Pemkot Bandung Dorong Sistem Sampah Terpadu Demi Lingkungan Bersih

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengevaluasi pelaksanaan Gerakan Atasi Sampah.

Diterbitkan 02 Februari 2026, 13:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pelaksanaan pengelolaan sampah di Kota Bandung terus didorong agar dilaksanakan secara terintegrasi dan berkelanjutan, sehingga mampu memberikan dampak nyata terhadap kebersihan dan kualitas lingkungan warga.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Siskamling Siaga Bencana ke-79 yang berlangsung di Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal, sebagai bagian dari penguatan peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan. 

Dalam kegiatan tersebut, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengevaluasi pelaksanaan Gerakan Atasi Sampah atau Gerakan Sampah Kelar (Gaslah) yang berjalan di tingkat Rukun Warga (RW). Menurutnya, program ini menjadi penting karena merupakan garda terdepan dalam upaya pengurangan sampah langsung dari sumbernya.

“Saya ingin memastikan Gaslah ini betul-betul berjalan efektif, bukan sekadar ada kegiatannya tapi jelas ujungnya,” ujar Farhan, dilansir Liputan6.com dari laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat www.jabarprov.go.id, Jumat (30/1/2026). 

Program Gaslah di tingkat RW diharapkan benar-benar berdampak nyata pada kebersihan lingkungan, bukan sekadar menjadi kegiatan formalitas, sehingga pelaksanaannya dapat lebih terukur dan efektif bagi warga.

Farhan juga menyampaikan apresiasi kepada para ketua RW dan warga yang tetap menjalankan program Gaslah, meski menghadapi keterbatasan sumber daya manusia dan administrasi. Menurutnya, komitmen tersebut menunjukkan bahwa kesadaran warga menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengelolaan sampah di tingkat kewilayahan.

“Saya apresiasi para RW dan warga, di tengah keterbatasan SDM dan administrasi, program kota tetap dijalankan,” ujarnya.

Penguatan Dalam Pengelolaan Sampah

Pengelola program Gaslah membuka peluang pengadaan lahan untuk kantor RW yang dapat difungsikan sebagai pusat koordinasi pengelolaan sampah sekaligus menjadi aset bagi kegiatan kewilayahan. 

Langkah ini ditujukan agar pengelolaan sampah di tingkat RW lebih terstruktur dan koordinasi antarwilayah dapat berjalan lebih optimal.

“Nanti akan kita lihat kemungkinan pengadaan lahan supaya bisa menjadi aset kota dan mendukung kerja kewilayahan,” ucap Farhan.

Kesiapan sarana dan fasilitas juga menjadi faktor penting dalam pengajuan bantuan alat atau mesin pengolahan sampah. Setiap pengajuan bantuan mesin harus disertai lokasi yang memadai dan sarana pendukung yang lengkap.

“Jangan sampai mesinnya sudah ada tapi tempatnya tidak memadai, ini tidak boleh terulang,” tegas Farhan, menekankan pentingnya perencanaan matang agar program berjalan efektif.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat efektivitas program Gaslah di tingkat RW, sehingga pengelolaan sampah menjadi lebih terorganisir dan hasilnya benar-benar dirasakan oleh warga. 

Sistem Matriks Distribusi Sampah

Farhan menekankan pentingnya penerapan sistem matrikulasi agar alur distribusi sampah organik antar-RW dapat berjalan jelas dan terukur. Menurutnya, tanpa sistem yang terstruktur, pengelolaan sampah berisiko tidak efektif dan berdampak kurang optimal terhadap kebersihan lingkungan.

“Kita perlu sistem matrikulasi supaya sampah organik tiap RW jelas dialirkan ke mana dan dikelola berkelanjutan,” pungkasnya.

Dengan sistem ini, setiap RW memiliki jalur pengelolaan yang terukur, mulai dari pengumpulan di tingkat rumah tangga hingga pengolahan di fasilitas yang tersedia. 

Selain membuat proses lebih terorganisir, matrikulasi juga mempermudah pemantauan dan koordinasi antar-RW, meningkatkan partisipasi warga, serta memastikan pengelolaan sampah berjalan berkelanjutan. 

Langkah ini diharapkan tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mendorong kesadaran kolektif dan mengurangi tekanan terhadap Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6