Harga Emas Hari Ini Lesu di Tengah Dolar AS Melemah

Harga emas spot turun di tengah dolar Amerika Serikat (AS) yang melemah. Namun, harga emas masih berada dekat level tertinggi.

Diterbitkan 26 Agustus 2026, 07:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia merosot pada Selasa, 25 Agustus 2026 (Rabu pagi Jakarta), tetapi tetap bertahan di dekat level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan. Koreksi harga emas dunia didorong pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rencana pembelian kembali atau buyback obligasi oleh Departemen Keuangan AS.

Mengutip CNBC, Rabu (26/8/2026), harga emas spot turun 0,1% menjadi US$ 4.647,05 per ons, masih mendekati level tertinggi sejak pertengahan Mei. UOB memprediksi logam mulia ini berada di jalur yang tepat untuk mencatat kenaikan bulanan terkuat sejak September 1999. Adapun harga emas telah naik lebih dari 15% sepanjang bulan ini.

Sementara itu, harga emas berjangka menguat tipis ke level US$ 4.694,50, juga mendekati level tertinggi dalam tiga bulan.

Dolar yang lebih lemah membuat emas yang dihargai dalam mata uang AS menjadi menarik bagi pemegang mata uang asing, sementara imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang lebih rendah mengurangi biaya peluang untuk membeli emas batangan.

Indeks dolar telah turun 0,8% sepanjang bulan ini, dan meskipun imbal hasil obligasi pemerintah AS sempat tinggi pada Agustus, rencana pemerintah untuk membeli kembali obligasi berhasil menahannya turun 3 basis poin bulan ini.

Fokus investor juga akan tertuju pada pidato Ketua The Fed AS, Warsh, menjelang Simposium Jackson Hole akhir pekan ini, seiring upaya mereka mencari petunjuk lebih lanjut mengenai prospek suku bunga.

Citi menyebutkan, meskipun pidato Warsh yang bernada hawkish kemungkinan akan menghentikan reli emas saat ini, kejutan yang bernada dovish di Jackson Hole akan sangat menguntungkan bagi emas (ultra-bullish).

Hal ini karena pasar tidak hanya akan terus mengabaikan kemungkinan kenaikan suku bunga The Federal Reserve (the Fed), tetapi juga kembali fokus pada perdagangan yang mengantisipasi penurunan nilai mata uang (debasement trade) di tengah kekhawatiran baru mengenai independensi The Fed dan masalah keberlanjutan utang AS.

Harga Emas Hari Ini Melesat Jelang Rilis Inflasi AS

Sebelumnya, harga emas melonjak ke level tertinggi lebih dari tiga bulan pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026 (Selasa pagi Jakarta). Kenaikan harga emas dunia didorong oleh aksi beli secara teknikal di tengah tren kenaikan harga yang dipicu oleh pengumuman pembelian kembali atau buyback oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) baru-baru ini . Selain itu, dolar AS yang tertekan menjelang rilis data inflasi dan Simposium Jackson Hole pekan ini.

Mengutip CNBC, Selasa (25/8/2026), harga emas spot naik 0,7% menjadi US$ 4.635,39 per ons, mencapai level tertinggi sejak 14 Mei. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 0,4% dan ditutup pada level US$ 4.697,80 per ons.

“Faktor fundamental dan teknikal tampak selaras mendukung tren kenaikan (bullish) bagi pasar emas pada awal pekan perdagangan ini,” Analis American Gold Exchange, Jim Wykoff.

Ia menuturkan, imbal hasil obligasi telah stabil, bahkan sedikit turun sehingga turut memberikan dukungan untuk harga emas.

Dengan tren harga yang cenderung naik, Wyckoff menyatakan, arah pergerakan emas yang paling mungkin terjadi "akan terus bergerak mendatar hingga naik" dalam beberapa minggu mendatang, kecuali jika muncul sinyal pembalikan arah secara teknikal.

Pekan lalu, harga emas berhasil menembus level rata-rata pergerakan (moving average) 200 hari, yang semakin memperkuat momentum kenaikan harga.

Menurut World Gold Council, ETF yang didukung emas juga mencatat arus masuk sebesar 46,7 metrik ton (senilai US$ 6,4 miliar atau Rp 113,40 triliun, asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.720 ) pada pekan lalu, angka permintaan mingguan tertinggi dalam 10 bulan terakhir, dengan dana yang terdaftar di Amerika Utara dan Eropa memimpin arus masuk tersebut.

 

Fokus Pasar

Harga emas batangan naik lebih dari 5% pekan lalu setelah rencana dukungan pembelian kembali oleh Departemen Keuangan AS menekan nilai dolar ke level terendah dalam beberapa bulan, sehingga membuat emas batangan yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih murah bagi pembeli asing.

Fokus pasar juga tertuju pada pidato kebijakan yang akan disampaikan pekan ini di Amerika Serikat dan Jepang.

Pelaku pasar menantikan rilis indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditure atau PCE), indikator inflasi yang menjadi acuan utama Federal Reserve pada Rabu, serta pidato perdana Ketua Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole pada Jumat, guna memantau prospek suku bunga.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6