NU, Kekuatan Islam Indonesia

Said menilai NU adalah wajah Islam Indonesia, tempat saat ini dunia bisa berkiblat.

Diterbitkan 26 Agustus 2026, 07:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Besok, 27 - 31 Agustus 2026, Nahdlatul Ulama (NU) akan menggelar Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang. Memulai muktamar ini, tampaknya para kiai menunjukkan ingin lebih menguatkan jalan yang di pesankan oleh para muasis, yakni lebih menguatkan jatidirinya sebagai kekuatan moral dan kultural.

Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Said Abdullah mengungkapkan sebagai kekuatan jam’iyah, usia NU sudah lebih dari satu abad. Tidak banyak organisasi yang bisa berdiri, dan bahkan berkembang besar seperti ini. NU bisa berkembang sedemikian besar, meminjam istilah Gus Dur, karena NU ditopang oleh kiai dan komunitas pesantren sebagai subkultur.

Apa wujud NU sebagai kekuatan subkultur? NU memiliki landasan epistemologis As’ariyah yang terus dikontekstualisasikan, mampu menjawab tantangan zaman, dan tradisi itu terus diikuti oleh kekuatan jamaahnya. Sebagai kekuatan subkultur, NU menjadi ruang budaya tempat nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, toleransi, dan kearifan lokal berproses secara organik. Praktik inilah yang menjadi kedigdayaan NU hingga hari ini.

Modal sosial yang memberi nyawa kepada NU ini harus terus dihidupi, oleh sebab itu, jangan sampai NU tergoda dalam hingar bingar politik. Termasuk jangan pula membawa suksesi kepemimpinan NU seperti layaknya suksesi pemimpin politik yang berwatak pragmatis-transaksional.

NU adalah wajah Islam Indonesia, tempat saat ini dunia bisa berkiblat, karena NU bisa membawakan wajah Islam yang moderat, sekaligus ikut memupuk nilai niai demokrasi, bahkan ikut melahirkan negara bangsa bernama Indonesia.

Keteladanan para pemimpin NU adalah keteladanan yang bersumber dari moral. Praktik sosialnya selalu didasarkan pada kekuatan transendensi. NU didirikan dengan penuh tirakat dan jalan spiritual. Kapan harus didirikan, bagaimana logo NU dibuat, untuk hal sekecil ini saja, para muasis harus tirakat, laku batin seikhlas ikhlasnya untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT, apalagi untuk hal hal besar.

Untuk memilih para pemimpin, para kiai lebih memilih “menyembunyikan diri”, merasa diri tidak pantas, walau sesungguhnya maqomnya sudah melampaui kelayakan untuk menjadi pemimpin NU. Para kiai takut kuwalat kepada para muasis, apalagi jika sampai memimpin NU ada kekeliruan. Inilah sumber keteladanan yang harus terus dihidupkan oleh para peserta muktamar.

 

Agenda Keumatan

Sebagai jemaah, kami mengharapkan Muktamar NU jangan dihabiskan energinya untuk perebutan sebagai pemimpin. Ada banyak problema besar di akar rumput NU, seperti kemiskinan, pengangguran, krisis pertanian dan lingkungan, bahkan hingga ke tataran global, perang di Teluk yang berdampak ekonomi ke dalam negeri, dan merosotnya demokrasi," kata Said.

NU memang dari lingkungan dan dunia pesantren yang umumnya di desa desa. Tetapi harapan terhadap NU melampaui kedudukannya sebagai komunitas desa, melampaui kedudukanya sebagai kekuatan subkultur. Tradisi intelektual keislaman NU, dikombinasikan dengan ratusan ribu sarjana NU yang menimba ilmu dari seluruh penjuru dunia adalah kekuatan penting untuk menjawab berbagai persoalan tersebut.

NU bukan lagi kekuatan subkultur, saat ini NU adalah kekuatan diasporik yang punya peran menjawab persoalan peradaban. NU harus belajar, kejayaan Islam pada masa Dinasti Abbasiyah dari abad ke 8 - 13 Masehi tidak terletak dari kekuatan politiknya. Bahkan kehancuran Islam karena banyaknya pertikaian politik.

Di era Abbasiyah Islam berkembang sebagai sumber peradaban ilmu pengetahuan diberbagai bidang; filsafat, matematika, ekonomi, kedokteran, astronomi, dll. Banyak pemikir, dan ilmuan lahir pada masa ini, sebut saja Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Al-Haitham dan Ibnu Rusyd.

NU akan semakin besar, dan membesarkan peradaban Islam bila tetap lurus dijalan keumatan. Ikut berkontribusi besar bagi penyelesaian persoalan umat, dan masalah masalah peradaban. Oleh sebab itu, hasil hasil Bahtsul Masail sebagai forum musyawarah keilmuan para ulama dan intelektual NU haruslah yang lebih mengemuka, yang menunjukkan kemampuan keilmuan dan keislaman NU menjawab berbagai tantangan zaman.

Hasil hasil pemikiran inilah yang akan terus menempatkan NU akan relevan kemarin, hari ini hingga masa depan. NU yang akan terus dibutuhkan hadir menjadi kekuatan jalan keluar. Sebagai bagian jamaah NU, yang sejak lahir, kecil hingga tumbuh dewasa dilingkungan NU, saya berharap NU teguh dijalan keteladanan moral, spiritual, dan sosial.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6