Limbah Panen Sayur di Rejang Lebong Disulap Jadi Listrik Desa

Komunitas Rumpun Hijau Indonesia menciptakan inovasi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBG) berbasis limbah sayuran di Rejang Lebong.

Diterbitkan 26 Februari 2026, 03:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kabupaten Rejang Lebong di Provinsi Bengkulu dikenal dengan daerah berhawa sejuk, juga memiliki bentang alam perbukitan yang subur di kawasan Bukit Barisan. Kondisi itu menjadikannya sebagai lumbung sayuran di di Sumatera Bagian Selatan.

Topografi Rejang Lebong lebih didominasi dataran tinggi, lembah, serta aliran sungai yang terhubung dengan sejumlah daerah aliran sungai penting.

Suhu di sana relatif lebih dingin dibanding wilayah pesisir, hal itu membuat kawasannya cocok untuk mengembangkan budidaya hortikultura seperti tomat, kol, cabai, dan aneka sayuran daun, termasuk perkebunan kopi maupun teh.

Dari lahan-lahan pertanian di kaki perbukitan itu pula pasokan sayur didistribusikan ke berbagai wilayah, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar di Provinsi Bengkulu, tetapi juga menjangkau sebagian wilayah Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi. Rejang Lebong pun dikenal sebagai sentra produksi hortikultura regional yang menopang pasokan lintas provinsi.

Namun, di balik produktivitas tersebut, petani tak luput dari situasi fluktuasi harga yang tidak menentu. Saat panen raya tiba dan produksi melimpah, harga di tingkat petani bisa berpotensi anjlok hingga tak lagi sebanding dengan biaya tanam dan distribusi.

Hal tersebut pernah terjadi pada 2021 hingga 2022. Ketika itu situasi memunculkan persoalan baru berupa lonjakan limbah sayuran dalam jumlah besar. Tumpukan tomat busuk bahkan sempat menutup satu ruas jalan di daerah tersebut setelah petani membuangnya akibat harga yang anjlok, sebagian lainnya juga dibuang ke area terbuka jurang yang ada di sekitar wilayah itu.

Volume limbah organik yang melimpah ternyata juga menimbulkan kekhawatiran pencemaran lingkungan. Keresahan atas persoalan kuantitas sampah sayuran yang tak tertangani itu ternyata mendorong sejumlah anak muda dalam komunitas Rumpun Hijau Indonesia mencari jalan keluar yang solutif.

Mereka melihat limbah panen bukan semata sebagai sisa produksi, melainkan potensi bahan baku energi yang selama ini terabaikan.

Berbekal latar belakang akademis sarjana di bidang teknik elektro, komunitas tersebut menggagas pembangunan pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBG) berbasis limbah sayuran dengan memanfaatkan proses fermentasi dan kompresi gas.

 

Pengembangan PLTBG

Pendiri Rumpun Hijau Indonesia Dani Fazli mengatakan pengembangan PLTBG dimulai pada awal 2023 dan sudah bisa dimanfaatkan langsung pada akhir tahun yang sama.

Mereka mulai mengolah limbah yang terkumpul dengan mencacah dan menghancurkan limbah sayuran yang sudah terkumpul. Proses selanjutnya, limbah dimasukkan ke dalam tabung fermentasi, dicampur dengan larutan E-M4 dan glukosa untuk mempercepat pembentukan gas. Kemudian, tabung ditutup rapat dan didiamkan lebih dari dua pekan hingga tekanan meningkat.

Setelah kompresi mencukupi, gas dialirkan melalui regulator menuju generator untuk menghasilkan pasokan daya yang menghasilkan listrik dengan kapasitas produksi sekitar 2.000 watt dan kapasitas tersebut dapat digunakan hingga 12 jam dan berpotensi menyala lebih lama apabila didukung tambahan tabung penampung gas.

Untuk saat ini, listrik yang dihasilkan baru dapat dimanfaatkan untuk balai desa di sentra produksi pertanian setempat. Namun, sangat memungkinkan untuk dikembangkan lebih luas karena ketersediaan bahan baku limbah yang bisa diolah cukup besar.

Hanya saja, tentu membutuhkan peningkatan peralatan, sarana dan prasarana yang terintegrasi dengan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas yang sudah ada saat ini.

Untuk menghasilkan 2.000 watt, limbah sayuran yang dibutuhkan sekitar empat ton. Sementara, sekarang anak-anak muda ini mendapatkan pasokan 12 ton bahan baku setiap kali pengolahan yang tentu dapat mencadangkan produksi hingga tiga bulan karena gas yang dihasilkan bersifat akumulatif dan bergantung pada tingkat kompresi.

Untuk bahan baku PLTBG tersebut memperolehnya dari pengepul atau tauke sayur di sentra produksi. Sebagian besar diberikan tanpa biaya karena dianggap tidak memiliki nilai jual, meski ongkos angkut tetap menjadi komponen operasional.

"Keberadaan listrik alternatif seperti ini membuka peluang integrasi antara pengelolaan sampah dan pengembangan energi baru terbarukan di daerah agraris," kata Dani seperti dilansir Antara.

Dari tumpukan limbah panen yang pernah menjadi simbol kekecewaan petani, kini muncul upaya mengubahnya menjadi sumber penerang alternatif bagi desa.

Transformasi itu menjadi penanda bahwa persoalan kuantitas sampah tidak selalu berakhir sebagai beban lingkungan, melainkan dapat menjadi sumber kebermanfaatan ketika dikelola dengan pendekatan teknologi dan kesadaran kolektif.

Bahkan, anak-anak muda tersebut menilai potensi pengelolaan sampah menjadi energi alternatif masih dapat dikembangkan lebih luas lagi. Mereka menyatakan, kapasitas pembangkit listrik alternatif yang pernah meraih penghargaan dalam ajang kompetisi tingkat Asia itu bisa ditingkatkan agar menghasilkan daya yang lebih besar dan memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Di tengah meningkatnya volume sampah, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Rejang Lebong pada akhir 2025 mengajak masyarakat terlibat lebih aktif dengan mengolah sampah mandiri. Imbauan itu menjadi salah satu langkah penting dari upaya menekan timbunan sampah di wilayah perkotaan.

DLH Rejang Lebong meminta warga tidak lagi memandang sampah sebagai barang buangan semata dan mendorong masyarakat bisa mengambil peran mengolah sampah dengan berbagai cara agar memiliki nilai guna seperti mendaur ulang.

Masyarakat juga diajak melakukan pemisahan antara sampah organik dan non-organik sejak dari sumbernya, sehingga proses pengolahan menjadi lebih mudah dan bernilai guna.

Sampah organik, seperti sisa makanan dan dedaunan, dapat diolah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi tanaman dan bentuk lainnya. Sementara sampah non-organik, seperti plastik dan kemasan, dapat didaur ulang atau dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai ekonomis.

Perubahan kebiasaan di tingkat rumah tangga akan sangat menentukan keberhasilan pengendalian sampah secara menyeluruh. Dengan pemilahan dan pengolahan sederhana, beban tempat pembuangan sementara dapat ditekan dan pencemaran lingkungan bisa diminimalkan.

Pemerintahan setempat mencatat volume buangan sampah dari kawasan pemukiman dan pasar tradisional mencapai 60 ton per hari, sedangkan memasuki bulan puasa dan mendekati Lebaran bisa mencapai 75 ton per hari.

Dengan peran aktif masyarakat ikut mengolah sampah dari rumah atau melakukan pemisahan secara mandiri diharapkan dapat menjadi salah satu solusi mengatasi persoalan sampah di Kabupaten Rejang Lebong.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6