Mengapa Hari Pendidikan Nasional 2 Mei Penting? Menelusuri Sejarah dan Makna Hardiknas

Setiap 2 Mei, Indonesia memperingati hari pendidikan nasional untuk mengenang Ki Hadjar Dewantara. Peringatan ini menjadi momen refleksi sejarah dan peningkatan

Diterbitkan 27 April 2026, 13:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) adalah momen penting yang diperingati setiap tanggal 2 Mei di seluruh Indonesia. Peringatan ini didedikasikan untuk menghargai peran krusial pendidikan dalam pembangunan bangsa. Tanggal ini dipilih secara khusus untuk memperingati kelahiran sosok pelopor pendidikan nasional.

Ki Hadjar Dewantara, seorang tokoh visioner dan pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa, adalah alasan utama di balik penetapan Hardiknas.

Jasa-jasanya dalam memperjuangkan akses pendidikan bagi pribumi di era kolonial menjadi landasan kuat peringatan hari pendidikan nasional ini. Hardiknas menjadi pengingat akan perjuangan panjang demi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Meskipun bukan hari libur nasional, Hardiknas dirayakan dengan berbagai kegiatan, mulai dari upacara bendera hingga seminar pendidikan.

Peringatan ini bertujuan untuk merefleksikan kembali kondisi pendidikan di Tanah Air dan membangkitkan semangat untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Ini adalah momentum untuk menyadari bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan.

Sejarah dan Penetapan Hari Pendidikan Nasional

Hari Pendidikan Nasional, yang disingkat Hardiknas, merupakan hari nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei.

Penetapan tanggal ini secara resmi dilakukan oleh pemerintah Indonesia sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Ia lahir pada tanggal tersebut di Pakualaman, Yogyakarta, pada tahun 1889.

Penetapan Hardiknas melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959 pada tanggal 16 Desember 1959, yang kemudian dipertegas dalam Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 305 Tahun 1959.

Keputusan ini menggantikan tanggal peringatan sebelumnya yang sempat dirayakan setiap 28 Juli. Perubahan ini menunjukkan fokus pemerintah dalam mengapresiasi kontribusi Ki Hadjar Dewantara.

Ki Hadjar Dewantara, dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, dikenal karena keberaniannya menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda yang diskriminatif.

Pada masa itu, pendidikan eksklusif hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu, membatasi kesempatan rakyat pribumi. Perjuangan ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan nasional.

Jejak Perjuangan Ki Hadjar Dewantara

Kritiknya yang tajam terhadap sistem pendidikan kolonial mengakibatkan Ki Hadjar Dewantara diasingkan ke Belanda. Namun, pengasingan tersebut tidak memadamkan semangatnya untuk memperjuangkan pendidikan bagi bangsanya. Sekembalinya ke Indonesia, ia mendirikan lembaga pendidikan Taman Siswa pada tahun 1922.

Taman Siswa didirikan dengan tujuan mulia, yaitu memberikan akses pendidikan yang merata bagi seluruh rakyat pribumi, tanpa memandang status sosial. Lembaga ini menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan pendidikan dan fondasi bagi sistem pendidikan yang lebih inklusif di Indonesia. Ini merupakan langkah revolusioner pada masanya.

Filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara sangatlah mendalam, berakar pada nilai-nilai kemerdekaan, kesetaraan, dan pengembangan karakter.

Tiga semboyan terkenalnya, Ing Ngarsa Sung Tuladha (di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah memberi semangat), dan Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan), menjadi pilar utama.

Semboyan "Tut Wuri Handayani" bahkan telah diadopsi sebagai slogan resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, peran Ki Hadjar Dewantara semakin diakui. Beliau dipercaya untuk menjabat sebagai Menteri Pendidikan pertama Republik Indonesia, sebuah posisi yang sangat strategis dalam membangun fondasi pendidikan negara yang baru merdeka. Dedikasinya terus menginspirasi generasi penerus.

Makna dan Tujuan Peringatan Hardiknas

Peringatan hari pendidikan nasional memiliki makna yang sangat mendalam bagi bangsa Indonesia.

Salah satu tujuan utamanya adalah untuk mengenang dan menghargai jasa-jasa para pahlawan pendidikan, khususnya Ki Hadjar Dewantara, yang telah berjuang demi kemajuan pendidikan di Tanah Air. Ini adalah bentuk penghormatan atas pengorbanan mereka.

Hardiknas juga menjadi momen krusial untuk melakukan refleksi dan evaluasi terhadap kualitas pendidikan di Indonesia. Peringatan ini mendorong seluruh elemen masyarakat untuk terus berupaya meningkatkan standar pendidikan, memastikan bahwa setiap anak bangsa mendapatkan akses pendidikan yang layak dan berkualitas. Tujuannya adalah menciptakan generasi yang cerdas dan berkarakter.

Lebih lanjut, Hardiknas bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya peran pendidikan dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing.

Pendidikan bukan hanya sekadar transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter, kemampuan berpikir kritis, serta literasi yang kuat. Ini adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

Peringatan ini juga melambangkan kemenangan atas "kegelapan ketidaktahuan" yang pernah dipelihara oleh rezim kolonial.

Hardiknas memotivasi untuk memberikan apresiasi kepada para guru dan tenaga pendidik atas dedikasi mereka yang tak kenal lelah, sekaligus membangkitkan semangat belajar di seluruh lapisan masyarakat.

Perayaan dan Landasan Hukum Pendidikan

Meskipun bukan hari libur nasional, Hardiknas dirayakan secara meriah di berbagai instansi pendidikan dan pemerintahan di seluruh Indonesia. Biasanya, perayaan ditandai dengan pelaksanaan upacara bendera, mulai dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi, serta di kantor-kantor pemerintahan. Upacara ini seringkali diiringi dengan pidato bertema pendidikan.

Selain upacara, berbagai kegiatan positif bertema pendidikan juga seringkali diselenggarakan untuk memeriahkan Hardiknas.

Kegiatan tersebut meliputi lomba-lomba edukatif, seminar, lokakarya, hingga kampanye literasi yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan belajar masyarakat. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) seringkali menetapkan tema khusus setiap tahunnya, seperti tema Hardiknas 2024 "Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar".

Tujuan pendidikan nasional di Indonesia secara fundamental diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3. Undang-undang ini secara eksplisit menyatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan kemampuan serta membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat. Ini merupakan landasan hukum yang kuat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6