Kisah Perintis UMKM di Bali, Melawan Keraguan Diri Lewat Kilau Mutiara

Membangun usaha ternyata tidak hanya soal produk dan pemasaran. Tantangan terbesarnya justru datang dari dalam diri sendiri.

Diterbitkan 14 Juni 2026, 06:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di sebuah sudut pasar akhir pekan di Bali, deretan kalung dan gelang berhias mutiara tampak berkilau diterpa cahaya matahari. Di balik produk-produk itu, ada cerita tentang seorang perempuan muda yang memulai usaha dengan alasan sederhana, kenyamanan.

Namanya Gek Nanda Putri Dana Asih dan Gek Ehyang Astiti, mereka adalah dua bersaudara pendiri By Ash Jewelry, yang memulai langkahnya pada tahun 2022 di Bali.

Bercerita kepada Liputan6.com, kala itu Nanda mengaku masih disibukkan dengan penyelesaian skripsi dan belum membayangkan bahwa kegemarannya mengenakan perhiasan akan berkembang menjadi sebuah usaha yang dikenal banyak orang.

"Awalnya memulai usaha karena aku memang suka banget pakai jewelry aja," ujar Nanda kepada Liputan6.com saat berkunjung ke Bali, Sabtu

Namun kecintaannya mengenakan aksesori menghadapkan dirinya pada masalah. Banyak produk yang dibelinya ternyata tidak cukup awet. Di sisi lain, kulitnya yang sensitif membuatnya harus lebih selektif memilih bahan. Efeknya, mengenakan benda tersebut justru tidak membuatnya nyaman.

Dari pengalaman itu, lahirlah gagasan untuk membuatnya sendiri. Dia memilih menggunakan bahan yang kuat seperti stainless steel dan ramah terhadap kulit sensitif. Untuk mempercantik, Nanda memadukannya dengan mutiara, salah satu kekayaan alam Indonesia yang memiliki nilai estetika tinggi.

Nanda mengaku awalnya, produk hand made yang dibuatnya hanya untuk dipakai sendiri. Tetapi tak disangka, teman-teman di sekitarnya mulai tertarik dan ingin memilikinya.

"Dari situlah By Ash Jewelry perlahan lahir!," seru Nanda.

Meski usahanya telah dirintis sejak 2022, perjalanan bisnis By Ash Jewelry tidak langsung meroket. Nanda memprioritaskan pendidikannya. Penjualannya pun dilakukan secara sederhana melalui platform daring, sambil membagi waktu dengan aktivitas kuliah.

"Baru setelah lulus pada 2023, saya mulai memberikan perhatian penuh pada bisnis By Ash. Mulai mengikuti berbagai bazar dan pameran UMKM. Langkah itu menjadi titik penting karena memberi kami kesempatan bertemu langsung dengan pelanggan," seru dia.

Kini, selain berjualan secara online, By Ash Jewelry rutin hadir di tiap Sunday Market setiap akhir pekan di Bali.

Krisis Kepercayaan Diri

Membangun usaha ternyata tidak hanya soal produk dan pemasaran. Nanda mengaku, tantangan terbesarnya justru datang dari dalam diri sendiri.

"Yang paling berat itu rasa percaya diri," ujarnya.

Nanda bercerita, di awal menjalankan usaha, ia kerap menerima komentar yang meragukan nilai produknya. Karena perhiasannya tidak mengandung emas, orang menganggapnya sebelah mata. Bahkan sebagian di antaranya mengomentari harga yang ditawarkan terlalu tinggi. Ada juga dari mereka yang merendahkan kualitas produknya ketika Nanda mencoba menitipkan hasil karyanya ke toko.

"Komentar-komentar tersebut membuat saya mempertanyakan kualitas produk saya sendiri. Jadi dulu aku sempat nggak percaya, apakah produkku memang se-worth it itu?" tanya Nanda meragu.

Kendati perlahan, keraguan itu berubah menjadi keyakinan. Salah satu titik balik terjadi ketika By Ash Jewelry mengikuti program SisBerdaya, sebuah kompetisi dan program pendampingan UMKM yang dihelat oleh DANA di tahun 2025.

Namun lagi-lagi, keinginan Nanda ikut program tersebut bukan semata demi mengasah pengalaman. Namun dengan alasan yang sederhana, ingin merasakan tinggal di Jakarta.

Sebab dalam program tersebut, saat produknya terpilih, maka pelaku bisnisnya akan diundang ke Jakarta untuk mendapat pelatihan langsung dari tim DANA.

Nyatanya, dari motivasi nothing to lose itu berbuah manis. Dari 2.000 peserta yang ikut berkompetisi, By Ash Jewelry masuk menjadi 35 di antaranya yang berangkat ke Jakarta.

