Anggota DPR Aboe Bakar Menangis dan Minta Maaf Usai Diperiksa MKD Buntut Singgung Ulama Madura

Aboe Bakar mengaku salah karena ucapannya bisa menciptakan banyak persepsi.

Diterbitkan 14 April 2026, 16:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Aboe Bakar Al-Habsyi menangis dan meminta maaf usai diperiksa MKD DPR.
  • Pernyataan kontroversialnya menyinggung ulama Madura terkait narkoba, menimbulkan multitafsir.
  • Dia mengaku salah dan berjanji lebih hati-hati dalam menyampaikan pandangan publik.

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi III DPR, Aboe Bakar Al-Habsyi menangis usai diperiksa Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR buntut ucapannya yang menyinggung ulama dan tokoh agama terkait narkoba di Pulau Madura. Dia mengaku salah karena ucapannya bisa menciptakan banyak persepsi.

Pernyataan kontroversi itu disampaikan Aboe saat rapat Komisi III DPR RI bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Selasa (7/4/2026).

"Mulai dari Bangkalan, Sampang, Sumenep dan Pamekasan. Warga Madura, ulama-ulama, tokoh-tokoh masyarakat semua. Saya harus mengatakan saya minta maaf," kata Aboe di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Dia pun mengaku sudah memberikan keterangan kepada MKD DPR dalam pemanggilan tersebut. Dia mengatakan tidak ada niat untuk menyudutkan ulama dan pesantren di Madura.

"Perlu saya jelaskan bahwa pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks keprihatinan agar BNN untuk membantu agar narkoba tidak masuk ke wilayah-wilayah pesantren dan masyarakat," katanya.

Dia mengatakan penyebaran narkotika sudah semakin luas di tengah masyarakat hingga menyasar berbagai lapisan. Untuk itu, dia pun mengajak lembaga pendidikan keagamaan untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat pencegahan narkoba.

"Namun saat ini cara penyampaian saya yang kurang tepat. Saya ulangi lagi pernyataan saya kurang tepat. Sehingga menimbulkan multitafsir," katanya.

Janji akan Lebih Hati-Hati Berbicara

Dia menegaskan ulama dan pesantren adalah pilar utama dalam menjaga moral dan akhlak bangsa. Dalam konteks pemberantasan narkoba, menurut dia, peran ulama sangat strategis sebagai garda terdepan dalam edukasi dan pencegahan.

"Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi saya untuk lebih berbaik hati dalam menyampaikan, lebih berhati-hati, maksud saya, dalam menyampaikan pandangan di ruang publik," kata dia.

Dalam dapat Komisi III DPR bersama BNN, Aboe mengatakan bahwa BNN harus berkolaborasi dengan lembaga lainnya, dan mempelajari cara kerja peredaran narkotika, yang sudah merambah ke berbagai lapisan.

Dia pun mencontohkan bahwa diduga ada ulama-ulama dan pesantren-pesantren di Madura yang terlibat dengan narkotika. Dia pun meminta kepada BNN untuk mengecek dan mengonfirmasi kebenaran informasi itu.

"Saya khawatir yang bermain-main ini yang punya posisi atau pebisnis besar," kata Aboe.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6