Polisi Buru Pria Mengaku Aparat yang Aniaya 3 Petugas SPBU di Jaktim

Polisi belum bisa memastikan apakah benar pria itu penegak hukum, maka itu propram dilibatkan.

Diterbitkan 24 Februari 2026, 11:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Polisi masih mendalami kasus dugaan penganiayaan tiga pegawai SPBU di Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur. Penganiayaan itu dilakukan seorang pria mengaku aparat dan mempunyai jabatan penting.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan, Polres Jakarta Timur bersama Ditreskrimum Polda Metro Jaya mengecek sosok yang mengaku sebagai aparat tersebut.

“Polres Jaktim dan Ditreskrimum PMJ sedang mendalami kejadian tersebut dan orang yang mengaku aparat,” kata dia dalam keterangannya, Selasa (24/2/2026).

Terpisah, Kabid Propam Polda Metro Jaya Kombes Radjo Alriadi Harahap menyebut pihaknya juga ikut turun.

“Masih kami dalami dengan Reskrim Polrestro Jaktim terhadap pelaku pemukulan dimaksud,” kata dia saat dikonfirmasi, Selasa (24/2/2026).

Terkait kehadiran Propam guna memastikan yang bersangkutan benar anggota atau hanya mengaku-ngaku semata, Radjo

“Betul sekali,” ucap dia.

 

Kronologi Penganiayaan sampai Gigi Korban Patah

Sebelumnya, tiga pegawai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 3413901 di Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur(Jaktim) diduga dianiaya seorang aparat. Peristiwa itu terjadi Minggu (22/2/2026) malam pukul 22.00.

Tiga pegawai yang dianiaya yakni Ahmad Khoirul Anam bekerja lima tahun sebagai staf, Lukmanul Hakim operator bekerja setelah lulus SMK dan Abud Mahmudin operator yang sudah empat tahun bekerja.

Aparat tersebut menampar pipi Khoirul Anam. Sementara Lukman dipukul di rahang sebelah kanan. Sedangkan Abud dipukul di bawah mata dan di pipi dekat mulut hingga giginya copot.

Pemilik SPBU 3413901 Ernesta langsung melaporkan kejadian penganiayaan terhadap pegawainya ke Polsek Pulogadung. Pihak Propam juga sempat mendatangi lokasi."Kami sudah laporkan juga ke Polsek Pulo Gadung seberang SPBU, dan pegawai-pegawai saya yang luka-luka juga sudah divisum," kata Ernesta. Demikian dikutip dari Antara, Selasa (24/2/2026).

Dia juga mengakui kejadian itu membuatnya trauma dan khawatir karena pelaku bisa saja datang kembali. Pelaku sempat menyebut dirinya memiliki jabatan tinggi, sehingga membuat para operator merasa terintimidasi.

"Takutnya dia datang lagi nyari saya. Dia sempat manggil-manggil nama saya. Kita hanya orang biasa. Takutnya dia balik lagi bawa backing-an. Jadi, masih khawatir," ucap Lukman.

Tak hanya Lukman, dua operator lain yang turut menjadi korban penganiayaan, yakni Ahmad Khoirul Anam dan Abud Mahmudin juga memilih beristirahat di rumah masing-masing. Meski tidak menjalani perawatan di rumah sakit. Namun keduanya shock pascainsiden tersebut.

Abud juga menceritakan penganiayaan yang dia alami. Pukulan pelaku di bagian pipi membuat giginya patah.

"Gigi saya patah jadi setengah doang, tidak rata. Berdarah karena sarafnya kena pas dihajar bagian pipi," kata Abud.Dia mengaku tidak mengetahui secara pasti awal mula keributan yang terjadi di lokasi kerjanya.

Saat peristiwa itu berlangsung, dia hanya berniat melihat situasi karena mendengar kegaduhan di area depan SPBU. "Saya tidak tahu awalnya gimana. Niatnya cuma mau tahu aaja, kayak kepo doang karena ada kerusuhan. Namanya juga di lingkungan kerja," ujar Abud.

Sehari setelah penganiayaan itu, para pegawai sempat tak berani masuk kerja karena takut masih diincar pelaku. "Iya, sempat libur karena takutnya pelaku ini datang lagi ke lokasi, mungkin masih emosi," kata Lukman.

Dia pun mengaku sudah menjalani visum pada Senin (22/2) sekitar pukul 14.00 WIB di RS Polri Kramat Jati. Setelah divisum, dia pergi ke rumah sakit lain untuk menjalani perawatan medis.

Peristiwa tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan pekerja SPBU yang sehari-hari bertugas melayani masyarakat secara langsung. Para korban berharap ada jaminan keamanan agar mereka dapat kembali bekerja tanpa rasa takut.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6