"Dari sekitar 2.000 UMKM yang mengikuti kompetisi, By Ash Jewelry berhasil lolos hingga 35 besar dan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan intensif di Jakarta. Kami bertemu para pelaku UMKM dari berbagai daerah dengan semangat yang menurutnya luar biasa!," ungkap Nanda.

Nanda meyakini, kompetisi tersebut membuka jalan baginya. Walau usianya relatif muda, 24 tahun, namun dirinya tak gentar untuk bersaing. Menurutnya, seluruh peserta memiliki usaha yang hebat dan cerita perjuangan yang inspiratif.

Mengingat kata pepatah, 'perjuangan tak mengkhianati hasil', dewan juri di Jakarta menunjuk By Ash Jewelry sebagai juara pertama. Pencapaian tersebut menjadi lebih dari sekadar kemenangan kompetisi. Bagi Nanda, itu adalah momen ketika kepercayaan terhadap produknya tumbuh semakin kuat.

"Di sana akhirnya tumbuh, rasa percaya diri aku terhadap produkku," tuturnya.

 

Merawat Masa Depan Bisnis Kecilnya

Kini, setelah empat tahun berjalan, By Ash Jewelry terus berkembang sambil tetap mempertahankan prinsip yang sejak awal dipegang. Nanda ingin memastikan setiap produk yang dijual sesuai dengan klaim dan kualitas yang dijanjikan kepada pelanggan.

Meski demikian, di tengah pertumbuhan bisnisnya, Nanda dan sang kakak menyimpan impian besar yang ingin diwujudkan.

"Selama ini By Ash Jewelry mengandalkan penjualan online dan kehadiran mingguan di Sunday Market. Banyak pelanggan yang ingin melihat dan mencoba produknya secara langsung, tetapi kami belum memiliki toko permanen," ungkap dia.

Tak berkecil hati, sambil mengumpulkan modal, Nanda dan sang kakak bertekad membuka outlet pertamanya. Bukan sekadar toko, melainkan ruang yang benar-benar tepat sesuai target pasar.

"Membuka toko bukan soal memperbesar usaha secepat mungkin, melainkan langkah yang harus dilakukan dengan perhitungan matang," tegas dia.

Perjalanan By Ash Jewelry mungkin baru dimulai. Namun hal itu menunjukkan di balik setiap usaha kecil, sering kali ada perjuangan yang tidak terlihat: melawan keraguan diri sendiri.

Respons DANA

Director of Communications DANA Indonesia, Olavina Harahap menuturkan, SisBerdaya adalah acara tahunan yang diselenggarakan oleh DANA. Menurut dia, 2026 adalah tahun keempat DANA melangsungkan SisBerdaya.

"Ini menjadi program tahunan di mana kita

melakukan pendampingan ke UMKM-UMKM perempuan dan UMKM perempuan SisBerdaya dan untuk kelompok disabilitas, bernama DisBerdaya. Jadi ini merupakan salah satu komitmen kita untuk mereka yang masih baru memulai atau dalam level mikro," ungkap Olavina.

Olavina mencatat, UMKM di Indonesia menyumbang 60% lebih ke PDB dan UMKM di Indonesia itu lebih dari 60% juga dikelola oleh perempuan. Tapi umumnya, mereka kurang mendapatkan akses seperti akses kredit atau pun akses pemberdayaan, seperti pelatihan.

"DANA mau membantu UMKM perempuan dengan melakukan SisBerdaya di mana kami ada empat pilar yaitu mentoring, business matching, kompetisi dan pitching. Jadi mereka dikompetisikan dan yang menang mendapatkan bantuan modal usaha," tutur Olavina.

"Nah tahun lalu salah satu pemenangnya dari Bali, juara satu sih By Ash Jewelry!" imbuhnya.

Sebagai informasi, kegiatan serupa pada tahun ini sedang berjalan dan sudah memasuki sesi mentoring. Finalnya, akan diselenggarakan 30 Juni mendatang.

"Nanti sekitar tanggal 26 Juni akan ada sesinya di Jakarta mentoring offline-nya. Jadi mereka akan mendapatkan hybrid mentoring nih sekarang. Hybrid mentoring-online dan offline," dia menandasi.

Diketahui, pada ajang ini, DANA membuka seluas-luasnya kesempatan bagi para perempuan Indonesia dan kelompok disabilitas. Mereka yang berpartisipasi umumnya berada di industri F&B (Food and Beverage). Selanjutnya dengan industri fashion, lalu artisan craft dan lain-lainnya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6