Demo Buruh di Depan Gedung DPR Selesai, Jalan Gatot Subroto Lengang

Aksi peringatan Hari Buruh di depan Gedung DPR/MPR berakhir sekitar sore hari.

Diterbitkan 01 Mei 2026, 19:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Aksi buruh May Day 2026 di DPR menuntut upah layak dan setop PHK massal.
  • KASBI menyoroti upah rendah, jam kerja panjang, dan skema labour flexibility.
  • Unjuk rasa berakhir sore hari, area DPR bersih, lalu lintas kembali normal.

Liputan6.com, Jakarta - Gelaran unjuk rasa atau demo dalam peringatan hari buruh Internasional di depan gedung DPR/MPR, Jumat (1/5/2026) telah berakhir.

Berdasarkan pantauan Liputan6.com, massa aksi mulai meninggalkan lokasi sejak pukul 17.40 WIB. Beberapa mobil komando (mokom) juga sudah dikerahkan untuk mundur.

Hingga pukul 18.00 WIB, area lokasi depan gedung DPR sudah mulai lengang. Hanya tersisa sejumlah massa aksi dari warga sipil.

Tak berselang lama,  petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) atau pasukan oranye hadir dan langsung menyisir lokasi untuk membersihkan area tersebut.

Pukul 19.00 WIB, area depan gedung DPR/MPR sudah kembali bersih. Para pedagang makanan dan minuman juga sudah mulai pergi dari lokasi aksi, hanya tinggal beberapa saja.

Saat ini, jalan Gatot Subroto depan gedung DPR/MPR sudah kembali dibuka normal untuk pengendara motor dan mobil. Pintu keluar tol ke arah Palmerah juga sudah dibuka kembali.

Buruh Tuntut Upah Layak dan Setop PHK Massal

Sebelumnya, massa buruh menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR dalam peringatan May Day 2026, Jumat (1/5/2026). Aksi ini turut dihadiri oleh Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) yang tergabung dalam aliansi GEBRAK (Gerakan Buruh Bersama Rakyat).

Unjuk rasa dimulai sekitar pukul 13.30 WIB. Pantauan Liputan6.com, hingga pukul 15.00 WIB, massa buruh masih memadati kawasan gedung DPR/MPR, meski sebagian peserta telah mulai meninggalkan area tersebut.

Sejumlah buruh turut bergantian memberikan orasinya di mobil komando (mokom). Anggota Konfederasi KASBI tampak kompak mengenakan seragam berwarna merah.

Tak hanya buruh, aksi ini turut dihadiri oleh berbagai organisasi mahasiswa hingga organisasi independen lainnya. Masing-masing kelompok membawa bendera sebagai simbol organisasi.

Unjuk rasa ini juga diramaikan oleh berbagai musisi seperti Black Horses, The Brandals, Efek Rumah Kaca, dan lainnya.

Singgung Upah Rendah hingga K3 Buruh

Ketua Umum Konfederasi KASBI, Sunarno, menegaskan unjuk rasa ini adalah aksi independen dan berbeda dari perayaan May Day Fiesta di Lapangan Silang Monas.

"KASBI dan Aliansi GEBRAK tidak bergabung ke acara May Day Fiesta di Monas bareng Presiden karena kondisi perburuhan secara riil memang masih sangat memprihatinkan," ungkap Sunarno, Jumat (1/5/2026).

Sunarno menyoroti berbagai permasalahan yang sering kali masih dirasakan oleh kaum buruh. Mulai dari upah rendah dibawah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), jam kerja panjang, tak ada jaminan sosial, pelanggaran Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), dan lain sebagainya.

Dia juga menilai skema labour flexibility bisa sangat merugikan para buruh. Menurutnya, kondisi ini sangat memprihatinkan.

"Skema labour market fleksibility, yaitu sistem kerja yang memberikan kelonggaran atas pemenuhan hak-hak normatif kaum buruh, atau sistem kerja yang mengarah pada informalisasi tenaga kerja. Artinya kaum buruh semakin sulit untuk mendapatkan status sebagai pekerja tetap," ungkap dia.

Dalam perayaan May Day 2026, Sunarno mengatakan Konfederasi KASBI bersama Aliansi GEBRAK memiliki 10 tuntutan. Baginya, May Day bukan sekadar libur nasional, tapi momentum refleksi atas komitmen kesetaraan, keadilan sosial, dan martabat manusia di tempat kerja.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6