Pendekatan Ekonomi Sirkular, Limbah Elektronik jadi Tantangan Baru Industri Gadget

Siklus pergantian perangkat elektronik yang semakin cepat menghadirkan tantangan baru bagi industri gadget, yakni pengelolaan limbah elektronik.

Diterbitkan 09 Juni 2026, 16:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Siklus pergantian perangkat elektronik yang semakin cepat menghadirkan tantangan baru bagi industri gadget, yakni pengelolaan limbah elektronik atau electronic waste (e-waste).

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu keberlanjutan, ekonomi sirkular mulai dipandang sebagai salah satu pendekatan yang dapat membantu memperpanjang siklus hidup perangkat elektronik sekaligus mengurangi potensi limbah.

Salah satu implementasinya adalah melalui program trade-in, yang memungkinkan perangkat lama kembali masuk ke dalam rantai pemanfaatan yang lebih terstruktur. Pendekatan ini juga mulai mendapat perhatian investor seiring berkembangnya praktik investasi berkelanjutan.

"Meski belum menjadi kewajiban dalam penilaian investasi, ekonomi sirkular mulai memiliki relevansi dalam pembahasan ESG," ujar Analis Capital Market dan Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana, Selasa (9/6/2026).

"Regulator terus mendorong investasi berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, di mana ESG menjadi salah satu faktor yang diperhatikan. Memang saat ini belum ada standar baku dalam menilai ESG suatu investasi, namun ekonomi sirkular dapat menjadi salah satu aspek yang dinilai," sambung dia.

 

Inisiatif yang Dilakukan

Wawan menjabarkan, kesadaran terhadap pengelolaan limbah elektronik juga mulai tercermin dalam berbagai inisiatif yang dijalankan pelaku industri.

Salah satunya PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), yang dalam laporan keberlanjutan terbarunya menempatkan pengelolaan limbah elektronik sebagai salah satu fokus perusahaan.

"Sepanjang 2025, Erajaya berhasil mengumpulkan dan mendaur ulang 3.911 unit limbah elektronik yang berkontribusi terhadap potensi pengurangan emisi hingga 437 ton CO2e per tahun serta penghematan energi sebesar 301.261 kWh," terang Wawan.

"Perusahaan juga menjalankan berbagai program konservasi lingkungan, termasuk penanaman dan perawatan 7.486 pohon di area konservasi seluas 16 hektar di Bogor dan Bandung," sambung dia.

 

Adopsi Program Keberlanjutan

Menurut Wawan, semakin luas adopsi program keberlanjutan oleh dunia usaha berpotensi meningkatkan perhatian investor terhadap aspek tersebut.

"Sosialisasi program-program keberlanjutan akan semakin membuka wawasan investor. Jika adopsinya semakin luas, bukan tidak mungkin nantinya akan semakin didorong melalui regulasi," ucap dia.

"Idealnya, investor akan lebih tertarik pada perusahaan yang memiliki kinerja baik dan didukung penerapan ESG, salah satunya melalui ekonomi sirkular," sambung Wawan.

Di sisi lain, Wawan menilai program trade-in tidak hanya relevan dari sisi keberlanjutan, tetapi juga memiliki nilai bisnis yang nyata.

"Saya pribadi sangat mengapresiasi program trade-in dan secara reguler memanfaatkannya. Program seperti ini dapat menjadi loyalty program sekaligus membantu mengurangi limbah elektronik," kata dia.

"Bagi saya ini merupakan win-win solution. Konsumen merasa dihargai karena sudah menggunakan perangkatnya dan dapat menukarkannya tanpa perlu pusing dengan perangkat lama. Di sisi lain, bagi emiten, program seperti ini dapat menciptakan captive market sepanjang value yang diberikan tetap menarik," lanjut Wawan.

Menurut Wawan, tren ini akan semakin relevan seiring meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap isu keberlanjutan.

"Konsumen akan terus berkembang dan generasi muda akan semakin melek terhadap isu-isu ESG. Meskipun investor tetap akan berfokus pada return dan kinerja perusahaan, penerapan ekonomi sirkular berpotensi menjadi salah satu faktor kompetitif bagi perusahaan yang lebih awal mengadopsinya. Success story dari program seperti ini dapat menjadi katalis positif bagi investor," tutup Wawan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6