Liputan6.com, Jakarta - Di Shenzhen, jeda bukanlah kemewahan. Ia hadir di sela gedung pencakar langit, di bawah rel kereta cepat, bahkan di tengah kawasan industri teknologi. Jeda itu bernama taman.
Tak berlebihan jika Shenzhen dijuluki “Kota Seribu Taman”. Di kota yang dikenal dunia sebagai episentrum teknologi Tiongkok ini, ruang hijau bukan ornamen pelengkap, melainkan bagian dari perencanaan kota yang serius. Shenzhen tumbuh cepat, tetapi ia tumbuh sambil bernapas.
Jurnalis Liputan6.com, Nanda Perdana Putra berkesempatan mengunjungi dan menikmati suasana taman di tengah megahnya gedung pencakar langit Kota Shenzhen.
Advertisement
“Mungkin Shenzhen terkenal sebagai Silicon Valley, ada banyak raksasa teknologi dunia di sini. Tapi Shenzhen tidak hanya itu, Shenzhen kota seribu taman,” tutur Fiona (45), nama barat warga lokal yang bekerja sama dengan salah satu raksasa teknologi China.
Pemerintah setempat memang secara masif membangun lebih dari seribu taman, termasuk taman tematik, taman hutan, dan ruang hijau kota, yang terintegrasi dengan pembangunan metropolitan. Kota ini menyeimbangkan gedung pencakar langit dengan lanskap alam yang hijau.
Taman-taman di Shenzhen sering kali dikelilingi oleh pemandangan pegunungan dan laut, menciptakan suasana asri di tengah kota metropolitan. Selain taman kota, Shenzhen juga terkenal dengan taman safari dan pantai-pantai yang terawat.
Siang Sore yang Tenang di Kota Teknologi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5499067/original/005624000_1770770906-IMG_4618.jpg)
Shenzhen Talent Park, taman luas di kawasan Nanshan yang berhadapan langsung dengan gedung-gedung teknologi. Di bawah langit yang sedikit redup, taman ini justru terasa lebih hidup—tanpa panas, tanpa desakan.
Jalur pejalan kaki dan sepeda membentang rapi mengelilingi danau. Permukaan air memantulkan siluet gedung kaca dan baja, menciptakan pemandangan yang futuristik sekaligus tenang. Orang-orang berjalan santai, sebagian bersepeda pelan, sebagian duduk menghadap air dengan jaket tipis menahan udara dingin.
Di Talent Park, taman tidak menjadi pelarian dari kota. Ia menyatu dengannya. Para pekerja kantoran terlihat menghabiskan waktu istirahat siang, ada yang membuka laptop, ada yang sekadar menatap layar ponsel, ada pula yang berbincang ringan di bangku taman. Ruang hijau ini terasa seperti ruang jeda kolektif—tempat ide, lelah, dan rutinitas bertemu tanpa sekat.
Menjelang sore, cahaya semakin lembut. Tidak dramatis, tidak kontras—justru menenangkan. Shenzhen menampilkan wajah modernnya tanpa tergesa-gesa.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5499068/original/059602200_1770770906-IMG_4646.jpg)
Berlanjut ke Baijie Shan. Suasananya berubah perlahan. Jalan yang menanjak, pepohonan semakin rapat, dan suara kota terasa menjauh.
Di Baijie Shan, sore seolah berjalan lebih pelan. Tidak ramai, tidak riuh. Beberapa orang berjalan sendiri, sebagian berhenti sejenak untuk mengatur napas, sebagian lagi duduk diam tanpa aktivitas jelas. Tidak ada keharusan untuk cepat.
Langit yang mendung membuat warna hijau pepohonan tampak lebih pekat. Dari celah tertentu, gedung-gedung Shenzhen masih terlihat—namun seperti latar yang sengaja dipisahkan. Di sini, kota terasa jauh, meski jaraknya sebenarnya dekat.
Advertisement
Dua Taman, Satu Identitas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5499069/original/012039900_1770770907-IMG_4662.jpg)
Shenzhen Talent Park dan Baijie Shan menunjukkan dua wajah ruang hijau kota ini. Yang satu modern dan terbuka, menyatu dengan ritme urban. Yang lain alami dan hening, memberi ruang untuk menarik napas lebih dalam.
Keduanya tidak saling bertentangan. Justru saling melengkapi.
Di Shenzhen, taman bukan hiasan. Ia adalah infrastruktur kehidupan—penyeimbang antara kecepatan teknologi dan kebutuhan manusia untuk berhenti sejenak.
Ruang hijau di Shenzhen tidak hadir secara acak. Kota ini merancang taman sebagai bagian dari sistem perkotaan: untuk menurunkan suhu, menyerap air hujan, memperbaiki kualitas udara, sekaligus menjaga kesehatan mental warganya.
Jalur hijau menghubungkan bukit, danau, hingga pesisir. Taman-taman itu membentuk jaringan yang membuat alam selalu dekat, bahkan di kota dengan ritme tercepat sekalipun.
Bernapas di Kota Masa Depan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5499070/original/065307500_1770770907-IMG_4623.jpg)
Shenzhen sering diceritakan sebagai kota inovasi, startup, dan kecanggihan teknologi. Namun berjalan di taman-tamannya—di siang yang redup, udara 16 derajat, dari pukul dua hingga sore—kota ini justru terasa sangat manusiawi.
Di antara gedung kaca Shenzhen Talent Park dan jalur sunyi Baijie Shan, Shenzhen menyampaikan pesan yang sederhana: bahwa kota masa depan bukan hanya tentang seberapa cepat ia bergerak, tetapi seberapa baik ia memberi ruang untuk bernapas.
Dan di kota seribu taman ini, napas itu masih terjaga.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8968722/original/090452400_1782980277-cek_fakta_-_tenaga_pendamping_masyarakat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562012/original/067915900_1776772441-Cek_fakta_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5499066/original/056795100_1770770905-IMG_4668.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409523/original/014973200_1479454255-China.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8369442/original/037177900_1782246021-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8397156/original/089293200_1782278283-AP26174690236290.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8442423/original/051297200_1782335693-063_2283164257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9076838/original/076638200_1783028282-000_B8H386V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9072363/original/048211400_1783026161-000_B9476UW.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9072362/original/069449700_1783026157-000_B94788B.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8411138/original/071923000_1782295017-leao.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264052/original/051981800_1782069590-Spain_s_Lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260345/original/097053600_1781587471-spanyol.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261027/original/025366000_1781675161-AP26168084988387.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8954822/original/067340700_1782972962-IMG_0034.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1305596/original/086117500_1470137056-linkedin-01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8873443/original/045632400_1782932659-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3225394/original/006677000_1598958672-000_1WW4MK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8790786/original/052279000_1782898644-guo_wengui.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4441329/original/046708800_1685016629-pexels-pixabay-33786.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3995760/original/096587400_1649941084-20220414-Proyeksi-Neraca-Perdagangan-Indonesia-FANANI-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8720554/original/060197100_1782813704-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4166753/original/096704000_1663802133-Harga_Minyak_Dunia_2.jpg)