Abu Anak Krakatau Sampai Jakarta, Warga Mengeluh Udara Lebih Sesak

Gunawan juga merasa menghirup udara pagi ini lebih sesak dari kondisi normal.

Diterbitkan 06 September 2026, 08:28 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Warga Jakarta keluhkan debu tebal tak biasa di rumah mereka pada Minggu pagi.
  • BMKG konfirmasi debu tersebut adalah abu vulkanik dari erupsi Anak Krakatau.
  • Abu vulkanik menyebar luas hingga Jakarta, Banten, Jabar, Lampung, dan Bengkulu.

Liputan6.com, Jakarta - Warga Jakarta Selatan, Gunawan ikut mengeluhkan debu tebal saat keluar rumah pada Minggu (6/9/2026) pagi. Debu tebal yang menyelimuti lantai rumah Gunawan tidak seperti biasanya.

"Di lantai banyak debu. Aneh kan," kata Gunawan kepada Liputan6.com.

Gunawan lantas membuka media sosial dan mesin pencarian untuk melihat fenomena tersebut. Dia menemukan jawaban, ternyata banyak masyarakat mengalami kondisi serupa akibat abu vulkanik Anak Krakatau.

"Cari-cari info di google dan media sosial, ternyata ada dampak abu vulkanik. Nah lihat status teman, banyak yang juga terdampak," ujar Gunawan.

Selain itu, Gunawan juga merasa menghirup udara pagi ini lebih sesak dari kondisi normal. Dia khawatir, keluarganya terjangkit ISPA bila udara Jakarta terdampak abu Anak Krakatau.

"Lebih sesak, semoga Pemprov DKI segera modifikasi cuaca bikin hujan buatan. Kasian juga mas anak anak kecil takut kena ISPA,"

Abu vulkanik Anak Krakatau turut dirasakan Eko, warga Cilangkap, Jakarta Timur. Debu tersebut terlihat di halaman rumahnya pada Minggu pagi (6/9/2026), meski area tersebut baru dibersihkan pada Sabtu (5/9/2026) malam.

Eko mengatakan, kondisi halaman rumahnya kembali berdebu saat dia bangun pada waktu Subuh.

"Semalam baru nyuci kendaraan, bersihin teras rumah. Waktu bangun Subuh udah ngeres lagi, semua berdebu," ujar Eko.

Menurut Eko, ketebalan debu kali ini berbeda dari kondisi normal. Dia mengatakan, debu biasanya tidak menumpuk sebanyak itu hanya dalam waktu semalam.

"Ini berasa banget, soalnya semalem bagian depan rumah dibersihin dan kendaraan dicuci. Sepengalaman gue kalau kondisi normal, enggak setebal ini debunya dalam waktu semalam," jelas Eko.

 

Abu Anak Krakatau Masuk Jakarta

Sebelumnya, abu vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan mencapai sebagian wilayah Jakarta pada Minggu (6/9/2026).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat terdapat dua klaster sebaran abu vulkanik berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9.

"Berdasarkan infomasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada 6 September 2026 pukul 05.00 WIB, teridentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau," tulis BMKG dalam keterangannya.

Klaster pertama teramati dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki. Sebarannya bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.

"Mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat serta perairan sekitarnya," papar BMKG.

 

Sebaran Abu hingga Bengkulu

Sementara itu, klaster kedua terpantau hingga ketinggian 50.000 kaki. Sebaran abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut dan mencakup sebagian wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.

"Sementara itu, sebaran dan permukaan hingga ketinggian 50.000 feet teramati ke arah barat daya-barat laut, mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung dan Banten," tutup BMKG.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6