Sukses

Jurus `Keminggris` si Ksatria Bergitar

Meski tanpa tabuhan gendang dan lantunan suling bambu, suara sang raja dangdut Rhoma Irama tetap menggema. Dari bait-bait dalam lagu dangdut nan merakyat, ksatria bergitar yang kini mantap melaju sebagai capres itu bertransformasi menjadi sosok yang berbeda, tampil keminggris.

Keminggris adalah istilah populer yang berkembang saat ini, bermakna nginggris, atau keinggris-inggrisan. Berbagai istilah asing dikeluarkan pria yang karib disapa Bang Rhoma itu seharian ini. 4 Istilah sekaligus tersembur dari mulutnya ketika menanggapi sindiran dari Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Hamdan Zoelva. Cas-cis-cus...

Merger (melebur), public distrust (ketidakpercayaan publik), trust recovery (mengembalikan kepercayaan), dan takes time (memakan waktu), terlontar dalam 1 kesempatan dari mulut si ksatria bergitar. Istilah-istilah itu siap memborbardir sindiran Hamdan yang menyuruh Rhoma membaca kembali Undang-Undang ketika mengomentari pembubaran MK.

"Itu merger saja MK ke MA (Mahkamah Agung), apalagi ada kasus mantan Ketua MK Akil itu melakukan tindakan yang melanggar hukum. Ini sangat mencederai kewibawaan hukum di Indonesia," sembur Rhoma, Selasa 3 Desember 2013.

"Oleh karena itu terjadilah satu public distrust yang sangat dahsyat, yang untuk trust recovery kehakiman kita itu tidak mudah dan takes time," imbuhnya.

Rhoma menilai, karena fungsinya saling tumpang tindih, maka sebaiknya MK dilebur untuk bergabung dengan MA. Menurutnya, dengan cara itu dapat menggembalikan kepercayaan masyarakat terhadap badan peradilan di Indonesia. "Kalau ada yang bilang saya nggak baca undang-undang, justru karena saya baca lagi UUD."

Ocehan Rhoma soal pembubaran MK itu pun disambut tawa dari rivalnya, sesama calon kuat capres Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang juga pernah menjadi Ketua MK, Mahfud MD.

"Ya terserah saja, terserah Rhoma Irama saja," kata Mahfud sambil tertawa di Gedung DPR.

Menurut Bang Rhoma...


Tak cuma soal pembubaran MK, seharian ini banyak persoalan yang turut disorot Rhoma. Di antaranya seputar Pekan Kondom Nasional ala Kementerian Kesehatan. Dalam kegiatan yang diadakan pada 1-7 Desember 2013 ini, Kemenkes akan membagikan kondom gratis di tempat-tempat yang berisiko penularan virus HIV/AIDS.

Namun menurut Rhoma, pembagian kondom secara gratis dengan dalih mencegah HIV/AIDS dianggapnya sebagai bentuk pembenaran bagi muda-mudi untuk melakukan seks bebas. Dengan pembagian kondom tersebut, artinya mendorong masyarakat berbuat zina.

"Sangat-sangat menyia-nyiakan APBN. Bahkan, ini adalah bentuk pelecehan APBN. Menurut saya itu harus dicabut. Adapun cara pencegahan yang efektif adalah mencegah narkoba dan mencegah perzinahan. Harusnya dari situ," ucapnya.

Pria yang bakal berulang tahun pada 11 Desember mendatang itu juga turut bersuara soal korupsi. Rhoma mengklaim dirinya termasuk pegiat antikorupsi, bahkan sebelum lahirnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Sebelum Indonesia membentuk KPK, saya sudah menciptakan lagu agar negara ini turut memberantas korupsi," ujar Rhoma.

"Anda lihat lagu saya. Sebelum negara internasional menyatakan kebebasan beragama, tahun 1980 saya sudah menyatakan kebebasan beragama, kebebasan HAM," ungkapnya.

Ada lagi soal tarik ulur jilbab polwan. Rhoma Irama tidak mempermasalahkan penundaan pemakaian jilbab bagi polwan. Selama penundaan tersebut masih masuk akal. Namun dia meminta, penundaan berjilbab untuk polwan tidak terlalu lama. Kali ini, Rhoma tampil keminggris lagi.

"Seandainya ada penundaan, sejauh reasonable (masuk akal) misal karena belum siap seragam, belum siap dana, barangkali itu masih kita terima. Menggunakan jilbab bagi orang beragama itu merupakan hak asasi. Mudah-mudahan alasan reasonable. Tidak terlalu lama," katanya.

Ngarep Jokowi

Satu lagi yang tak ketinggalan turut dibahas Rhoma, masalah Pilpres 2014. Jika melaju sebagai capres nanti, dia pasti membutuhkan cawapres. Dan sosok yang paling ideal untuk mendampinginya nanti menurutnya adalah Jokowi.

"Kalau Rhoma pasangan sama Jokowi sangat mungkin. Ini bisa jadi pasangan ideal. Saya rasa seperti itu," harap Rhoma. 

Sama seperti Gubernur DKI Jakarta bernama lengkap Joko Widodo itu, Rhoma juga mengklaim dirinya sebagai sosok yang merakyat. "Saya lihat beliau orang yang merakyat. Lalu, dangdut itu kan segmennya rakyat dan punya rakyat."

Sekali lagi, Rhoma tampil keminggris. "Seandainya jadi merger kan jadi komplit. Tapi memang ini masih wacana."

Padahal, Rhoma pernah punya pengalaman kurang manis dengan Jokowi dan Wagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat Pilgub DKI 2012 lalu. Saat itu Rhoma pernah berceramah yang berbau SARA terkait pasangan itu hingga akhirnya menjadi polemik.

Sekali lagi, dengan pengalamannya, pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 1946 silam itu yakin mampu menjadi politisi yang bersaing dalam ajang Pilpres 2014 mendatang. Dia optimistis, tidak memerlukan masa transisi untuk beralih dari seniman menjadi politisi dan capres.

"Untuk jadi capres saya sebetulnya tidak perlu mentransformasi dari seniman ke politik. Kalau Anda lihat musik Rhoma. Di sana ada politik, ada agama dan seni. Visi-misi saya tidak dalam pencapresan saja. Tapi jauh sebelum ini," pungkas Rhoma.


Seribu satu macam itu bidang pekerjaan
Dari jadi pengamen sampai jadi seorang presiden
Seribu satu macam cara orang mencari makan
Dari menjual koran sampai menjual kehormatan

Ada cara yang halal, ada cara yang haram
Silakan mau pilih cara mana
Namun semua cara ada tanggung jawabnya
Di hadapan Tuhan dan manusia

(Ndy)