Luhut Yakin Selat Hormuz Tak Akan Ditutup Lama oleh Iran, Beberkan Alasannya

Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Panjaitan menilai Iran tidak akan lama menutup jalur strategis Selat Hormuz.

Diterbitkan 14 Maret 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan meyakini Iran tidak akan lama menutup Selat Hormuz.

"Kita jangan lupa Iran ini juga punya kepentingan karena hidup mereka banyak tergantung pada minyaknya. Dan juga di dekat Iran itu juga ada fasilitas mereka yang sangat besar untuk memproses minyaknya menjadi end product," kata dia di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan anggota kabinet saat sidang kabinet paripurna di Istana Negara Jakarta, Jumat 13 Maret 2026.

"Jadi saya pikir situasinya masih fluktuatif. Tapi sekali lagi seperti kami laporkan tadi, Iran juga punya kepentingan untuk mereka survive, jadi Hormuz itu tidak mungkin akan ditutup seterusnya," sambungnya.

Namun, dia masih memantau perkembangan eskalasi konflik di Timur Tengah dalam dua minggu kedepan. Luhut optimistis kondisi akan semakin membaik, khususnya saat momen Lebaran 2026.

"Kami datang dengan berbagai skenario dan kita lihat perkembangan dalam 1-2 minggu ke depan. Jadi saya kira selama lebaran, saya kira akan semua baik-baik," ujarnya.

Luhut meminta masyarakat Indonesia tak khawatir dengan kondisi geopolitik yang terjadi di Timur Tengah saat ini. Dia terus berkoordinasi dengan sejumlah kementerian, khususnya dalam menjaga defisit APBN.

"Saran rekomendasi kami, kondisi semua tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan, kita tetap awas pada, kita memantau terus perkembangan di luar," tutur Luhut.

Harga Minyak Dunia Kembali Tembus USD 100, Pasokan Global Terancam

Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat dan bertahan di atas level USD 100 per barel untuk hari kedua berturut-turut. Kenaikan ini terjadi ketika konflik Iran memasuki pekan ketiga, sementara lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz masih praktis terhenti.

Mengutip CNBC, Sabtu (14/2/2026), harga minyak mentah Brent naik 2,67% atau USD 2,68 menjadi USD 103,14 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat (WTI) menguat 3,11% atau USD 2,98 ke posisi USD 98,71 per barel.

Lonjakan harga terjadi meskipun Amerika Serikat (AS) dan sekutunya telah meluncurkan sejumlah langkah untuk menekan biaya energi.

Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) bahkan menyetujui pelepasan cadangan minyak sebanyak 400 juta barel. Langkah ini menjadi aksi pelepasan cadangan energi terbesar dalam sejarah.

Selain itu, AS juga telah memberikan pengecualian selama 30 hari bagi India untuk membeli minyak Rusia yang sebelumnya terkena sanksi.

Presiden AS Donald Trump juga mempertimbangkan untuk melonggarkan aturan dalam Jones Act. Aturan tersebut selama ini mewajibkan kapal berbendera AS untuk mengangkut barang antar pelabuhan domestik, termasuk minyak dan gas.

Langkah pelonggaran aturan tersebut dinilai dapat membantu menekan biaya logistik energi di dalam negeri.

Meski berbagai kebijakan telah digulirkan, para pelaku pasar tetap memantau perkembangan konflik di Timur Tengah. Trump bahkan mengisyaratkan bahwa perang belum akan segera berakhir.

“Kami memiliki kekuatan tembak yang tak tertandingi, amunisi tanpa batas, dan banyak waktu,” kata Trump sebelum meminta para pendukungnya untuk “melihat apa yang akan terjadi” pada rezim Iran.

Sepanjang pekan ini, harga minyak kembali mencatat kenaikan. Minyak Brent telah naik sekitar 10% setelah sebelumnya melonjak 27,9% pada pekan lalu—yang menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak pandemi Covid-19 pada 2020.

Sementara itu, minyak WTI yang pekan lalu mencatat performa terbaik sejak 1983, kembali ditutup naik lebih dari 8% sepanjang pekan ini.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6