Korban Gempa NTT Bertambah: 75 Orang Meninggal, 907 Luka-luka

Jumlah korban meninggal gempa NTT bertambah empat orang dibandingkan data sehari sebelumnya.

Diterbitkan 20 Agustus 2026, 17:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Korban gempa NTT bertambah: 75 meninggal, 907 luka per 20 Agustus 2026.
  • BNPB mencatat 3.752 gempa susulan, termasuk 5,7 magnitudo pada Kamis pagi.
  • Masyarakat diimbau waspada gempa susulan dan periksa kondisi bangunan.

Liputan6.com, Jakarta - Korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali bertambah. Hingga Kamis (20/8/2026) pukul 16.00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 75 orang meninggal dunia dan 907 lainnya mengalami luka-luka.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan jumlah korban meninggal bertambah empat orang dibandingkan data sehari sebelumnya yang mencapai 71 orang.

“Hingga saat ini mencapai 75 jiwa, di mana kemarin kami memberitakan 71 jiwa, hari ini bertambah 4 jiwa dengan rincian di Kabupaten Sikka bertambah 2, Kabupaten Manggarai bertambah 1, Nagekeo bertambah 1,” kata Berton dalam konferensi pers daring, Kamis (20/8/2026).

Selain korban meninggal, jumlah korban luka juga mengalami peningkatan. Dari sebelumnya 898 orang, kini tercatat 907 orang. Tambahan sembilan korban luka tersebut seluruhnya berasal dari Kabupaten Ngada.

“Demikian juga korban yang luka sebanyak 907 jiwa yang semula 898 jiwa, untuk hari ini kami mendapat data tambahan 9 jiwa, yaitu berasal dari Kabupaten Ngada,” ujar Berton.

Imbau Masyarakat Tetap Waspada

BNPB mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Hingga Kamis pukul 16.00 WIB, tercatat sebanyak 3.752 gempa susulan terjadi.

Salah satu gempa susulan bahkan kembali dirasakan warga pada Kamis pagi.

“Pada pukul 10:47 waktu setempat, kami merasakan gempa berkekuatan 5,7 magnitudo,” kata Berton.

Dengan masih berlangsungnya aktivitas gempa, BNPB meminta masyarakat di wilayah terdampak tetap siaga, terutama saat hendak kembali memasuki bangunan.

“Bagi warga di daerah terdampak, perlu dipastikan kondisi bangunan apabila akan memasuki bangunan tersebut,” ucap Berton.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6