Menembus Medan Berat Demi Kurban Warga Kepulauan

Bagi warga kepulauan Maluku yang sehari-hari menyantap ikan, daging kurban sebuah kemewahan.

Diterbitkan 31 Mei 2026, 04:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bumi Seribu Pulau. Begitulah julukan melekat pada kota indah bernama Maluku. Wilayah timur Indonesia ini memang mayoritas perairan.

Lebih dari seribu gugusan pulau kecil tersebar di Maluku. Tak heran, jika sesekali menemukan antar dusun di satu desa saja, bisa berbeda pulau.

Sebagai wilayah kepulauan, ikan segar dan hasil laut lainnya bukan barang mahal di sini. Meski mudah didapat, soal kualitas dijamin kelas atas.

Bisa dikatakan, ikan menjadi menu andalan warga di kepulauan berekonomi pas-pasan. Cukup berjalan kaki beberapa meter dari rumah, tinggal memancing dan urusan hidangan selesai.

Sementara untuk lauk ayam atau daging hanya dimakan di waktu tertentu. Itupun jika uang ada untuk membeli. Kalau tidak, mereka tak memaksakan. Sebab menyantap daging dan ayam memang suatu kemewahan.

"Untuk makan daging atau ayam, kami harus ke pasar. Butuh uang lebih untuk pergi ke pasar. Kalau kami memotong ternak? Kami bukan untung," cerita Ibu Ani saat bertemu Liputan6.com di Dusun Rohua, Desa Sepa, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah, Jumat (29/6/2026).

Apa yang dikisahkan Ibu Ani nyaris sama dengan warga kepulauan lainnya di Maluku. Kondisi ini mengetuk hati.

Lewat dana kurban yang dihimpun dari masyarakat, sejumlah pulau terpencil di Maluku bergembira di Idul Adha tahun ini. Mereka mendapat bantuan hewan kurban dari Dompet Dhuafa. Total ada tujuh daerah di Maluku, dengan jumlah hewan 108 sapi dan 10 kambing.

"Alhamdulillah jumlah hewan kurban dan jumlah penerima meningkat," kata La Januri, pimpinan cabang Dompet Dhuafa Maluku.

 

Perjuangan Demi Menyalurkan Daging Kurban

Jurnalis Liputan6.com mendapat kesempatan melihat beratnya medan dihadapi untuk menyalurkan hewan kurban. Ada empat wilayah didatangi. Desa Wabloi dan Dusun Wamana Baru di Pulau Buru, Pulau Tiga, Desa Sepa di Kabupaten Maluku Tengah. Jumlah hewan kurbannya, lima sapi di Pulau Buru, tiga ekor di Pulau Tiga dan tiga ekor di Desa Sepa.

Dari empat wilayah dikunjungi tantangan dihadapi tak main-main. Tim penyalur harus menempuh perjalanan darat dan laut berjam-jam dari antar pulau.

Seperti saat menuju Pulau Buru. Tim harus menempuh perjalanan delapan jam lebih. Kemudian menyeberangi sungai dengan rakit dan bermalam di rumah warga yang masih minim pencahayaan dan jaringan telekomunikasi.

Begitu juga ketika mengunjungi desa pedalaman Wabloi. Butuh perjalanan dua jam lebih menggunakan mobil dengan kecepatan tinggi dari pusat kota Ambon. Jalurnya menanjak dan menurun.

Tim juga harus kembali menyeberangi perairan Maluku Tengah dengan perahu motor untuk sampai ke Pulau Tiga setelah menempuh perjalanan 3 jam dari Ambon ke Desa Ureng. Khusus di Pulau Tiga, sapi sumbangan kurban juga dikirim langsung melalui jalan darat dari Ambon kemudian diseberangkan dengan perahu motor.

"Ketibaan sapi-sapi itu disambut warga Pulau Tiga dengan suka cita," ujar Januri.

Penyaluran ke Desa Sepa, Masohi, Maluku Tengah juga tak kalah menantang. Tim harus menyeberang dari Ambon ke Desa Sepa, Masohi dengan kapal cepat. Jarak tempuh 2 jam dengan ombak sangat kencang. Jika tak biasa, perut akan terkocok. Bikin mual dan mau muntah.

Tetapi, semua perjuangan itu tak berarti apa-apa. Dibandingkan senyum tulus warga penerima hewan kurban yang tampak begitu antusias.

Pria akrab disapa Jai ini mengatakan, banyak warga tak mampu membeli daging sapi untuk santapan sehari-hari. Harganya tak sesuai dengan penghasilan harian. Itu sebabnya, makan daging sapi adalah kemewahan tak tergantikan. Sebuah bahagia yang sederhana bagi masyarakat kepulauan Maluku.

"Sebenarnya ini belum ideal. Banyak daerah belum terjangkau. Tapi kami berkomitmen, setiap tahun jumlah hewan kurban bertambah dan penerima manfaat lebih banyak," tutup Januri tersenyum.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6