Pengelolaan Sampah TPA Burangkeng Bekasi Lumpuh Imbas Krisis BBM, Begini Kondisinya

Aktivitas pengelolaan sampah di TPA Burangkeng, Bekasi, lumpuh akibat krisis bahan bakar.

Diterbitkan 25 April 2026, 08:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • TPA Burangkeng lumpuh akibat krisis BBM industri, menghentikan operasional alat berat.
  • Kelangkaan BBM diduga dampak perang Iran-Israel, menyebabkan antrean truk sampah.
  • Kenaikan harga BBM drastis memicu penyesuaian kontrak dan ancaman layanan sampah.

Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas pengelolaan sampah di TPA Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, lumpuh akibat krisis bahan bakar. Kondisi ini menyebabkan puluhan alat berat yang bertugas menata gunungan sampah tidak dapat beroperasi.

Dampaknya, distribusi sampah ikut terganggu. Puluhan truk pengangkut terpaksa mengantre panjang di sepanjang akses masuk hingga area parkir TPA. Armada tersebut tertahan dengan muatan penuh karena tidak dapat menjangkau titik pembuangan.

"Situasi seperti ini baru kali ini terjadi, alasannya karena operator kesulitan mendapatkan pasokan BBM industri," tutur Kepala UPTD TPA Burangkeng pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi, Samsuro di lokasi, dikutip Sabtu (25/4/2026), seperti dilansir dari Antara.

Ia menjelaskan, dalam kondisi normal, pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) industri jenis solar untuk operasional alat berat biasanya langsung dikirim setelah pemesanan. Namun, saat ini terjadi keterlambatan distribusi.

"Biasanya pesan langsung dikirim. Sekarang mulai sulit. Katanya karena BBM industri lagi naik-naiknya. Kedua karena penyedianya memang agak sulit mendapatkan katanya. Pesan kemarin dikirimnya bisa berhari-hari. Sekarang nggak sampai-sampai. Sulit dapat," jelas dia.

Samsuro menyebutkan, TPA Burangkeng memiliki 22 unit alat berat yang masing-masing mengonsumsi sekitar 150 liter BBM per hari, sehingga total kebutuhan mencapai 3.000 liter setiap hari.

 

Diduga Dampak Perang Iran-Israel

Seluruh alat berat tersebut merupakan milik pihak ketiga dalam skema sewa. Meski penyediaan BBM termasuk dalam paket kerja sama, seluruh unit kini berhenti beroperasi. Kelangkaan ini diduga dipicu lonjakan harga energi fosil akibat kondisi geopolitik global.

"Sudah gitu sekarang barangnya tidak ada lagi. Katanya ini dampak dari perang itu yang di Iran-Israel," kata dia.

Samsuro menambahkan, pihak ketiga selaku penyedia alat berat telah mengajukan perubahan kontrak kerja karena kenaikan harga BBM industri yang dinilai tidak wajar, dari Rp15.000–Rp16.000 per liter menjadi sekitar Rp 35 ribu per liter.

"Memang sudah ada semenjak minggu kemarin, permohonan penyesuaian harga. Harga sewanya disesuaikan lagi karena kondisi harga BBM yang melambung tinggi," ungkapnya.

Meski dampak langsung terhadap masyarakat belum terlihat signifikan, gangguan layanan pengangkutan sampah berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan jika pasokan BBM belum kembali normal.

"Karena kondisi truk-truk sampah ini masih terjebak di dalam TPA dan tidak bisa kembali ke wilayah tugas masing-masing. Dan ini yang kami khawatirkan, soal pelayanan. Semoga segera ada," Samsuro menandaskan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6