Strategi Korlantas Polri Dinilai Sukses Tekan Risiko Kecelakaan Saat Mudik Lebaran 2026

Srategi yang dijalankan Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri dalam pengelolaan arus mudik dinilai menunjukkan hasil positif.

Diterbitkan 10 April 2026, 14:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Akademisi yang juga Guru Besar Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Albertus Wahyurudhanto menilai strategi yang dijalankan Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri dalam pengelolaan arus mudik menunjukkan hasil positif, terutama dalam menekan risiko kecelakaan dan meningkatkan kepuasan masyarakat.

Menurut dia, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari penekanan pada aspek pelayanan kepada masyarakat. Albertus menyebut, selain menjalankan fungsi penegakan hukum dan menjaga keamanan, peran sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan menjadi faktor yang paling dirasakan publik.

"Bukan sekadar cepat, tapi yang utama adalah aman, selamat, dan masyarakat puas. Itu terlihat dari respons publik yang cenderung positif," ujar Albertus, Jumat (10/4/2026).

Dia menjelaskan, dalam perspektif good governance, keberhasilan suatu kebijakan sangat ditentukan oleh penerimaan masyarakat. Albertus menilai, respons positif yang muncul selama periode mudik menjadi indikator bahwa strategi yang diterapkan berjalan efektif.

Menurutnya, karakteristik mudik di Indonesia yang melibatkan berbagai latar belakang sosial, budaya, dan agama membutuhkan pengelolaan yang matang. Di tengah peningkatan jumlah kendaraan, pertumbuhan penduduk, serta perkembangan infrastruktur, pendekatan berbasis teknologi dinilai menjadi kunci.

"Kalau tidak dirancang dengan teknologi, hasilnya tidak akan maksimal. Ini yang patut diapresiasi," kata Albertus.

 

Keberadaan Posko Mudik dan Layanan Terpadu

Selain itu, Albertus mengatakan, keberadaan posko mudik dan layanan terpadu juga dinilai berkontribusi besar terhadap kelancaran dan kenyamanan perjalanan.

Ia menekankan, pengelolaan arus mudik merupakan kerja bersama lintas sektor, dengan kepolisian sebagai leading sector di jalan raya.

"Ini kerja simultan. Ada dukungan kesehatan dan berbagai unsur lain yang memperkuat pelayanan di lapangan," ucap Albertus.

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya adaptasi terhadap era digital dalam pengelolaan lalu lintas. Perubahan perilaku masyarakat, seperti penggunaan Global Positioning System (GPS) dan sistem pembayaran non-tunai turut memengaruhi pola perjalanan mudik.

Namun demikian, ia mengingatkan perlunya peningkatan literasi publik agar pemanfaatan teknologi dapat berjalan optimal, termasuk dalam memahami sistem pembayaran tol maupun penggunaan navigasi digital.

Di sisi lain, pendekatan berbasis data (data driven) yang diterapkan dalam pengambilan kebijakan dinilai sebagai langkah tepat. Meski begitu, ia menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan manusia dengan mempertimbangkan aspek kearifan.

"Data itu penting sebagai pendukung, tapi keputusan tetap di manusia," jelas Albertus.