Divan Rela Korbankan Nyawa Demi Selamatkan Ayah yang Sakit Stroke Saat Longsor di Tapanuli Tengah

Longsor besar yang melanda Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, tak hanya menimbun rumah dan jalan, tapi juga manusia. Divan Simangunsong salah satu korbannya.

Diterbitkan 06 Desember 2025, 18:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Divan Simangunsong tertimbun longsor saat menyelamatkan barang ayahnya di Tapanuli Tengah.
  • Longsor terjadi setelah hujan deras lima hari, menimbun belasan rumah dan menyebabkan banyak korban.
  • Tim SAR masih mencari Divan dan 169 korban hilang lainnya di lokasi longsor.

Liputan6.com, Jakarta - Longsor besar yang melanda Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, tak hanya menimbun rumah dan jalan, tapi juga manusia. Divan Simangunsong salah satu korbannya.

Pemuda 21 tahun itu tinggal di Perumahan Pandan Permai, Aek Matauli, Sibuluan Indah, Kecamatan Pandan. Dia mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan sang ayah yang sakit stroke saat longsor melanda wilayah itu.

Salah satu tetangga korban, Pindo Pasaribu menceritakan detik-detik Divan tertimbun longsor besar. Hari itu Selasa (25/11/2025). Sekitar pukul 09.30 WIB, longsor datang tanpa aba-aba setelah hujan deras mengguyur kawasan Pandan selama lima hari empat malam.

Divan saat itu sempat menyelamatkan diri keluar dari rumah bersama keluarganya. Namun, setelah keluarga aman, Divan memutuskan masuk kembali untuk memastikan tidak ada perlengkapan milik sang ayah tertinggal di rumah.

Saat kembali masuk, longsor susulan yang lebih hebat terjadi. Longsor membawa batang kayu dan bongkahan batu berdiameter hingga dua meter dari Bukit Aek Matauli.

"Warga sempat menarik dia, tapi kakinya jatuh ke selokan. Tidak ada waktu, bukit sudah runtuh lagi," kata dia, seraya mengingat pesan terakhir Divan kepada orang tuanya sebelum berlari kembali ke arah rumah.

“Teriak dia pergilah bapak mamak (cari pengungsian aman) saya yang akan mencari kalian nanti,” ujar Pindo menirukan ucapan korban yang kini menjadi kenangan bagi keluarga dan kerabat.

Bukit Aek Matauli Runtuh

Bagian sisi tenggara Bukit Aek Matauli itu pun runtuh, membawa bebatuan dan batang kayu besar hingga menimbun belasan rumah warga, dan meninggalkan jurang setinggi ratusan meter dengan kemiringan mencapai 45 derajat.

Kepala Kantor SAR Nias, Putu Arga Sujarwadi, melaporkan bahwa hingga Sabtu pagi jumlah korban meninggal dunia di Tapanuli Tengah mencapai 115 orang, korban selamat 594 orang, dan 169 orang masih dinyatakan hilang.

Tim petugas SAR gabungan hingga hari ke-12 ini terus mengintensifkan pencarian korban hilang, termasuk keberadaan jasad Divan dengan cara menggali material longsor yang diperkirakan berkedalaman lebih dari tujuh meter menggunakan ekskavator.

Dilansir Antara, ayah dan ibu Divan saat ini sudah dievakuasi ke pengungsian dalam pendampingan tim petugas gabungan, sementara adik perempuannya menjalani pemeriksaan medis di Kapal Bantu Rumah Sakit KRI dr. Radjiman.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6