Warga Tewas Terbakar Saat Terobos Kepulan Asap Karhutla di Ketapang

Korban diduga kekurangan oksigen ketika menerobos kepulan asap saat hendak pulang.

Diterbitkan 05 Agustus 2026, 14:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Seorang warga Ketapang meninggal dunia akibat karhutla, diduga kekurangan oksigen dan terbakar.
  • Karhutla di Ketapang belum terkendali; helikopter water bombing dioperasikan untuk pemadaman.
  • Lebih dari 40 hektare lahan terbakar, kendala utama pemadaman adalah terbatasnya sumber air.

Liputan6.com, Jakarta - Seorang warga meninggal dunia saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Korban diduga kekurangan oksigen ketika menerobos kepulan asap saat hendak pulang.

"Kemungkinan karena kekurangan oksigen korban pingsan, kemudian di sisi kanan dan kiri jalan terdapat api sehingga korban meninggal dalam keadaan terbakar," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ketapang, Yunifar Purwantoro, Rabu (5/8/2026).

Dia mengatakan korban diduga terjatuh saat melintasi kawasan yang dipenuhi asap tebal sehingga kehilangan kesadaran sebelum tubuhnya terbakar api di lokasi kejadian.

Selain korban meninggal, BPBD juga menerima laporan seorang warga lanjut usia mengalami luka bakar dan telah dievakuasi ke Rumah Sakit dr. Agoesdjam Ketapang untuk mendapatkan perawatan medis.

Di sisi lain, Yunifar mengatakan kondisi karhutla di Ketapang hingga saat ini belum sepenuhnya dapat dikendalikan. Tim gabungan masih melakukan pemadaman sejak dini hari dan kembali diterjunkan ke lapangan pada pagi hari.

Menurut dia, helikopter "water bombing" mulai dioperasikan untuk membantu pemadaman di sejumlah lokasi prioritas, termasuk kawasan Desa Pelang dan Bukit Gunung Skuri di Kecamatan Sungai Laur yang menjadi perhatian karena tingkat kerawanannya.

Water bombing adalah teknik pemadaman api dari udara dengan menjatuhkan air atau cairan kimia dalam jumlah besar menggunakan helikopter atau pesawat khusus.

Lebih 40 Hektare Lahan Terbakar

BPBD memperkirakan luas lahan yang terbakar di kawasan Desa Pelang telah mencapai lebih dari 40 hektare. Upaya pemadaman darat masih terkendala sulitnya memperoleh sumber air di lokasi kebakaran.

"Kendala utama di lapangan adalah sumber air yang sangat terbatas. Karena itu, operasi 'water bombing' sangat dibutuhkan, terutama di lokasi yang sulit dijangkau oleh tim darat," katanya, dikutip dari Antara.

Dia berharap Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dapat menempatkan helikopter patroli dan 'water bombing' di Bandara Rahadi Oesman Ketapang agar respons penanganan karhutla dapat dilakukan lebih cepat.

Dia menambahkan titik kebakaran telah ditemukan di hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Ketapang. Oleh karena itu, masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan titik api untuk mencegah kebakaran meluas.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6