Sandiaga Dukung Aksi Penyelamatan Sungai Indonesia: Dari Limbah Jadi Berkah

Sandiaga menyebut sangat mendukung Sungai Watch karena gerakan ini sangat erat dengan visi agenda Sustainable Development Goals (SDGs).

Diterbitkan 30 Mei 2026, 16:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Aksi penyelamatan lingkungan yang digagas Sungai Watch mendapat banyak dukungan dari berbagai tokoh publik hingga masyarakat. Gerakan bersih-bersih sungai di Indonesia itu mendapat dukungan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2020-2024, Sandiaga Uno.

Sungai Watch adalah organisasi lingkungan nirlaba (Yayasan) di Indonesia yang didirikan pada tahun 2020 oleh tiga bersaudara yakni Gary, Sam, dan Kelly Bencheghib. Organisasi ini memiliki misi utama untuk membersihkan dan memulihkan sungai dari pencemaran plastik sebelum sampah tersebut mengalir dan mencemari lautan.

Selama 58 hari, Sungai Watch melakukan kampanye bertajuk ‘Run for Rivers’ untuk pembersihan sungai dengan cara berlari melintasi 5 provinsi serta 36 kabupaten/kota di Bali dan Jawa. Gary, Kelly, dan Sam Bencheghib berhasil menuntaskan misi berlari sepanjang 1.260 kilometer di mana mereka melintasi jalan pesisir, koridor industri, dan desa-desa terpencil.

Aksi yang melibatkan banyak tokoh publik, aktivis, dan relawan ini telah tuntas dilakukan pada akhir pekan lalu di mana Gary, Kelly, dan Sam Bencheghib mengakhiri ekspedisi Run for Rivers dengan berlari sejauh 25 km di wilayah Jakarta. Titik akhirnya ada di Monas, Jakarta Pusat.

Kegiatan lari bersama Sungai Watch di Jakarta diikuti oleh berbagai komunitas, pegiat lingkungan, bahkan oleh selebriti seperti Hamish Daud. Kampanye ini pun mendapat dukungan dari berbagai tokoh, seperti dari Sandiaga Uno yang berkesempatan bertemu langsung dengan Gary dan Sam Bencheghib.

“Saya apresiasi setinggi-tingginya teman-teman yang sangat luar biasa, Gary, Kelly, dan Sam Bencheghib pendiri Sungai Watch yang berhasil menuntaskan ekspedisi lari ‘Run for Rivers’ dari Bali ke Jakarta sejauh 1.200 KM,” kata Sandiaga, Sabtu (30/5/2026).

“Mereka lari dari Bali ke Jakarta, bukan buat cari sensasi. Tapi buat menyelamatkan sungai kita yang sudah banyak sampah dan tercemar,” imbuhnya.

Sandiaga mengatakan mendukung gerakan Sungai Watch yang selama ekspedisi Run for Rivers telah memetakan titik sungai yang tercemar sepanjang rute mereka lari. Gary, Kelly, dan Sam Bencheghib juga menggalang dana untuk mengangkat jutaan kilogram sampah plastik dari sungai yang tercemar.

“Semoga kita semakin sadar menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama,” jelas Sandiaga.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2020-2024 ini pun mengungkap alasannya mendukung gerakan Sungai Watch. Sandiaga menyebut sangat mendukung Sungai Watch karena gerakan ini sangat erat dengan visi agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

“Ini adalah gerakan green economy karena sungai yang bersih itu modal utama untuk memajukan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan,” jelasnya.

“Gerakan ini juga membawa agenda circular economy karena sampah yang diselamatkan Sungai Watch diolah lagi menjadi barang bernilai ekonomi tinggi. Dari limbah jadi berkah!” lanjut Sandiaga.

Fokus Utama

Adapun Sungai Watch memang memiliki sejumlah fokus utama dari kegiatan mereka yang meliputi pemasangan penghalang sampah (Trash Barriers) sederhana di berbagai aliran sungai di Indonesia untuk menahan dan mengumpulkan sampah plastik.

Kemudian pembersihan rutin sungai dan pemilahan sampah yang terkumpul di mana dampah-sampah ini kemudian didaur ulang atau dikelola kembali, serta melakukan program edukasi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran warga sekitar akan pentingnya menjaga kebersihan sungai.

Dalam ekspedisi Run For Rivers yang dimulai pada 28 Maret 2026, Sungai Watch berhasil mengumpulkan 22.076 kg plastik. Di antara setiap kilometer yang ditempuh, Sungai Watch juga mengadakan aksi bersih-bersih sungai bersama relawan, mengunjungi sekolah-sekolah, bertemu dengan para gubernur dan walikota/bupati, serta mendokumentasikan krisis plastik sebagaimana yang sebenarnya terjadi di lapangan.

“Kami berlari setiap hari selama hampir dua bulan. Beberapa hari terasa sangat berat karena panas, jarak, dan beban dari apa yang kami lihat di sungai-sungai ini,” kata Gary Bencheghib.

“Namun, setiap aksi bersih-bersih, kunjungan sekolah, dan komunitas yang ikut berlari bersama kami selalu mengingatkan kami mengapa kami memulai ini semua,” sambungnya.

Perjalanan selama 58 hari itu mencakup 4 provinsi, 21 wilayah, serta beberapa jalur air paling tercemar di Indonesia. Mereka juga mendokumentasikan 108 tempat pembuangan sampah liar yang baru, menambah 477 lokasi yang sudah dipetakan oleh Sungai Watch hingga saat ini.

Pada ekspedisi Run For Rivers, Sungai Watch berhasil mengerahkan 4.212 relawan untuk aksi bersih-bersih sungai di sepanjang rute perjalanan, di mana 60% di antaranya adalah pelajar. Sungai Watch juga melakukan edukasi melalui kegiatan bersama 21 acara dengan 4.159 peserta di 13 sekolah dan komunitas.

"Aksi lari ini telah membantu kami memetakan realitas sampah dan sungai di seluruh Jawa dengan cara yang tidak akan pernah bisa dilakukan oleh citra satelit. Kami sekarang tahu persis ke mana Sungai Watch harus melangkah selanjutnya,” ungkap Kelly Bencheghib.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6