Peneliti BRIN Kembangkan Genteng Komposit Biomassa untuk Kurangi Risiko Saat Gempa

Peneliti BRIN menciptakan genteng biomassa ringan dan kuat untuk mengurangi risiko cedera saat gempa serta lebih ramah lingkungan.

Diterbitkan 19 Maret 2026, 13:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • BRIN mengembangkan genteng komposit biomassa yang ringan, kuat, dan ramah lingkungan.
  • Genteng ini dirancang tahan gempa, air, api, serta mendukung target Net Zero Emission.
  • Pengujian ketahanan dan pelapisan dilakukan untuk performa jangka panjang di berbagai kondisi.

Liputan6.com, Jakarta - Peneliti dari Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Sukma Surya mengembangkan genteng komposit berbasis biomassa yang lebih ringan, kuat, dan ramah lingkungan sebagai alternatif bahan atap bangunan.

Dalam keterangannya di Jakarta, Sukma menjelaskan bahwa genteng komposit tersebut dibuat dari material biomassa atau lignoselulosa yang diolah menjadi partikel kecil, lalu diproses menjadi produk komposit.

Sukma menyatakan, pengembangan genteng komposit ini juga didorong oleh kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire, sehingga rawan terhadap gempa bumi.

"Pada banyak kejadian gempa, korban cedera terjadi akibat tertimpa genteng yang berat. Oleh karena itu kami mengembangkan genteng komposit yang lebih ringan namun tetap memiliki kekuatan mekanis yang baik," jelasnya, melansir Antara, Selasa 17 Maret 2026.

Lebih lanjut, menurutnya, genteng komposit biomassa juga mempunyai sejumlah keunggulan lainnya, yaitu tahan air, tahan api dengan laju pembakaran yang lebih lambat, hingga ramah lingkungan.

Produk ini juga diharapkan dapat mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060 melalui pemanfaatan material berbasis biomassa. Ia menjelaskan, dalam proses pembuatannya, biomassa terlebih dahulu diolah menjadi partikel kecil menggunakan sejumlah peralatan, seperti ring flaker, drum chipper, dan hammer mill.

"Partikel tersebut kemudian dipisahkan berdasarkan ukuran, dikeringkan hingga kadar air tertentu, lalu dicampur dengan perekat sebelum diproses melalui tahapan mat forming, cold press, dan hot press molding hingga terbentuk genteng komposit," kata dia.

Pelapisan dan Uji Lapangan Dilakukan untuk Menjaga Kinerja Genteng di Berbagai Kondisi

Untuk menjamin kualitas produk, tim peneliti melakukan sejumlah pengujian, meliputi pengujian sifat fisik dan mekanik, ketahanan terhadap cuaca, serta ketahanan terhadap api. Selain itu, penelitian ini juga mencakup uji lapangan yang dilakukan secara berkala guna memantau kinerja material.

Menurut Sukma, pemantauan lapangan dilakukan secara  berkala setiap tiga bulan untuk mengevaluasi pengaruh perubahan cuaca dan kondisi lingkungan terhadap material genteng.

"Pengujian ketahanan material tidak bisa disimpulkan dalam waktu singkat. Idealnya pengamatan dilakukan secara kontinu minimal selama lima tahun agar kita dapat melihat performa material dalam jangka panjang," tuturnya.

Sukma menambahkan bahwa posisi atap yang berada di area terbuka membuat material rentan terhadap berbagai faktor eksternal, seperti paparan sinar ultraviolet (UV), air hujan, hingga potensi tumbuhnya lumut atau tanaman liar yang terbawa burung.

Karena itu, pengembangan teknologi pelapis menjadi aspek penting dalam riset genteng komposit ini. Pelapis tersebut dirancang untuk memberikan perlindungan ekstra, seperti ketahanan terhadap sinar UV, air, dan api, sekaligus menghambat pertumbuhan organisme atau tanaman yang tidak diinginkan di permukaan genteng.

"Ke depan, BRIN akan terus mengembangkan berbagai alternatif teknologi, termasuk kemungkinan genteng komposit tanpa perekat, sehingga produk ini dapat lebih kompetitif dan menjangkau berbagai segmen pasar," tutup Sukma.

 

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6