Menyibak Jejak Perlawanan di Lembaran Naskah Sejarah

Perlawanan telah menjadi akar peradaban bangsa yang tidak melulul diartikan dengan mengangkat senjata dan berperang.

Diterbitkan 16 Agustus 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Budaya perlawanan telah menjadi semangat yang menginspirasi lahirnya negara Republik Indonesia. Perlawanan tidak melulu diartikan mengangkat senjata dan berperang, lebih dari itu, perlawanan adalah akar peradaban orang Indonesia yang pantang menyerah dan teguh dalam pendirian.

Semangat itu yang kemudian dipotret menjadi sebuah gelaran pameran bertajuk 'Jejak Perlawanan, Akar Peradaban', yang digelar di Grha Literasi Bangunan Cagar Budaya (BCB) Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas sepanjang Agustus 2026. Pameran tersebut dikurasi dalam tiga sub tema, yakni Sosok Perlawanan, Budaya Perlawanan dan Peristiwa Perlawanan.

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto menyampaikan, kemerdekaan adalah buah dari perjalanan sejarah yang panjang, dari keberanian, keteguhan, pengorbanan, dan semangat perlawanan yang telah tumbuh jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukanlah sebuah hadiah yang datang tiba-tiba. Jejak-jejak ini tidak hanya tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat, tetapi juga terekam dalam berbagai sumber pengetahuan di Perpusnas," katanya.

Ia mengatakan, melalui pameran ini, pengunjung diajak untuk melihat kembali perjalanan sejarah melalui lembaran-lembaran naskah yang menjadi saksi perkembangan peradaban bangsa.

Sejumlah koleksi ditampilkan dalam pameran tersebut, di antaranya Kitab Sutasoma, Babad Untung Surapati, Gebug Buleleng, Babad Giyanti, Babad Mataram, serta naskah Jihad Aceh. Naskah-naskah tersebut menyimpan berbagai kisah mengenai kekuasaan, konflik, nilai kepahlawanan dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Salah satunya Babad Untung Surapati, merupakan koleksi Naskah Nusantara dengan berkode KBG 432 yang merekam perjalanan dan perjuangan Untung Surapati menghadapi VOC.

"Tidak hanya naskah kuno, pameran juga menampilkan berbagai koleksi langka, dan koleksi monograf mutakhir yang memberikan perspektif serta pemahaman baru terhadap berbagai peristiwa sejarah serta dinamika masyarakat Indonesia," katanya.

Ia berharap pameran ini tidak hanya menjadi ruang untuk melihat koleksi-koleksi bersejarah tetapi menjadi ruang dialog antara masa lalu, masa kini dan masa mendatang.

"Dalam semangat memperingati 81 tahun Kemerdekaan RI, marilah kita jadikan momentum untuk meneguhkan kembali kecintaan kita kepada bangsa dan tanah air," harapnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Jasa Informasi dan Pengelolaan Naskah Nusantara (Pujasintara), Yeri Nurita, menjelaskan, untuk memberikan alur pemahaman yang lebih utuh, materi pameran dilakukan kurasi dalam tiga sub tema, yakni Sosok Perlawanan, Budaya Perlawanan, dan Peristiwa Perlawanan.

Pada subtema Sosok Perlawanan, pengunjung dapat mengenal sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang yang memiliki peran dalam sejarah perjuangan masyarakat Nusantara, di antaranya Syekh Yusuf al-Makassari, Pangeran Diponegoro, dan Untung Surapati.

Sementara itu, Budaya Perlawanan memperlihatkan peran sastra, hikayat, kidung, doa, dan ajaran keagamaan dalam membentuk keberanian, solidaritas, identitas, serta nilai-nilai perjuangan masyarakat. Adapun Peristiwa Perlawanan menghadirkan berbagai peristiwa penting dalam perjalanan sejarah bangsa, termasuk pertempuran, strategi diplomasi, perjanjian, serta kesaksian para pelaku sejarah.

Ia menjelaskan, koleksi dalam pameran ini terbagi dalam tiga kelompok utama, yakni Koleksi Naskah Nusantara, Koleksi Monograf Langka, dan Koleksi Monograf Mutakhir.

"Lebih dari 50 koleksi ditampilkan dalam berbagai bentuk, mulai dari naskah kuno, surat kabar terjilid, foto terjilid hingga peta lama," jelasnya.

Lebih lanjut, Yeri menambahkan, pameran 'Jejak Perlawanan, Akar Peradaban' tidak hanya digelar di satu lokasi. Penyajian koleksi juga didukung oleh Pameran di lantai 4 Ruang Pameran, dan lantai 16 Layanan Koleksi Foto, Peta, dan Lukisan.

Tidak hanya pameran, Perpusnas juga menggelar berbagai kegiatan pendukung sepanjang Agustus 2026 untuk memperluas keterlibatan masyarakat. Di antaranya Puspa Pemustaka Seri 38 dan 39, rangkaian kelas literasi anak, librarian talk, kelas literasi budaya nusantara, kelas literasi aksara Jawa dan lontara Bugis.

"Pameran ini diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap koleksi Perpusnas, meningkatkan literasi sejarah dan budaya, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa perjalanan kemerdekaan Indonesia merupakan bagian dari proses panjang yang diwariskan oleh generasi sebelumnya," pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6