Seniman China Divonis 3 Tahun Penjara karena Menghina Pahlawan Nasional

Seniman China ini telah ditahan sejak 2024.

Diterbitkan 26 Agustus 2026, 07:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Seniman China Gao Zhen dijatuhi hukuman tiga tahun penjara pada Selasa (25/8/2026) karena dianggap merusak reputasi para pahlawan lewat karya-karya seninya yang bernada satir, termasuk patung yang menggambarkan mantan pemimpin China Mao Zedong.

Gao, yang berbasis di Amerika Serikat (AS), merupakan salah satu anggota duo seniman Gao Brothers yang dikenal di dunia internasional. Ia ditangkap saat mengunjungi keluarganya di China pada Agustus 2024 dan sejak itu berada dalam tahanan.

Menurut istrinya, Zhao Yaliang seperti dilaporkan Associated Press, vonis terhadap Gao dijatuhkan oleh Pengadilan Rakyat Sanhei di Provinsi Hebei.

Kasus yang menjerat Gao berkaitan dengan sejumlah karya seni yang oleh pihak berwenang China dianggap menghina tokoh-tokoh revolusioner. Salah satunya adalah patung Mao's Guilt yang dibuat pada 2009. Karya itu menggambarkan Mao, mantan pemimpin sekaligus pendiri China modern, berlutut seolah sedang menyesali perbuatannya.

Karya lainnya adalah seri Miss Mao, yang menampilkan karikatur Mao dengan payudara dan hidung yang membesar.

Shane Yi, peneliti Chinese Human Rights Defenders yang ikut mengadvokasi kasus Gao, menyebut vonis tersebut sebagai "contoh yang sangat jelas dari pelanggaran terhadap kebebasan berekspresi seseorang".

Yi menyoroti bahwa karya-karya yang dipersoalkan dibuat sebelum undang-undang yang digunakan untuk menghukum Gao disahkan. Menurut dia, Gao berencana mengajukan banding atas vonis tersebut.

Pihak pengadilan belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Amnesty International turut mengecam vonis tersebut dan menilai hukuman terhadap Gao sebagai upaya untuk membuat seniman lain takut berekspresi melalui karya mereka.

"Lamanya penahanan sebelum persidangan dan, pada akhirnya, keputusan untuk menyatakan Gao Zhen bersalah serta menjatuhkan hukuman maksimal tiga tahun penjara atas pelanggaran ini menunjukkan tekad pihak berwenang untuk mencegah orang lain berkarya secara independen," kata Direktur Amnesty International untuk China Sarah Brooks.

"Tidak ada seniman yang seharusnya dihukum secara pidana karena menciptakan karya yang menantang narasi resmi atau mendorong orang untuk melihat sejarah secara kritis."

Zhao berharap dapat segera berkumpul kembali dengan suaminya dan pulang ke AS, tempat keluarga mereka menetap setelah berimigrasi.

"Saya merasa dua tahun adalah batas kemampuan saya. Saya benar-benar kecewa dan sedih. Sampai sekarang rasanya saya masih sulit bernapas," tutur Zhao.

Ia telah menyiapkan pakaian untuk suaminya karena berharap Gao akan dibebaskan. Pengadilan di China kerap menghitung masa hukuman sejak seorang tahanan mulai ditahan.

Gao Brothers dikenal lewat karya-karya yang mengangkat tema otoritarianisme dan penyensoran. Duo tersebut mulai terkenal ketika China masih mengalami masa keterbukaan yang relatif lebih besar. Karya-karya mereka pun pernah dipamerkan baik di dalam maupun di luar China.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah China dilaporkan semakin memperketat kendali terhadap sejumlah bentuk ekspresi, terutama yang berkaitan dengan tokoh politik. Pada 2018, China mengesahkan undang-undang yang melarang kritik terhadap para pahlawan nasional.