Cerita dari TPST Bantargebang: Antara Ancaman Bahaya dan Lapak Mengais Kehidupan

Alarm bahaya TPST Bantargebang sudah kerap digaungkan. Tetapi, upaya konkret mengurangi volume sampah yang bermuara ke sana, tak kunjung ada titik terang.

Diterbitkan 11 Maret 2026, 10:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Gunungan sampah di Tempat Pengelolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang tak sekadar simbol persoalan pengelolaan sampah Jakarta dan sekitarnya. Tempat itu juga menyisakan dilema bagi warga yang menggantungkan hidup di sana.

Ancaman longsor kerap menghantui seiring tumpukan sampah yang tak pernah berkurang. Tetapi di sisi lain, ada cerita yang mencari makan di antara limbah kota agar dapur tetap.

"Ini (TPST) sebenarnya udah gak layak, overload, bisa dilihat itu tumpukan udah keras," ujar Wijiyono (50), salah satu warga yang sehari-hari beraktivitas di sekitar kawasan TPST Bantargebang.

Liputan6.com coba melihat kondisi terkini di TPST Bandargebang longsor akhir pekan lalu. Longsor hari itu menyebabkan tiga orang meninggal dunia.

Tumpukan sampah di lokasi memang tampak mengeras dan memadat. Berbagai jenis limbah plastik, pasir, hingga material lainnya bercampur menjadi satu, membentuk lapisan yang semakin sulit terurai. Kondisi ini menurut warga sudah berlangsung cukup lama dan semakin mengkhawatirkan seiring bertambahnya kiriman sampah setiap hari.

Di balik kondisi tersebut, warga sebenarnya juga berusaha mengurangi tumpukan sampah dengan memilah limbah yang masih memiliki nilai ekonomi. Aktivitas pemilahan plastik dan barang bekas lain menjadi rutinitas yang dilakukan setiap hari, meskipun jumlah sampah yang datang jauh lebih besar dibandingkan kemampuan tenaga manusia untuk mengelolanya.

 

Gunungan Sampah yang Kian Mengeras

Menurut Wijiyono, kondisi tumpukan sampah di Bantargebang saat ini sebenarnya sudah tidak layak lagi menampung kiriman baru dalam jumlah besar.

"Kalau kita lihat kan ini udah keras, udah padat ini sebenarnya, sepadat-padatnya plastik terkikis juga sama air, jadinya tetap mengeras sama pasir-pasir," katanya.

Ia menjelaskan bahwa struktur sampah yang sudah memadat tersebut membuat kondisi tanah di bawahnya menjadi tidak stabil. Meski terlihat keras di permukaan, lapisan di dalamnya tetap berpotensi bergerak, terutama saat diguyur hujan deras.

"Kalau ibaratnya mau dipagar pun, pasti ngeluarin biaya lagi ya, tapi kalau hujan nya gak terlalu melebihi, kemungkinan udah hampir aman," ujarnya.

Menurutnya, tanda-tanda stabilitas sebenarnya mulai terlihat di beberapa bagian tumpukan sampah yang sudah lama tidak aktif.

"Hampir aman nya itu, bisa dilihat ada bambu-bambu yang udah jadi, pohon-pohon besar pada tumbuh," kata Wijiyono.

Ia menambahkan bahwa tumbuhnya vegetasi tersebut menunjukkan bahwa sebagian area sudah mulai menyerap air dan memperkuat struktur tanah.

"Jadi, tanaman-tanaman sebagian udah hiduplah, udah ketanam, jadi ibarat kata udah menyerap lah, buat bisa menahan tanah longsoran," ujarnya.

 

Sampah Datang Tanpa Henti

Di tengah upaya warga memilah limbah, arus kiriman sampah ke Bantargebang terus berlangsung setiap hari dari berbagai daerah.

"Untuk kiriman sampah ya dari daerah mana aja gak bisa diprediksi, kaya dari Mall, Supermarket gitukan sekarang semakin banyak, bukannya mengurangi malah semakin bertambah," kata Wijiyono.

Ia mengatakan bahwa pertumbuhan kawasan permukiman dan aktivitas bisnis juga turut meningkatkan volume sampah yang masuk ke TPST Bantargebang.

