Liputan6.com, Jakarta - Senior Analyst NEXT Indonesia Center Sandy Pramuji menyatakan, pemerintah harus memastikan pertumbuhan pendapatan riil yang lebih merata, dengan penciptaan lapangan kerja yang berkualitas untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional.
Sandy mengatakan, saat ini tantangan utamanya dalam meningkatkan daya beli masyarakat Indonesia bukan lagi karena ketiadaan konsumsi, tetapi pendapatan yang tidak merata dan juga sulitnya mencari lapangan pekerjaan.
“Tanpa penguatan (kedua) fondasi tersebut, masyarakat akan semakin berhati-hati dalam berbelanja, yang berpotensi membatasi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi ke depannya,” ujarnya, dikutip dari Antara, Selasa (10/2/2026).
Advertisement
Sandy juga menambahkan, daya beli masyarakat memang masih tumbuh dan juga terjaga, tapi keinginan untuk berbelanja justru semakin tertahan, karena meningkatnya tekanan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, serta kehati-hatian pascapandemi.
Sandy menyatakan, masyarakat menahan konsumsi bukan hanya karena tidak punya uang, tetapi karena memprioritaskan keamanan finansial untuk mengantisipasi kondisi perekonomian di masa mendatang.
Kondisi tersebut tercermin pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tetap stabil dan konsisten angkanya, kisaran 4,53 persen hingga 5,22 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada 2023-2024, serta ketahanan pada level 4,98 persen di tahun 2025.
Angka tersebut mengidikasikan bahwa ekonomi domestik belum melemah dan permintaan domestik masih menjadi penopang utamanya dalam pertumbuhan ekonomi.
Namun, uparh riil pekerja mulai ngerasa tertekan pada paruh kedua tahun lalu, data pada Agustus 2025 menunjukkan kenaikan upah hanya sebesar 1,94 persen yoy, lebih rendah dibanding laju inflasi yang mencapai 2,32 persen yoy.
“Kondisi ini menyebabkan upah riil terkontraksi sekitar 0,37 persen, sebuah sinyal tertekannya daya beli, karena pendapatan tidak lagi mampu mengimbangi kenaikan harga,” tutur Sandy.
Sinyal Rapuh Pendapatan dan Perlambatan Lapangan Kerja
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5394549/original/027475700_1761635126-Momentum_Hari_Sumpah_Pemuda_2025__Pertamina_Jaring_Ribuan_Lapangan_Kerja_untuk_Generasi_Muda-1.jpeg)
Indikator pelemahan fundamental ekonomi domestik mulai terdeteksi secara nyata melalui pergerakan Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) yang menunjukkan volatilitas cukup mengkhawatirkan. Sandy Pramuji menyoroti adanya penurunan tajam indeks tersebut dari posisi 120,2 pada Juni 2025, yang kemudian terperosok ke angka 112,9 pada September 2025.
Meskipun data menunjukkan adanya pemulihan terbatas di penghujung tahun dengan kembalinya indeks ke level 120,2 pada Desember 2025, fluktuasi ini mengirimkan pesan kuat bahwa stabilitas pendapatan rumah tangga sedang terguncang.
Hal ini menjadi indikasi valid bahwa penghasilan riil yang dirasakan oleh masyarakat mulai tergerus secara signifikan oleh kenaikan biaya hidup yang terus merangkak naik, memaksa mereka untuk mengatur ulang prioritas pengeluaran.
Kondisi ini diperparah oleh data sektor ketenagakerjaan yang menunjukkan tren perlambatan penyerapan tenaga kerja yang sangat drastis.
Berdasarkan data per Agustus 2025, ekonomi nasional hanya mampu menyerap tambahan tenaga kerja sebanyak 1,89 juta orang.
Angka ini mencatatkan penurunan yang sangat curam jika disandingkan dengan performa periode yang sama pada tahun sebelumnya, di mana penyerapan tenaga kerja mampu mencapai angka impresif sebesar 4,79 juta orang pada Agustus 2024.
Penurunan drastis dalam kapasitas penciptaan lapangan kerja ini menjadi peringatan dini bagi pemerintah bahwa mesin pertumbuhan ekonomi sedang mengalami hambatan serius dalam menghasilkan dampak kesejahteraan yang inklusif bagi masyarakat luas.
