Kekeringan Landa Kabupaten Bekasi, Ribuan KK Terdampak

Sejumlah wilayah di Kabupaten Bekasi dilanda kekeringan pada musim kemarau 2026.

Diterbitkan 18 Juli 2026, 18:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah wilayah di Kabupaten Bekasi mulai dilanda kekeringan pada musim kemarau 2026. Hingga pertengahan Juli, sebanyak 2.416 kepala keluarga (KK) di tiga kecamatan terdampak krisis air bersih, sehingga Palang Merah Indonesia (PMI) telah menyalurkan ratusan ribu liter air untuk memenuhi kebutuhan warga.

Mengutip data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi, wilayah yang terdampak kekeringan meliputi Kecamatan Bojongmangu, Kecamatan Cibarusah, dan Kecamatan Cikarang Pusat.

Ketua PMI Kabupaten Bekasi, Akhmad Kosasih, mengatakan pihaknya telah menyalurkan 250 ribu liter air bersih kepada 17.490 warga di Kecamatan Cibarusah dan Kecamatan Bojongmangu selama periode 24 Juni hingga 17 Juli 2026.

Pada Sabtu (18/7/2026), PMI kembali mendistribusikan 20 ribu liter air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah.

Air bersih yang bersumber dari PDAM Tirta Bhagasasi tersebut disalurkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di empat hingga lima kampung yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih selama musim kemarau.

"Kami akan terus berupaya memastikan masyarakat yang terdampak kekeringan tetap memperoleh akses terhadap air bersih," tutur Akhmad, seperti dilansir dari Antara.

Hingga kini, telah terdapat 20 titik distribusi air bersih berdasarkan permintaan masyarakat dan pemerintah desa. Lokasi distribusi meliputi Desa Ridogalih di Kecamatan Cibarusah, Desa Nagasari di Kecamatan Serang Baru, serta Desa Sukamukti, Desa Sukabungah, Desa Medal Krisna, dan Desa Karang Indah di Kecamatan Bojongmangu.

 

Koordinasi Stakeholder

Akhmad menjelaskan, keberhasilan distribusi air bersih tidak lepas dari koordinasi antara PMI Kabupaten Bekasi, pemerintah desa, dan relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT).

“Relawan SIBAT di desa sangat aktif memantau kebutuhan air di masyarakat. Ketika persediaan air mulai menipis, mereka segera menghubungi kami sehingga distribusi air bersih dapat dilakukan dengan cepat dan tepat sasaran,” ujarnya.

Distribusi air bersih tersebut dilakukan berdasarkan Keputusan Bupati Bekasi Nomor 100.3.3.2/Kep.477-BPBD/2026 tentang Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan, serta hasil koordinasi dengan BPBD Kabupaten Bekasi dan para pemangku kepentingan lainnya.

PMI menyatakan akan terus bersiaga menyalurkan bantuan air bersih selama masa Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan yang berlaku hingga 30 September 2026.

"PMI juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara hemat. Warga yang mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih diharapkan segera melapor kepada pemerintah desa atau BPBD agar dapat dilakukan asesmen dan penyaluran bantuan secara cepat," katanya.

Sementara itu, Kepala Markas PMI Kabupaten Bekasi, Meyliany, mengatakan Desa Ridogalih menjadi salah satu wilayah prioritas karena hampir setiap tahun mengalami krisis air bersih saat musim kemarau.

“Kondisi ini dipengaruhi oleh curah hujan yang rendah, cadangan air tanah yang terbatas, karakteristik tanah yang sulit menyimpan air, serta belum meratanya jaringan perpipaan air bersih. Wilayah Kecamatan Bojongmangu juga menghadapi tantangan serupa akibat kondisi geografis yang menyebabkan ketersediaan air tanah menurun saat musim kemarau,” katanya.

Salah seorang warga Desa Ridogalih, Neim Susanto, mengaku bantuan air bersih sangat membantu masyarakat karena sumur-sumur mulai mengering akibat musim kemarau yang berkepanjangan.

“Kemarau tahun ini cukup panjang sehingga kami kesulitan mendapatkan air. Biasanya sepulang kerja kami mengambil air dari sumur, tetapi sekarang sumurnya mengering. Bantuan air bersih ini sangat kami butuhkan,” katanya.

Hal senada disampaikan warga lainnya, Iyas, yang memanfaatkan bantuan air bersih tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga untuk ternak.

“Air ini sangat membantu, bukan hanya untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk minum sapi ternak kami yang digunakan untuk membantu pekerjaan di ladang,” ujarnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6