itu diguyur hujan dengan intensitas tinggi.

Pemkab Solok saat ini telah menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari, per Selasa, 22 September 2026. Penetapan status tersebut diputuskan dalam rapat koordinasi yang diikuti Bupati Solok Jon Firman Pandu bersama jajaran pemerintah daerah dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Solok. Tujuannya untuk mempercepat penanganan dampak banjir bandang yang melanda daerah tersebut.

"Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama. Seluruh jajaran diminta untuk terus bekerja secara cepat, terpadu dan responsif dalam menangani dampak bencana serta memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan dan bantuan yang dibutuhkan," kata Bupati Solok Jon Firman Pandu, Selasa (22/9/2026), kemarin.

Sementara itu, terkait adanya anomali cuaca berupa hujan ekstrem lokal di wilayah Solok, yang menjadi pemicu banjir bandang, Daryono, Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) menjelaskan, curah hujan 94 mm/hari memang menjadi pemicu, namun mengapa aliran air bisa berkembang menjadi galodo yang membawa begitu banyak material, hal itulah yang perlu ditelisik.

"Perlu dianalisis kondisi daerah aliran sungai di hulu, bagaimana kemiringan lereng, kejenuhan tanah, longsoran, sedimentasi, material lepas di alur sungai, tutupan lahan, serta konsentrasi limpasan. Jadi tidak tepat langsung menyimpulkan bahwa hujan adalah satu-satunya penyebab," kata Daryono.

Dirinya menegaskan, galodo Solok menunjukkan paradoks yang sebenarnya lazim dalam meteorologi, yakni satu bulan wilayah tertentu bisa lebih kering dari normalnya, namun dalam satu hari tetap dapat terjadi hujan lebat 94 mm yang bisa memicu bencana.

"Kemarau/bawah normal adalah statistik musim atau bulanan, bukan jaminan tidak terjadi hujan ekstrem harian," ungkapnya.

Jadi dengan analisis singkat dapat digambarkan rantai proses terjadinya galodo: Hujan ekstrem->kemiringan lereng->Daerah Aliran Sungai (DAS)->Galodo.

Daryono menjelaskan, hujan lebat dengan akumulasi sekitar 94 mm/hari membuat suplai air ke DAS meningkat cepat. Hujan yang berlangsung beberapa jam menyebabkan infiltrasi sekaligus limpasan permukaan meningkat, ketika kemampuan tanah menyerap air terlampaui, air langsung terkonsentrasi menuju alur sungai.

"Daerah hulu Solok memiliki topografi perbukitan–pegunungan dengan lereng relatif curam. Lereng curam mempercepat aliran permukaan dan memberikan energi gravitasi besar sehingga air mampu mengerosi serta mengangkut tanah, batu, dan kayu menuju sungai," katanya.

Hujan yang terus berlangsung, kata Daryono, bisa mengisi pori-pori tanah hingga mendekati jenuh. Tekanan air pori meningkat sehingga kekuatan geser tanah menurun, akibatnya lereng menjadi lebih mudah mengalami longsor.

Longsor di lereng/hulu dapat memasukkan tanah, batu, pohon dan material lainnya ke dalam alur sungai. Inilah yang membedakan galodo dari sekadar banjir air biasa, alirannya dapat berubah menjadi campuran air dan material padat dengan daya rusak jauh lebih besar.

"Jika sebelumnya sudah terdapat endapan pasir, kerikil, bongkah, kayu atau material longsoran di dasar dan tebing sungai, kenaikan debit mendadak dapat memobilisasi kembali material tersebut, menambah volume dan energi aliran galodo," katanya.

Kondisi tutupan vegetasi memengaruhi kemampuan DAS menahan hujan. Berkurangnya vegetasi atau terganggunya permukaan tanah dapat menurunkan intersepsi dan infiltrasi serta meningkatkan erosi dan limpasan. Namun, kontribusi perubahan tutupan lahan pada kejadian Solok harus dibuktikan dengan data penggunaan lahan, sehingga jangan langsung disebut sebagai penyebab tanpa analisis.

Air dari banyak lereng dan anak sungai akhirnya berkumpul pada lembah dan alur sungai utama. Pada DAS yang curam, waktu konsentrasinya pendek sehingga debit dapat naik sangat cepat. Jika bersamaan dengan suplai material longsoran dan sedimen, terbentuklah aliran deras bermuatan lumpur, batu dan kayu, galodo," katanya.

Daryono menegaskan, hujan lebat memang pemicu meteorologis, namun lereng curam, kondisi tanah jenuh, longsoran, ketersediaan material lepas, kondisi DAS yang cepat mengonsentrasikan limpasan, menentukan seberapa besar galodo terbentuk.

"Untuk Solok, faktor tutupan lahan dan besarnya kontribusi masing-masing proses, masih perlu diverifikasi dengan survei DAS dan data di lapangan," katanya.