Advertisement
Jurang Lebar Disparitas Tabungan Rumah Tangga
Analisis mendalam Sandy juga menyoroti adanya fenomena segmentasi yang kian tajam dalam struktur keuangan rumah tangga di Indonesia, khususnya terkait pola tabungan masyarakat.
Secara makro, total dana pihak ketiga atau tabungan masyarakat memang mencatatkan pertumbuhan positif hingga 12,1 persen secara tahunan (year-on-year) pada November 2025.
Namun, angka pertumbuhan agregat ini bersifat semu karena peningkatannya didominasi secara mutlak oleh kelompok pemilik modal besar dengan saldo simpanan di atas Rp1 miliar.
Hal ini mencerminkan bahwa likuiditas masih menumpuk di kalangan atas, sementara kelompok ekonomi lainnya justru mengalami tekanan likuiditas yang semakin berat.
Realitas pahit justru terlihat pada kapasitas menabung kelompok masyarakat kelas menengah dan bawah yang mengalami stagnasi, bahkan penurunan.
Data menunjukkan rata-rata nilai tabungan per rekening untuk kelompok simpanan di bawah Rp100 juta yang merepresentasikan mayoritas rakyat cenderung menyusut dari kisaran Rp2 juta pada awal 2023 menjadi hanya sekitar Rp1,7 juta pada periode 2024-2025.
Penurunan saldo ini mengindikasikan bahwa tabungan mereka terpaksa digunakan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari alias "makan tabungan". Sandy menegaskan bahwa situasi ini adalah cermin ketimpangan pemulihan ekonomi.
“Fenomena precautionary saving ini mempertegas bahwa ruang finansial rumah tangga tidak membaik secara merata. Kelompok berpendapatan tinggi lebih memilih menabung dan berinvestasi, sementara kelompok menengah-bawah berjuang menjaga sisa bantalan keuangan mereka yang mulai tergerus inflasi,” imbuh Sandy.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2101628/original/056508300_1524222348-Infografis_HL_Tenaga_kerja_Asing.jpg)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5449906/original/063102600_1766118428-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-19T112523.408.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564063/original/036332000_1776924981-cek_fakta_-_BSU_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5496891/original/097309800_1770608635-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T103958.761.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710243/original/038928400_1782790135-IMG_3966.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3913661/original/bF1aVh5mPdmHwTRpWtdgstnTfJAjUfG0qSHV2T0O.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5283745/original/048420600_1752564314-WhatsApp_Image_2025-07-15_at_14.24.28.jpeg)


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776307/original/030285700_1782873381-AP26182087478676.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524757/original/078321100_1782454482-AP26176835585287.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262583/original/036434300_1781838197-000_B7LE9YQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776146/original/063906300_1782856231-Sweden_s_Lucas_Bergvall__7__and_Yasin_Ayari__18__defend_France_s_Ousmane_Dembele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8584006/original/084196900_1782546499-AP26178201151443.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776154/original/033634700_1782859536-France_s_Kylian_Mbappe__10__celebrates_scoring_their_third_goal_with_Michael_Olise.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776150/original/042954000_1782857106-France_s_Kylian_Mbappe.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263357/original/030094600_1781903941-063_2282397170.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776149/original/009414100_1782856874-France_s_Kylian_Mbappe.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8593999/original/023505700_1782562806-ekuador.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259258/original/056986600_1781493541-3549582318816429688.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4658385/original/082893300_1700632786-towfiqu-barbhuiya-jpqyfK7GB4w-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8593110/original/089156300_1782561611-44838.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540886/original/036683800_1774840988-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3285859/original/062073000_1604404965-20201103-pembebasan-tarif-bea-masuk-permudah-umkm-ekspor-produk-ke-AS-ANGGA-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5567485/original/057350700_1777282818-IMG_2719.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/804912/original/080833100_1422933463-Ilustrasi-Pajak-150203-andri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3985849/original/021111300_1649154108-20220405-Bank-Dunia-Ekonomi-Indonesia-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4955660/original/092556500_1727567882-Screenshot_2024-09-29_065544.jpg)