Memantau Sentimen Seputar Mudik Lebaran 2026 di Media Sosial

Liputan6.com memotret dinamika percakapan publik di ruang digital seputar pelaksanaan mudik dan arus balik lebaran 2026. Berikut hasil analisisnya.

Diterbitkan 07 April 2026, 16:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Mudik adalah tradisi tahunan untuk silaturahmi keluarga setelah Ramadan.
  • Lonjakan mobilitas mudik berpotensi sebabkan kemacetan parah di Jawa.
  • Analisis media sosial menunjukkan sentimen positif dominan (51%) terhadap kelancaran mudik.

Liputan6.com, Jakarta - Tradisi mudik telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama bagi para perantau di sejumlah daerah. Tradisi ini pun seakan menjadi fenomena yang selalu dinantikan masyarakat setiap tahunnya.

Bagi banyak orang, mudik bukan sekadar perjalanan kembali ke kampung halaman. Lebih dari itu, momen ini dimaknai sebagai kesempatan untuk mempererat silaturahmi serta berkumpul bersama keluarga usai menjalani ibadah puasa selama Ramadan.

Tak heran, mudik kerap menjadi momen emosional yang paling dinantikan. Tingginya antusiasme masyarakat pun mendorong lonjakan mobilitas secara signifikan selama periode ini.

Lonjakan volume kendaraan, khususnya di wilayah padat seperti Pulau Jawa, turut berdampak pada meningkatnya arus lalu lintas. Kondisi ini berpotensi memicu kepadatan hingga kemacetan panjang, baik di jalan tol maupun jalur arteri, terutama saat puncak arus mudik dan arus balik lebaran.

 

Sentimen Warganet

Menanggapi fenomena tersebut, Liputan6.com mencoba memotret dinamika percakapan publik di ruang digital. Melalui pemantauan di platform TikTok, YouTube, dan Instagram selama periode 14 hingga 29 Maret 2026, diskursus terkait mudik dan arus balik Lebaran tercatat menghasilkan sedikitnya 5.102 komentar dari sampel 450 unggahan yang diambil di media sosial.

Hasil analisis menunjukkan bahwa sentimen positif mendominasi perbincangan dengan angka mencapai 51% atau sebanyak 2.569 komentar. Warganet terpantau banyak memberikan apresiasi terhadap kelancaran arus lalu lintas dan kesiagaan petugas di lapangan. Ungkapan seperti terima kasih dan rasa syukur atas pengalaman perjalanan yang lancar juga menjadi narasi yang paling sering muncul.

Di sisi lain, sentimen netral tercatat sebesar 28,7% atau 1.447 komentar, yang mayoritas berisi pertanyaan teknis mengenai jadwal rekayasa lalu lintas seperti one way dan kondisi jalur non-tol secara real-time.

Sementara itu, sentimen negatif berada di angka 20,3% atau 1.024 komentar. Keluhan dalam kategori ini umumnya dipicu oleh rasa frustrasi akibat kemacetan di titik-titik krusial serta kendala sistem pada pendaftaran program mudik gratis maupun aplikasi tiket.

Untuk mengetahui lebih lengkap hasil riset tersebut, klik laman berikut ini.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6