"Pengusaha-pengusaha, perumahan gitu juga semakin banyak, padahal setiap harinya kita udah mengelola seperti plastik itu udah kita ambil (pilah), sortir, kita bersihin," ujarnya.

Menurutnya, sebenarnya banyak pemulung yang berusaha membantu mengurangi tumpukan sampah dengan mengumpulkan limbah plastik untuk didaur ulang.

"Disini sebenarnya banyak yang mengambil limbah plastik untuk di kumpulin buat daur ulang, untuk mengurangi tumpukan seperti ini," katanya.

Namun keterbatasan tenaga manusia membuat upaya tersebut tidak sebanding dengan jumlah sampah yang terus berdatangan.

"Namanya juga tenaga manusia ya, terbatas juga, misalnya yang ada 10 orang, kadang dalam satu hari aja mobil udah ngangkut sampah berapa banyak, terus belum lagi besok-besok nya datang lagi berapa puluh mobil," ujarnya.

Tenaga Pemulung Tak Seimbang dengan Volume Sampah

Menurut Wijiyono, proses memilah sampah membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Bahkan satu truk sampah saja bisa memakan waktu lama untuk disortir.

"Soalnya satu mobil pengangkut itu kita sortir gak cukup 10 orang sehari," katanya.

Karena itu, warga sering kewalahan menghadapi jumlah sampah yang datang setiap hari.

"Kita disini ngumpulin sampah plastik itu kadang-kadang satu hari 10 orang untuk satu mobil truk sampah carry, tapi kadang-kadang yang datang sehari malah 5 mobil, jadinya kita keteter, kebanyakan sampah nya dibanding tenaga manusia nya," ujarnya.

Meski demikian, para pemulung tetap datang setiap hari karena pekerjaan tersebut menjadi satu-satunya sumber penghasilan yang mereka miliki.

"Kalau kita sih, nolak emang gak bisa ya, namanya juga pencaharian," kata Wijiyono.

 

Longsor Lebih Parah dari Kejadian Sebelumnya

Di tengah kondisi yang serba terbatas, para pemulung memiliki cara sendiri untuk memaksimalkan nilai dari limbah yang mereka kumpulkan.

"Kita kalau bawa karung kecil naik keatas buat mulung itu nanggung, kalau 50 kilo agak gede sekalian kan lumayan, kalau cuman bawa nya kecil kan nanggung di waktunya," ujarnya.

Menurutnya, barang-barang yang dikumpulkan biasanya tidak langsung dijual. Mereka lebih memilih menimbunnya terlebih dahulu hingga jumlahnya cukup banyak.

"Kadang-kadang kita ngejualnya gak langsung sehari-dua hari, kita tumpuk dulu, kira-kira sebulan baru dapat semobil penuh, kalau seandainya kita jual perhari, kita dapetnya juga sedikit, larinya gak ada untungnya," katanya.

Proses pembersihan juga dilakukan agar harga jual menjadi lebih tinggi. "Jadi, kita timbun dulu, dicuci, kalau udah dicuci nilainya bisa lebih mahal, dibanding yang langsung dijual kotor," ujar Wijiyono.

Biasanya limbah yang paling dicari adalah plastik kemasan minuman. "Biasanya kita incarnya sampah plastik, kemasan minuman, biasanya itu lebih mahal, apalagi kalau udah dipilah-pilah sesuai warnanya," katanya.

Melihat kondisi gunungan sampah yang semakin tinggi, warga berharap aktivitas pembuangan di kawasan tersebut bisa dihentikan sementara.

"Yang penting untuk sementara ini warga meminta stop dulu lah," ujar Wijiyono.

Ia khawatir jika aktivitas pembuangan terus berlangsung, kondisi tumpukan sampah akan semakin sulit dikendalikan.

"Soalnya kondisi nya udah mengeras seperti ini, kalau enggak di stop sementara, ya itu nanti, limbah yang gampang semakin gak kelihatan, yang susah semakin gak keuruk begitu," katanya.

