Liputan6.com, Jakarta - Gempa yang mengguncang Venezuela Rabu sore (24/6/2026) waktu setempat, merupakan gempa kembar di mana gempa utama M7,5 ternyata didahului adanya gempa berkekuatan M7,2 hanya dalam selisih waktu 40 detik. Imbasnya mematikan, semua wilayah lumpuk terdampak gempa, rumah-rumah runtuh, sejumlah bangunan dan infrastuktur penting di wilayah pesisir La Guaira dan ibukota Caracas hancur.
Pengamat gempa dan tsunami yang juga anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengatakan, gempa dahsyat kemarin di Venezuela mengingatkan kita bahaya mematikan dari gempa kembar.
"Saat masyarakat masih berjuang menghadapi trauma dan kerusakan dari guncangan pertama, guncangan kedua yang tidak kalah kuatnya datang menyusul, melipatgandakan kehancuran dalam sekejap. Fenomena ini layaknya pukulan ganda tektonik yang kerap membuat upaya pertolongan dan evakuasi menjadi jauh lebih sulit dan berisiko tinggi," katanya.
Advertisement
Daryono menjelaskan, secara definisi, gempa doublet adalah peristiwa di mana dua gempa besar terjadi di lokasi yang berdekatan dalam rentang waktu yang relatif singkat, mulai dari hitungan detik, menit, jam, hingga beberapa hari. Fenomena ini muncul karena mekanisme patahan yang kompleks.
"Ketika gempa pertama terjadi, energi yang dilepaskan tidak selalu cukup untuk meredakan seluruh tekanan yang tersimpan di sepanjang zona sumber gempa," ungkap Daryono.
Guncangan awal tersebut justru memicu perubahan distribusi tegangan yg menciptakan retakan baru atau mempercepat keretakan pada segmen patahan tetangga yang memang sudah berada dlm kondisi kritis, sehingga segmen tersebut akhirnya pecah dan melepaskan energi susulan yang tidak kalah besarnya.
"Bahaya utama dari gempa doublet terletak pada akumulasi kerusakan struktural yang tidak terduga," kata Daryono.
Dirinya mengambil contoh, jembatan yang masih mungkin berdiri tegak namun sudah mengalami keretakan atau pelemahan signifikan akibat gempa pertama, sering kali tidak lagi mampu menahan beban guncangan kedua. Hal ini menjadikan upaya evakuasi, pencarian, dan pertolongan pertama menjadi jauh lebih berisiko bagi petugas di lapangan, serta memperumit logistik pemulihan bencana karena infrastruktur kunci sudah terlanjur lumpuh total.
Sejarah mencatat beberapa peristiwa gempa doublet dunia yg meninggalkan jejak kehancuran mendalam. Salah satu contoh yg kerap dipelajari terjadi di wilayah dengan aktivitas tektonik intens di berbagai belahan dunia, di mana segmen-segmen patahan yg saling terkait memicu rangkaian pelepasan energi secara beruntun.
Gempa Turki M7,8 pada 6 Februari 2023 selain sanggup memecahkan hampir seluruh segmen Sesar Anatolia Timur (East Anatolian Fault), juga memicu gempa di jalur sesar lain, yaitu Sesar Sürgü dengan magnitudo Mw 7,5. Gempa ini sangat merusak dan menyebabkan lebih dari 53.000 orang tewas di Turki, dan diperkirakan sekitar 6.000 hingga 8.000 lebih korban jiwa di Suriah.
Sejarah Gempa Kembar di Indonesia
Di Indonesia sendiri, potensi gempa doublet bukan sekadar teori, karena wilayah nusantara yang diapit oleh pertemuan lempeng aktif, kata Daryono, sangat memungkinkan terjadinya fenomena gempa kembar.
