Kepala BGN Beri Kartu Kuning ke SPPG Usai Kasus Keracunan MBG di Kudus

Kepala BGN atau Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana bicara usai sejumlah siswa SMAN 2 Kudus keracunan setelah menyantap makan bergizi gratis (MBG).

Diterbitkan 03 Februari 2026, 05:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Kepala BGN meminta maaf atas keracunan siswa SMAN 2 Kudus akibat MBG.
  • BGN akan sanksi SPPG yang langgar prosedur, seperti ambil bahan baku luar.
  • BGN mengevaluasi menu MBG dan akan membuat edaran agar kejadian tidak terulang.

Liputan6.com, Jakarta - Kepala BGN atau Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana meminta maaf kepada sejumlah siswa SMAN 2 Kudus yang keracunan usai menyantap makan bergizi gratis (MBG).

Dadan menegaskan pihaknya sudah melakukan investigasi dan evaluasi kepada beberapa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur umum MBG.

"Ya pertama saya sebagai kepala Badan Gizi Nasional meminta maaf kepada para penerima manfaat yang mengalami kejadian yang kurang menyenangkan dan kami sudah melakukan investigasi, analisis untuk beberapa SPPG yang mengalami kejadian," ujar Dadan di Sentul, Jawa Barat, Senin 2 Februari 2026.

Dadan mengatakan, pihaknya akan memberikan kartu kuning kepada SPPG karena diduga menyalahi prosedur penyajian MBG. Salah satunya, mengambil bahan baku dari luar sehingga proses memasak tidak terawasi dengan baik.

Dia juga membuka kemungkinan akan memberikan sanksi berupa penutupan sementara SPPG yang diberikan kartu kuning. Namun, BGN kini masih melakukan evaluasi terhadap SPPG yang menyalahi prosedur.

"Dan saya melihat ada SPPG yang akan kita berikan lampu kuning ya atau kartu kuning karena menyalahi prosedur yang lebih berat. Kemudian kita akan evaluasi dan mungkin akan di-stop untuk sementara agak lama yang diberikan kartu kuning," kata Dadan.

Dadan menuturkan, BGN juga mulai mengevaluasi menu MBG yang harus disajikan kepada penerima manfaat, usai munculnya kasus keracunan tersebut. Dia menekankan BGN tak ingin kasus keracunan makanan akibat MBG kembali terjadi.

"Tapi kemudian kami juga dari kejadian-kejadian yang ada mulai mengevaluasi menu yang harus diberikan. Jadi beberapa menu mungkin harus kita hindarkan supaya kejadian tidak terulang kembali," terang dia.

"Dan saya kira kami akan membuat edaran supaya program makan bergizi bisa berjalan lebih aman," sambung Dadan.

 

Belasan Ambulans

Sebelumnya, pada Kamis 29 Januari 2026 lalu tampak belasan unit armada ambulans hilir mudik di halaman sekolah setempat. Ambulans tersebut keluar masuk ke sekolah menuju rumah sakit, merujuk para siswa yang keracunan.

Selain tenaga medis dan tenaga kesehatan dibuat sibuk, kejadian itu juga membuat para orang tua yang anaknya bersekolah di SMA setempat juga kebingungan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dr. Mustiko Wibowo menambahkan, tanda-tanda gangguan kesehatan sebenarnya sudah muncul sebelum para siswa tiba di sekolah.

Menurut Mustiko, sebagian pelajar mengeluhkan pusing dan diare sejak Rabu (28/1/2026) malam. Namun mereka tetap berangkat ke sekolah seperti biasanya.

"Keluhan awal (siswa SMA 2 Kudus) sudah dirasakan saat mereke berada di rumah," tutur Mustiko saat ditemui di SMA 2 Kudus.

Mustiko menyebut, dugaan sementara gangguan kesehatan massal ini mengarah pada menu MBG yang dikonsumsi sehari sebelumnya. Sebab dampaknya baru dirasakan siswa pada keesokan harinya.

Kondisi semakin memburuk saat para siswa berada di lingkungan sekolah. Mereka mulai terserang mual, muntah, hingga diare berat. Mirisnya lagi, nakes dan guru sekolah setempat menemukan dua siswa yang sempat pingsan dan segera dievakuasi ke rumah sakit.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6