Petani di Kaltim Kembangkan Kopi Berkelanjutan di Kawasan Hutan Lindung

Kelompok tani di Kutai Timur mengembangkan kopi liberika dengan sistem agroforestri sebagai upaya menjaga kelestarian hutan sekaligus meningkatkan ekonomi warga

Diterbitkan 04 Juli 2026, 12:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • KTH Suka Rahmat kembangkan kopi liberika di hutan lindung untuk ekonomi lokal.
  • Metode agroforestri jaga lingkungan, hasilkan kopi dan pakan lebah kelulut.
  • Kopi Suka Rahmat berkualitas tinggi, didukung izin, dan kolaborasi pemerintah.

Liputan6.com, Jakarta - Kelompok Tani Hutan (KTH) di Desa Suka Rahmat, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur merintis pemanfaatan wilayah sekitar hutan lindung menjadi kebun kopi produktif jenis liberika sebagai tumpuan ekonomi kampung dan menciptakan produk Perkebunan unggulan daerah.

"Kami memilih menanam kopi dibandingkan sawit agar pelestarian kebun beriringan dengan upaya menjaga ketahanan lingkungan dari metode agroforestri," tutur Ketua KTH Agrowisata Goa Taman Buah Mandiri, Desa Suka Rahmat, Ruslan, melansir Antara, Jumat 3 Juli 2026.

Upaya pelestarian ekosistem tersebut didukung oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Santan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur.

Kelompok tani ini sudah mempunyai izin sah pengelolaan perhutanan sosial dalam jangka waktu 35 tahun sejak 2023.

Penggunaan lahan seluas 25 hektare itu tidak hanya memberikan dampak ekonomi dari panen biji kopi. Bunga dari ribuan pohon kopi tersebut turut dimanfaatkan sebagai pakan alami lebah kelulut.

"Kopi bubuk kami saat ini telah dipasarkan secara komersial kepada masyarakat dengan harga sekitar Rp 30.000 per kemasan," tutur Ruslan.

 

Kolaborasi Jaga Mutu dan Daya Saing Kopi Liberika

Ruslan menjelaskan, madu kelulut yang diproduksi selanjutnya dimakan oleh anggota kelompok tani selaku suplemen kesehatan harian. Kesuksesan pengelolaan perhutanan sosial yang berkelanjutan tersebut juga menyita perhatian publik luas.

"Banyak masyarakat sekitar yang kini berkunjung ke desa kami untuk meniru pengembangan budi daya ini," tutur Ruslan.

Dia menyampaikan, budi daya tanaman kopi di dalam kawasan lindung tersebut sejatinya telah dirintis oleh petani sejak 2007.

"Saat ini kawasan agrowisata tersebut telah ditumbuhi sekitar 14.000 pokok tanaman kopi penghasil biji bermutu," kata Ruslan.

Kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah daerah terus menjaga keberlangsungan produk lokal unggulan ini. Komitmen semua pihak dibutuhkan agar kopi liberika Suka Rahmat tetap kompetitif di pasar domestik maupun internasional.

Mengenai kualitas produk, salah seorang praktisi kopi Slamet Prayogo memuji mutu biji kopi hijau jenis liberika yang dipanen dari kebun ini berasal dari ceri kopi kualitas terbaik.

"Setelah melalui proses pengolahan yang tepat, kopi bubuk ini terbukti memiliki cita rasa nikmat sekali," jelas Slamet.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6