Bantuan Kemanusiaan dan Tim Relawan Dikirim untuk Bantu Korban Bencana Sumatera

Tim relawan kemanusiaan dan bantuan untuk korban bencana di wilayah Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar), dan Aceh resmi dilepas.

Diterbitkan 14 Desember 2025, 13:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tim relawan kemanusiaan dan bantuan untuk korban bencana di wilayah Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar), dan Aceh resmi dilepas oleh Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) bekerja sama dengan Yayasan Baitul Maal (YBM PLN) dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) pada 12 Desember 2025 di Jakarta.

Wakil Pengurus Yayasan Baitul Maal PLN Ahmad Mujahid menyatakan, bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan respon cepat dari IPSI bersama dengan YBM PLN dan PT PLN (Persero).

"Bantuan diberikan pada 13 Desember 2025 menuju tiga titik lokasi terdampak, yaitu Tamiang, Kuala Simpang, dan Tanjung Pura," ujar Mujahid, melalui keterangan tertulis, Minggu (14/12/2025).

Dia mengatakan, bantuan ini diharapkan dapat bermanfaat untuk masyarakat yang terkena musibah. "Kami Berharap partisipasi ini menjadi bagian rasa kemanusiaan kami, keluarga kami, keluarga bangsa Indonesia terutama Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh. Semoga bantuan ini bermanfaat bisa meringankan beban saudara-saudara kami yang terkena musibah," ucap Mujahid.

Adapun bantuan yang disalurkan langsung berfokus pada kebutuhan Perempuan dan Anak, terutama Obat-obatan, pakaian baru, makanan dan minuman.

Kemudian, Sekertaris Jenderal PB IPSI Teddy Suratmadji menyampaikan akan memastikan bantuan tersebut dapat disalurkan dan membantu masyarakat di wilayah terdampak.

"Tentu saja ini merupakan salah satu langkah yang sangat baik insyaallah bagian kami bisa menyalurkan bantuan itu kepada yang berhak, tepat sasaran dan efektif," kata Teddy.

 

Kegiatan Sosial jadi Tanggung Jawab Bersama

Sementara itu, Ketua Tim Relawan kemanusiaan gabungan PB IPSI Shalimar Anwar Sani mengatakan, kegiatan sosial ini merupakan tanggung jawab moral bersama.

"Bencana Sumatera adalah derita kita sebagai saudara sebangsa, saya dan tim menjalankan tugas ini dengan landasan moral persaudaraan, karena kalau bukan kita yang bergerak, mau tunggu siapa?," tukas Shalimar.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan jumlah korban jiwa akibat bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat mencapai 1.006 jiwa. Data ini merupakan jumlah akumulasi hingga Sabtu (13/12/2025).

Rinciannya adalah di Aceh sebanyak 414 orang, Provinsi Sumatera Utara sebanyak 349 orang dan Provinsi Sumatera Barat sebanyak 242 jiwa.

"Untuk data hilang kini menjadi 217 nama dari 226 nama. Data kebencanaan tersebut ada yang berkurang dan ada yang bertambah. Dinamika data tersebut karena ada validasi dan identifikasi di lapangan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta. Dikutip dari Antara, Minggu (14/12/2025).

Sedangkan jumlah pengungsi korban banjir dan longsor di Provinsi Aceh terus berkurang, dari 817 ribu orang menjadi 586 ribu orang. Berkurangnya jumlah pengungsi karena sebagian sudah kembali ke rumah masing-masing.

"Jumlah pengungsi di Aceh terus berkurang. Per Jumat 12 Desember sebanyak 817 ribu dan hari ini, Sabtu 13 Desember menjadi sebanyak 586 ribu," tutur Abdul Muhari.

Sedangkan secara keseluruhan, jumlah pengungsi korban banjir di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebanyak 884 ribu berkurang menjadi 654 ribu orang.

 

Distribusi Logistik

Menyangkut dengan distribusi logistik, Abdul Muhari mengatakan BNPB bersama pihak terkait lainnya pada tanggap darurat fase kedua, terus mengoptimalkan penyaluran logistik kepada korban bencana.

"Distribusi logistik pada hari ini ada 16 pengiriman via udara dengan berat 11,3 ton, dua pengiriman melalui darat seberat tiga ton, serta menggunakan kapal dengan lima pengiriman sebanyak 47,4 ton," katanya.

Abdul Muhari mengatakan pemulihan jembatan putus akibat banjir terus dipacu dan diharapkan selesai secepatnya. Pemulihan jembatan tersebut untuk mempercepat penyaluran bantuan melalui jalur darat.

"Pemulihan beberapa jembatan putus, terutama di lintas timur Aceh tersebut terus dipacu. Jika semua jembatan selesai, maka penyaluran bantuan ke wilayah bencana bisa lebih optimal," pungkas Abdul Muhari.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6