Banyuwangi Ethno Carnival 2026 Buktikan Budaya Lokal Bisa Mendunia, Ribuan Penonton Padati Rute Parade

Banyuwangi Ethno Carnival 2026 memukau ribuan penonton lewat tema Perang Bayu. Khofifah menyebut BEC bukti budaya lokal mampu menembus panggung dunia.

Diterbitkan 20 Juli 2026, 11:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) ke-14 sukses menarik ribuan penonton dan delegasi internasional.
  • BEC mewakili semangat 'from local to global' melalui budaya, inovasi, dan kreativitas Banyuwangi.
  • Tema 'Perang Bayu' mengangkat sejarah lokal, hasil kolaborasi berbagai pihak.

Liputan6.com, Banyuwangi - Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) kembali menjadi magnet wisata dan budaya yang menyedot perhatian ribuan masyarakat. Memasuki penyelenggaraan ke-14, parade kostum spektakuler yang digelar pada Sabtu (18/7/2026) ini menunjukkan bahwa kekayaan budaya lokal mampu tampil dan dikenal di tingkat global.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai BEC menjadi representasi semangat from local to global melalui perpaduan budaya, inovasi, dan kreativitas masyarakat Banyuwangi.

"Kita dapat melihat sebuah semangat bersama 'from local to global'. Hal tersebut ditunjukkan melalui kekuatan budaya, inovasi, serta kreativitas masyarakat Banyuwangi melalui BEC. Kekuatan budaya yang mendunia," kata Khofifah saat membuka BEC.

Menurut Khofifah, BEC bukan sekadar pertunjukan budaya, tetapi juga mampu menginspirasi kemajuan peradaban. Dampaknya dinilai tidak hanya dirasakan Banyuwangi, melainkan juga Jawa Timur, Indonesia, hingga dunia.

Sebanyak lebih dari seratus talent tampil mengenakan kostum bertema "Perang Bayu". Mereka berjalan sepanjang rute sekitar dua kilometer, dimulai dari Taman Blambangan hingga Jalan Ahmad Yani, disambut antusiasme ribuan penonton yang memenuhi area panggung utama maupun sisi kanan dan kiri jalan.

Tahun ini, kemeriahan BEC turut disaksikan oleh delegasi dari negara-negara anggota ASEAN, East Asia Summit (EAS), serta Pacific Islands Forum (PIF).

Tema Perang Bayu Angkat Sejarah Perjuangan Banyuwangi

Tema "Perang Bayu" ditampilkan dalam lima fragmen sub tema. Melalui kostum, mereka menggambarkan perjuangan masyarakat asli Banyuwangi saat perang melawan tentara Belanda pada abad ke-18.

Khofifah mengatakan BEC juga menjadi wujud kreativitas para budayawan, seniman, dan pelaku industri kreatif di Banyuwangi. Melalui orkestrasi bersama pemerintah daerah, mereka mampu menghadirkan pertunjukan yang tak hanya menarik, tapi juga syarat nilai-nilai seni dan budaya.

"Terima kasih kepada Pemkab Banyuwangi selaku orkestrator dari seluruh kegiatan yang ada di Banyuwangi, terutama BEC. Mudah-mudahan Banyuwangi terus melejit dan maju. Serta masyarakat bisa terus membangun sinergi dari lokal menuju global," ucap dia.

Kolaborasi Jadi Kunci Kesuksesan Banyuwangi Ethno Carnival 2026

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani bersyukur pagelaran BEC yang telah memasuki gelaran ke-14 pawai busana etnik tetap menjadi salah satu event yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat, mulai lokal hingga mancanegara.

"Kami sampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang memberi sumbangsih atas terselenggaranya BEC tahun ini. terkhusus untuk seluruh anak-anak muda yangvterlibat dalam parade ini. Terima kasih atas kerja kita bersama sehingga BEC bisa kembali hadir dan memikat," kata Ipuk.

Ipuk menekankan, sinergi dan kolaborasi merupakan kunci bagi Banyuwangi sehingga mampu menyajikan berbagai perhelatan berkelas, termasuk BEC.

"Semoga BEC tahun ini juga menjadi tonggak bagi kita semuanya untuk bersama-sama tandang bareng membangun Banyuwangi yang kita cintai," sambungnya.

Pada tahun ini, BEC dihadiri oleh Menteri Koordinator Pangan, Zulkifli Hasan, Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata Zita Anjani, perwakilan Kementarian Pariwisata RI, serta beberapa tokoh nasional dari unsur pemerintahan pusat, DPR RI, petinggi BUMN, hingga swasta. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6