Menurutnya, langkah sementara yang bisa dilakukan adalah merapikan dan memadatkan kembali tumpukan sampah yang sudah ada.

"Seperti ini kemungkinan kita sambil cari evakuasi korban dan mendandani untuk madatin ngerapihin tumpukan," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa masalah utama bukan hanya soal longsor. Tetapi juga soal keterbatasan tempat untuk menampung sampah yang terus berdatangan.

"Kemungkinan sih juga gak bisa di obrak-abrik, sampah segini banyak pun mau dibawa kemana coba, yang sampah dari berbagai daerah aja, yang sedikit aja, malah dibawa kesini, bukan cari tempat yang lain," katanya.

Menurut Wijiyono, longsor yang terjadi kali ini memiliki dampak yang jauh lebih besar dibandingkan insiden sebelumnya di kawasan TPST Bantargebang. Ia menilai kondisi cuaca menjadi salah satu faktor utama yang memperparah situasi.

"Lebarnya longsor baru ini yang lebih parah dibandingkan sebelumnya, hujan deras nya melebihi target, kalau kita minta Alkon (pompa) biayanya kan lebih banyak," katanya.

Hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut membuat kondisi lapisan sampah menjadi semakin labil. Air hujan yang meresap ke dalam tumpukan sampah membuat bagian bawah menjadi basah dan licin, sehingga material di atasnya lebih mudah bergerak dan akhirnya longsor.

Menurutnya, upaya teknis seperti penggunaan pompa air untuk mengurangi genangan sebenarnya bisa membantu, namun hal tersebut membutuhkan biaya tambahan yang tidak sedikit. Karena itu, penanganan di lapangan sering kali terbatas pada upaya-upaya sederhana yang bisa dilakukan oleh warga dan pekerja di sekitar lokasi.

 

Warga Ikut Mengurangi Tumpukan Sampah

Di tengah keterbatasan tersebut, warga sekitar sebenarnya tidak tinggal diam. Mereka berupaya mengurangi volume sampah dengan cara memilah barang-barang yang masih bisa dimanfaatkan atau didaur ulang.

Wijiyono mengatakan aktivitas pemilahan itu dilakukan hampir setiap hari oleh para pemulung yang bekerja di kawasan TPST.

"Di sini warganya peduli sama tumpukan sampah, kita pilah plastik nya, kita ambil kasurnya, sofanya, supaya padat disini," ujarnya.

Barang-barang seperti kasur, sofa, hingga limbah plastik menjadi sasaran utama pemilahan karena dianggap masih memiliki nilai ekonomi sekaligus dapat mengurangi volume sampah di lokasi.

Namun, menurutnya upaya tersebut tetap tidak sebanding dengan jumlah sampah yang terus datang setiap hari dari berbagai wilayah.

Meski warga menyadari bahwa kondisi TPST Bantargebang sudah sangat mengkhawatirkan, menghentikan aktivitas pembuangan sampah bukan perkara mudah. Ada banyak kepentingan ekonomi yang terlibat di dalamnya.

Wijiyono mengakui bahwa beberapa warga pernah mencoba menyuarakan keberatan atas kondisi tersebut. Namun pada praktiknya, upaya itu sering kali tidak menghasilkan perubahan yang signifikan.

"Kalau kita pun sebagai warga ngelarang, kadang-kadang emang kalau udah duitnya kepegang ditangan kan susah ya, kita demo kaya bagaimana pun, uang nya udah di pegang duluan sama orang-orang pengelola ini, kita gak bisa apa-apa" katanya.

Pernyataan itu menggambarkan dilema yang dihadapi warga Bantargebang. Di satu sisi mereka menyadari ancaman yang ditimbulkan oleh gunungan sampah yang terus meninggi. Namun di sisi lain, aktivitas pengelolaan sampah di kawasan tersebut juga telah menjadi bagian dari roda ekonomi yang sulit dihentikan begitu saja.

Bagi masyarakat yang hidup di sekitar TPST Bantargebang, kondisi ini menjadi semacam buah simalakama, antara keinginan untuk hidup lebih aman dan kenyataan bahwa tumpukan sampah itu juga menjadi sumber penghidupan mereka setiap hari.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6