Menag: Pembagian Daging Kurban Berkontribusi Cegah Stunting

Menag Nasaruddin Umar menegaskan bahwa ibadah kurban pada Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah berkontribusi nyata dalam pemenuhan gizi keluarga dan mendukung upaya pencegahan stunting di Indonesia

Diterbitkan 27 Mei 2026, 08:26 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Distribusi daging kurban strategis untuk ketahanan pangan dan menekan stunting.
  • Daging kurban bukan hanya ritual, tapi sumber gizi penting bagi masyarakat.
  • Semangat kurban mendorong solidaritas sosial, gotong royong, dan keadilan.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyoroti dampak sosial dan kesehatan dari pelaksanaan ibadah kurban pada Hari Raya Iduladha 1447 H / 2026 M. Menag menyatakan, distribusi daging kurban memiliki peran strategis sebagai langkah konkret untuk menguatkan ketahanan pangan serta berkontribusi langsung dalam menekan angka tengkes (stunting).

Menurut Nasaruddin, esensi dari ibadah kurban tidak boleh dilihat sebatas ritual keagamaan atau simbol semata. Kandungan nutrisi pada daging kurban dinilai menjadi stimulus penting untuk membantu pemenuhan gizi masyarakat yang membutuhkan.

“Daging kurban yang dibagikan bukan hanya simbol, tetapi bentuk konkret kepedulian, menguatkan ketahanan pangan dan protein keluarga, membantu masyarakat yang membutuhkan, dan berkontribusi pada upaya pemenuhan gizi, termasuk dalam pencegahan stunting,” ujar Nasaruddin Umar dalam siaran persnya, Selasa (26/5/2026).

Menag menjelaskan, keteladanan yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengajarkan umat manusia untuk selalu mendahulukan kemaslahatan publik yang lebih besar. Nilai pengorbanan dan kepedulian inilah yang dinilai harus mewujud dalam kehidupan berbangsa, salah satunya melalui pemenuhan hak gizi anak-anak kurang mampu.

 

Energi Solidaritas dan Keadilan Sosial

Lebih lanjut, Nasaruddin menyebut bahwa semangat berkurban merupakan energi kebersamaan yang mampu menggerakkan solidaritas sosial serta memperkuat tradisi gotong royong di tengah dinamika kehidupan bermasyarakat.

“Semangat berkurban adalah energi kebersamaan. Ia menggerakkan solidaritas, memperkuat gotong royong, dan menghadirkan keadilan sosial. Dari sinilah kita membangun bangsa, dari kepedulian yang sederhana, tetapi berdampak luas,” tutur Menag.

Ia pun mengimbau seluruh umat Islam yang merayakan Iduladha untuk mengoptimalkan pendistribusian hewan kurban agar tepat sasaran dan memberikan dampak kesejahteraan yang merata bagi sesama.

“Mari kita jadikan Iduladha sebagai momentum untuk memperluas manfaat, memperkuat empati, dan memastikan bahwa setiap ibadah yang kita lakukan memberi dampak bagi sesama,” pungkasnya.

Berdasarkan hasil sidang isbat yang digelar Kementerian Agama pada 17 Mei 2026 lalu, pemerintah telah menetapkan 1 Zulhijjah 1447 H jatuh pada 18 Mei 2026. Dengan ketetapan tersebut, Hari Raya Iduladha 1447 H di Indonesia dirayakan pada Rabu, 27 Mei 2026.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6