Berikut sejarah gempa gembar yang pernah terjadi di Indonesia:
1. Gempa Padang Panjang M7,1 diikuti gempa M7,2 yang terjadi pada Juni 1926 memicu kerusakan. (Sumber: sesar aktif)
2. Gempa Padang Panjang M6,4 diikuti gempa M6,3 yg terjadi pada Maret 2007 memicu kerusakan. (Sumber: sesar aktif)
3. Gempa Bengkulu M8,4 diikuti gempa M7,9 yang terjadi pada September 2007 memicu kerusakan dan tsunami. (Sumber: subduksi/megathrust)
4. Gempa Samudra Hindia Barat Aceh M8,6 diikuti gempa M8,1 yg terjadi pada April 2012 memicu tsunami kecil. (Sumber: sesar aktif dasar laut)
5. Gempa Lombok M7,0 diikuti gempa M6,9 yg terjadi pada Agustus 2018 memicu kerusakan dan tsunami kecil. (Sumber: sesar aktif)
6. Dan masih ada beberapa lagi.
Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa banyak rangkaian gempa besar di Indonesia memiliki karakteristik yang menyerupai pola doublet, di mana satu gempa pemicu diikuti oleh gempa signifikan lainnya pada segmen sesar yg berdekatan dalam waktu singkat.
Advertisement
Mitigasi Gempa Kembar
Mitigasi untuk menghadapi gempa doublet atau gempa kembar, menurut Daryono, memerlukan pendekatan yang lebih ketat karena tantangannya adalah ketahanan bangunan terhadap guncangan beruntun.
Berikut adalah langkah-langkah mitigasi yang krusial:
1. Penerapan Standar Bangunan Tahan Gempa yang Ketat
Konstruksi tidak boleh hanya dirancang untuk satu kali guncangan puncak, tetapi harus mampu mempertahankan integritas strukturalnya setelah terkena guncangan pertama agar tetap berdiri saat guncangan kedua terjadi.
2. Evaluasi Struktural Pasca-Gempa Pertama
Setelah terjadi gempa, sangat penting untuk melakukan penilaian cepat terhadap bangunan sebelum warga diizinkan masuk kembali, guna memastikan struktur tidak mengalami kerusakan yang membuatnya rentan roboh jika ada gempa susulan yang kuat.
3. Penguatan (Retrofitting) Infrastruktur Vital
Bangunan publik, rumah sakit, dan jalur evakuasi harus diprioritaskan untuk diperkuat agar tetap berfungsi setelah gempa pertama, sehingga layanan darurat tidak lumpuh saat guncangan kedua datang.
4. Edukasi Mitigasi yang Memahami Pola Beruntun
Masyarakat perlu memahami bahwa gempa susulan bisa berkekuatan setara dengan gempa utama, sehingga tidak boleh meremehkan guncangan setelah gempa pertama dan harus tetap waspada di tempat terbuka yg aman.
5. Perencanaan Tata Ruang yang Responsif
Mengingat gempa doublet sering memicu kerusakan kumulatif, jalur evakuasi harus dirancang agar tidak mudah terputus atau tertutup puing bangunan yang runtuh akibat guncangan beruntun.
Daryono berendapat, dengan memahami gempa doublet adalah ancaman yang berulang dalam waktu singkat, fokus utama mitigasi harus bergeser dari sekadar 'bertahan dari satu guncangan' menjadi 'memastikan ketahanan infrastruktur dalam skenario guncangan berantai'.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463779/original/049305200_1767670885-Screenshot_2026-01-06_103951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919749/original/034086800_1723781524-000_36EC7XK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/344610/original/093311000_1471573794-foto-new.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8480782/original/096159500_1782392590-Untitled.jpg)


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260379/original/084688000_1781589230-tj_verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259296/original/035877100_1781495343-_____________FIFAWorldCup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621898/original/023575700_1782614127-063_2283622576.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540345/original/069396100_1774710516-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560764/original/057361200_1782508647-000_B8GJ8DG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8618866/original/035352900_1782607831-063_2283624619.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5243047/original/051478600_1749093312-AP25155771563061.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3529388/original/056973400_1627972342-000_9767F7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261539/original/051141200_1781743137-IMG-20260618-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625922/original/005183100_1782620553-063_2283651686.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625483/original/070181900_1782619556-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8511937/original/048297600_1782434870-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8585232/original/070297800_1782548214-Gempa_Pacitan.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8480782/original/096159500_1782392590-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8451107/original/036314100_1782347531-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8566385/original/036496400_1782516722-Gempa_guncng_Sigi_Sulteng.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8511784/original/085283500_1782434702-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2071720/original/016496600_1523357289-Gempa-Bumi10.jpg)