Analisis Pemicu Banjir Parah di Sumatera, Tak Melulu Gara-Gara Cuaca Ekstrem

Banjir parah di tiga provinsi menimbulkan korban jiwa, luka-luka bahkan hilang yang masih dalam pencarian.

Diterbitkan 28 November 2025, 18:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Banjir parah melanda tiga provinsi di Sumatera. Yakni Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh. Sejumlah wilayah terdampak banjir luluh lantak. Bahkan bencana alam itu menyebabkan korban jiwa.

Pengamat tata ruang, Prof Putu Rumawan Salain, menegaskan banjir parah dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak 24 November 2025, bukan semata-mata dipicu cuaca ekstrem. Lebih dari itu, bencana alam yang terjadi karena rusaknya tata ruang dan ekologi di kawasan hulu dan hilir.

"Menurut saya setidaknya ada beberapa faktor lainnya selain cuaca yang berdampak banjir,” kata Putu Rumawan Salain saat diwawancarai Liputan6.com , Jumat (28/11/2025).

Guru Besar bidang arsitektur konservasi itu menilai ada rangkaian struktural yang memperparah banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Perubahan fungsi lahan, pembangunan masif di daerah hulu, hilangnya resapan air, dan terputusnya jaringan irigasi menjadi pemicu yang saling berkelindan.

Dia juga menyorot persoalan sampah yang menyumbat sungai, pelanggaran sempadan sungai dan danau, penebangan hutan, serta menyusutnya vegetasi di sepanjang bantaran sungai. Selain itu, kondisi permukiman yang makin padat dengan halaman yang dipenuhi perkerasan turut memperburuk kemampuan tanah menyerap air.

Masalah lainnya karena drainase rumah yang tidak terhubung ke saluran kota, sehingga air tumpah ke jalan dan menambah genangan. Drainase kota yang tidak pernah dibersihkan, pengaturan pintu DAM yang tidak tepat waktu, tidak adanya perangkap sampah di sungai, serta pendangkalan sungai yang tak ditangani, semuanya memperkuat risiko banjir.

Namun dari semua penyebab tersebut, Putu Rumawan menilai ada satu akar masalah terbesar.

“Saya duga tidak konsistennya pelaksanaan tata ruang dan tata bangunan serta perlakuan terhadap hutan dan lingkungan,” tegasnya.

Dugaan Penebangan di Hulu

Dia juga menyorot video viral yang memperlihatkan gelondongan kayu berukuran besar terseret arus coklat pekat di Sungai Batangtoru. Pemandangan itu memunculkan dugaan kuat ada aktivitas pembukaan hutan yang berlangsung di wilayah hulu. Kejadian tersebut sebagai bukti nyata kerusakan ekologis yang terus memburuk di kawasan Batang Toru hingga area resapan kian mini.

"Jika ditemukan gelondongan kayu hanyut di sungai pastilah hanyut dari hutan di kawasan hulu," ujarnya.

Ia memaparkan tiga kemungkinan besar penyebab munculnya kayu-kayu tersebut, adanya pembalakan hutan, penebangan untuk kepentingan perkebunan sawit atau pertambangan, dan meningkatnya risiko longsor akibat hilangnya vegetasi penahan tanah.

Kayu gelondongan yang terseret arus bukan hanya tanda kerusakan ekologis, tetapi juga memperparah aliran banjir.

Batang-batang besar itu berpotensi menjadi sumbatan di hilir, mempercepat meluapnya sungai dan memperbesar dampak bencana.

Pertumbuhan Kota

Pada aspek perkotaan, Putu Rumawan menilai pertumbuhan kota di daerah landai turut menambah risiko.

“Perkembangan atau pertumbuhan kota pastilah ikut menyumbang terjadinya banjir. Namun yakinlah bahwa banjir adalah limpahan air hujan yang mengalir ke sungai dan dikarenakan ada sumbatan-sumbatan akhirnya air dengan liar ke mana-mana,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa jika air pasang terjadi di wilayah pesisir, maka aliran sungai menuju laut menjadi terhambat, memperburuk kondisi banjir.

“Kota yang tumbuh di kawasan yang agak landai akan terendam air akibat banjir. Coba cari tahu juga jika air di Pantai air pasang maka akan ikut menghambat kelancaran air sungai akibat banjir,” tambahnya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6