1.487 Sekolah NTT Direvitalisasi Usai Gempa, Anggaran Rp 1,2 T Disiapkan

Revitalisasi tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk memastikan proses pemulihan pendidikan di daerah terdampak bencana dapat berjalan dengan baik.

Diterbitkan 22 September 2026, 01:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Kemendikdasmen revitalisasi 1.487 satuan pendidikan di NTT pascagempa.
  • Anggaran Rp 1,2 triliun disiapkan untuk perbaikan bangunan rusak dan ruang darurat.
  • Kementerian klarifikasi smart board viral, program digitalisasi mencakup listrik dan internet.

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyiapkan program revitalisasi terhadap 1.487 satuan pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai bagian dari upaya pemulihan sektor pendidikan setelah wilayah tersebut dilanda gempa bumi.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan, revitalisasi tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk memastikan proses pemulihan pendidikan di daerah terdampak bencana dapat berjalan dengan baik.

"Informasi di NTT terkait dengan komitmen kami untuk daerah bencana, kami akan melakukan revitalisasi termasuk SDN tadi itu (SDN Mboeng) sebanyak 1.487 satuan pendidikan di NTT saja," ujar Abdul Mu'ti dalam rapat bersama Komisi X DPR di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Senin (21/9/2026).

Dia memastikan pelaksanaan program revitalisasi akan dilakukan secara optimal dengan memperhatikan kebutuhan satuan pendidikan yang terdampak.

Abdul Mu'ti menegaskan Kemendikdasmen berkomitmen menjalankan program tersebut dengan sebaik-baiknya sebagai bagian dari pemulihan pendidikan di NTT pascabencana.

Sebelumnya diketahui, Kemendikdasmen menganggarkan sebesar Rp 1,2 triliun untuk merevitalisasi satuan pendidikan di wilayah NTT. Perbaikan tersebut menyasar sejumlah bagian bangunan sekolah yang mengalami kerusakan berat maupun ruang belajar yang selama ini masih menggunakan bangunan darurat.

Viral Sekolah di NTT

Sementara itu di sisi lain, Mu'ti juga angkat bicara terkait viral sekolah di NTT menerima smart board, tetapi ternyata sekolah tersebut belum ada aliran listrik.

"Khusus berita yang viral, tentang sebuah SD negeri di NTT itu sesungguhnya yang beredar di media sosial itu tidak akurat. Karena sebenarnya SDN itu memiliki beberapa ruang kelas, yang lainnya itu masih berfungsi," kata dia.

"Jadi yang di video itu yang tidak berfungsi, yang rusak, tapi kelas yang lainnya itu berfungsi. Dan IFP-nya juga berfungsi, Mas. Yang di video yang sedang tidak berfungsi, yang kelas yang lain berfungsi," sambung Mu'ti.

Dia juga menegaskan terkait dengan program digitalisasi di sekolah ada empat setengah.

"Yang pertama pemberian IFP-nya. Yang kedua pelatihan gurunya, jadi gurunya kita latih. Yang ketiga itu pemberian laptop. Kemudian yang keempat itu akses jaringan. Nah, itu empat. Nah, setengahnya itu, jaringan itu ada dua yakni jaringan internet dan jaringan listrik," papar Mu'ti.

"Internet yang belum ada kami bantu melalui Starlink, dan itu sudah kami lakukan di daerah-daerah 3T, yang karena harganya sangat bisa terjangkau dan sudah kami lakukan," sambung dia.

Kemudian, lanjut Mu'ti, listrik itu ada dua skema, pertama melalui panel surya dan kedua melalui pembangunan jaringan baru.

"Dan kami sudah ada pembahasan dengan PLN untuk pembangunan jaringan ini, sehingga insyaallah ke depan itu bisa kami laksanakan dengan sebaik-baiknya," jelas Mu'ti.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6