Liputan6.com, Jakarta - Nama Arief Kamaruddin belakangan semakin dikenal publik. Lewat akun media sosial, pegiat lingkungan asal Lenteng Agung, Jakarta Selatan ini kerap membagikan aktivitasnya menangkap ikan sapu-sapu, spesies invasif yang dinilai turut memperparah rusaknya kondisi ekosistem di Kali Ciliwung.
Namun, di balik perhatian publik yang kini tengah mengarah padanya, apa yang dilakukan Arief berangkat dari kebiasaan sederhana yang dia gandrungi sejak masih kecil.
“Kalau ditanya sejak kapan saya terlibat dalam membersihkan ikan sapu-sapu, ya dari kecil banget ya. Seingat saya sekitar SMP. Memang dari kecil hobi saya nyari ikan, ngejala. Tapi setiap ngejala di Kali Ciliwung, kebanyakan dapat sapu-sapu,” kata Arief kepada Liputan6.com, dikutip Rabu (15/4/2026).
Advertisement
Kebiasaan menjala ikan sejak kecil itu perlahan memunculkan keresahan. Arief heran, alih-alih mendapatkan ikan konsumsi, dia justru terus-menerus berhadapan dengan ikan sapu-sapu, bahkan dalam jumlah besar.
“Saya ngejala itu enggak pengen dapat sapu-sapu. Emang pengen dapat ikan yang bisa dikonsumsi. Tapi karena saking banyaknya, dapetnya sapu-sapu mulu. Di situlah timbul keresahan, kenapa sih sapu-sapu banyak?” ujarnya.
Dari rasa penasarannya itulah Arief lambat laun mulai mempelajari ikan sapu-sapu lebih jauh. Dia kemudian memahami bahwa keberadaan ikan sapu-sapu bukan sekadar mengganggu, tetapi juga berdampak pada keseimbangan ekosistem.
Di usianya yang kini sudah 34 tahun, Arief tidak pernah membayangkan aktivitas membersihkan ikan sapu-sapu yang dia lakukan hingga sekarang akan mendapat perhatian dari khalayak luas.
“Saya cuma melakukan yang saya bisa, atas dasar keresahan pribadi, lalu saya tuangkan di sosial media,” tuturnya.
Aktivitas Arief yang rutin menangkap ikan sapu-sapu itu, kini juga turut mendapatkan perhatian dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Terlebih, populasi ikan sapu-sapu di wilayah ibu kota saat ini menjadi sorotan karena kian hari makin membludak.
Tantangan Membersihkan Ikan Sapu-sapu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5555793/original/069425600_1776218264-WhatsApp_Image_2026-04-15_at_08.55.54__1_.jpeg)
Dalam kegiatannya, Arief menggunakan metode konvensional seperti jala untuk menangkap ikan sapu-sapu beserta telur-telurnya. Dalam satu hingga tiga jam, dia bisa menangkap sekitar 30 hingga 50 ekor ikan sapu-sapu per hari.
Namun, di balik angka tersebut, ada tantangan yang tidak ringan. Kali Ciliwung dinilai Arief sangat berisiko bagi siapa saja yang masuk ke dalamnya.
“Kondisi Ciliwung itu sangat menantang. Banyak benda berbahaya seperti paku, beling, ranting tajam. Ada risiko tenggelam, bahkan tergigit ular berbisa,” ungkapnya.
Dia juga menegaskan bahwa apa yang terlihat di media sosial tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.
“Kelihatannya di sosial media saya happy-happy. Tapi sebenarnya setiap hari saya turun itu bertaruh nyawa,” ujar Arief.
Advertisement
Ikan Sapu-sapu Bukan Faktor Utama Kerusakan Ekosistem Ciliwung
Kendati ikan sapu-sapu kerap dituding dapat merusak ekosistem sungai serta berdampak pada hilangnya habitat ikan di perairan lokal, Arief menekankan bahwa persoalan utama di Kali Ciliwung berakar pada permasalahan sampah dan limbah.
“Penyebab utama rusaknya ekosistem itu sampah dan limbah. Sapu-sapu itu memperparah, tapi bukan satu-satunya masalah,” kata Arief.
Menurutnya, upaya pemusnahan ikan sapu-sapu juga bukan perkara mudah karena populasinya yang bisa berkembang biak dengan pesat. “Itu kayak ngalahin lawan yang nggak bisa dikalahin. Hampir mustahil,” ucapnya.
Sebagai alternatif, dia mendorong pendekatan pemanfaatan agar ikan tersebut memiliki nilai ekonomis dan secara perlahan populasinya bisa ditekan.
“Saya kasih gambaran seperti ini ya, misalnya, ke depan sudah ada penelitian tentang sapu-sapu dan bisa dijadiin pupuk, misalnya. Pada akhirnya kan punya nilai ekonomis gitu ya. Kalau sapu-sapu pada akhir punya nilai ekonomis, pasti akan banyak yang nyari itu,” kata dia.
Arief berharap perhatian publik terhadap isu ikan sapu-sapu dapat menjadi pintu masuk untuk meningkatkan kesadaran merawat lingkungan yang lebih luas.
“Harapan saya, gara-gara sapu-sapu jadi perhatian, orang makin melek bahwa masalah sebenarnya adalah sampah dan limbah,” tuturnya.
Menurutnya, perbaikan ekosistem hanya bisa terjadi jika berbagai persoalan ditangani secara bersamaan. Arief pun menyampaikan pesan sederhana kepada masyarakat.
Sementara untuk pemerintah, dia menilai regulasi yang ada sebenarnya sudah cukup baik, namun perlu dioptimalkan pelaksanaannya. Selain itu, dia menekankan pentingnya kerja sama lintas wilayah dalam menangani persoalan kali Ciliwung.
“Kalau cuma satu wilayah yang bergerak, hasilnya nggak akan maksimal. Harus kerja sama semua pihak,” tandasnya.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8672103/original/092674300_1782711428-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T123620.816.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8673310/original/025399100_1782713964-cek_fakta_purbaya_pensiunan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8668432/original/066093000_1782703201-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T101610.906.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5555792/original/058472100_1776218264-WhatsApp_Image_2026-04-15_at_08.55.54.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3884476/original/045757800_1764335001-WhatsApp_Image_2025-11-28_at_20.01.56.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8633516/original/070380800_1782633001-photo-collage.png__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8674531/original/079790200_1782716407-AP26177104053905.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259253/original/099827400_1781493084-AP26165774269127.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4864218/original/041026400_1718404435-AP24166759629724.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263966/original/082388400_1782038241-000_B7RC3ZV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5415752/original/060786800_1763419826-000_84BP8PA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8525155/original/017274300_1782455154-AP26176798846634.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8452334/original/003376600_1782349228-ney.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259033/original/064642600_1781436681-000_B6Z637Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8668326/original/051794500_1782703035-AP26179791541483.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5555691/original/007997700_1776184139-IMG-20260414-WA0035.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5555558/original/087816600_1776163899-044980700_1447139855-Kantor_PDRI_dan_saksi_Sejarah_PDRI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5555729/original/025458100_1776207041-Sekolah-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5555659/original/036997300_1776172066-Jepretan_Layar_2026-04-11_pukul_20.03.02.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5555688/original/068475400_1776182317-86167.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5555693/original/074085200_1776184819-WhatsApp_Image_2026-04-14_at_22.07.07__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5555684/original/005960700_1776181152-WhatsApp_Image_2026-04-14_at_22.07.07__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5553289/original/016345400_1775927447-10.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5423799/original/062769200_1764086898-Jepretan_Layar_2025-11-22_pukul_23.03.33.png)