Jelang Lebaran Sampah Kemasan E-Commerce Naik, Skema Daur Ulang Diperkuat

Jelang lebaran, tren belanja online atau e-commerce perlahan mulai meningkat dan tumpukan sampaj juga bertambah.

Diterbitkan 25 Februari 2026, 17:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • ALVAboard dan Rekosistem berkolaborasi kelola limbah kemasan secara terintegrasi.
  • Kemitraan ini menerapkan ekonomi sirkular, mengubah limbah menjadi material produksi.
  • Pelanggan diberi insentif hingga Rp 2.000/kg untuk menyetorkan kemasan ALVAboard.

Liputan6.com, Jakarta - Jelang lebaran, tren belanja online atau e-commerce perlahan mulai meningkat. Namun, ada pekerjaan rumah atau PR yang disisahkan, yakni tumpukan sampah kemasan yang bisa menjadi masalah besar.

Merespons tantangan tersebut, produsen kemasan plastik asal Kabupaten Tangerang, ALVAboard resmi menggandeng Rekosistem, dalam sebuah kerja sama strategis untuk mengelola limbah kemasan secara terintegrasi dan berkelanjutan.

Kolaborasi ini bukan sekadar kampanye lingkungan biasa, melainkan langkah konkret dalam menerapkan ekonomi sirkular.

CEO ALVAboard Alden Lukman menegaskan, tanggung jawab perusahaan tidak boleh terhenti saat produk sampai di tangan konsumen. Menurutnya, siklus hidup material harus dikawal hingga fase pasca-pemakaian.

"Material yang terkumpul akan dipilah, dicatat, dan diproses untuk didaur ulang sesuai standar. Kami ingin memastikan material tidak berhenti sebagai limbah, tetapi kembali masuk dalam siklus produksi," ujar Alden, Rabu (25/2/2026).

Dia menjelaskan, pendekatan ekonomi sirkular menawarkan solusi sistemik dengan mengubah cara pandang terhadap limbah. Dalam konsep ini, kemasan tidak berakhir sebagai sampah, melainkan menjadi material yang dapat kembali masuk ke dalam siklus produksi.

 

Penurunan Emisi Karbon

Melalui sistem penyetoran yang terstruktur, kemasan ALVAboard memiliki peluang untuk diproses ulang dan dimanfaatkan kembali, sehingga mengurangi kebutuhan bahan baku baru sekaligus menekan volume limbah di TPA.

Selain itu, kolaborasi ini juga berkontribusi terhadap penurunan emisi karbon di sektor kemasan.

"Kolaborasi ALVAboard bersama Rekosistem merupakan langkah konkret dalam membangun sistem ekonomi sirkular di sektor kemasan. Melalui penyetoran dan pengelolaan yang terintegrasi, kami ingin memastikan bahwa material tidak berhenti sebagai limbah, tetapi dapat kembali dimanfaatkan dalam siklus produksi," kata Alden.

Senada dengan hal tersebut, Co-founder Rekosistem Ernest menjelaskan, kolaborasi ini mengedepankan aspek teknologi.

"Setiap sampah kemasan yang disetorkan akan terlacak dan tercatat dalam sistem, sehingga laporan volume sampah dan pengurangan emisi karbon menjadi lebih akurat sesuai prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG)," ucap Ernest.

 

Pelanggan Setorkan Sampah

Salah satu poin paling menarik dalam kerja sama ini adalah skema insentif bagi masyarakat atau pelanggan yang berpartisipasi menyetorkan sampah plastik mereka.

Untuk penyetoran plastik keras, pelanggan akan menerima Rp 600 per kilogram. Khusus untuk material kemasan ALVAboard, nilai yang diterima dapat mencapai Rp 2.000 per kilogram, termasuk tambahan insentif Rp 1.400 per kilogram, sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam mendorong praktik ekonomi sirkular.

"Skema ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran bahwa kemasan memiliki nilai ekonomi dan tidak berhenti sebagai limbah," kata Ernest.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6