Dunia Hadapi Super El Nino, Harga Beras hingga Kopi Bisa Melonjak 100%

Fenomena Super El Nino diprediksi memicu lonjakan harga pangan. Dikombinasikan dengan efek perang, dunia bersiap menghadapi ancaman inflasi iklim terdahsyat.

Diterbitkan 13 Juli 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena Super El Nino diprediksi memicu lonjakan harga pangan. Dikombinasikan dengan efek perang, dunia bersiap menghadapi ancaman inflasi iklim terdahsyat dalam sejarah.

Ahli ekonomi memperkirakan cuaca ekstrem yang disebabkan oleh fenomena “Super El Nino” akan mendorong lonjakan harga bahan pangan global hingga tahun 2028. Kondisi ini memperparah tekanan ekonomi dunia yang dalam tiga tahun belakangan sudah melambung pesat akibat perang Iran.

Melansir The Guardian, Senin (13/7/2026), para ilmuwan menyatakan bahwa El Nino periode 2026–2027 memiliki peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah untuk berkembang menjadi fenomena “sangat kuat”. Fenomena ini siap memicu gelombang panas, banjir, dan badai yang jauh lebih besar.

Asal mula El Nino sendiri terbentuk saat pola angin berubah, menyebabkan air laut bersuhu lebih tinggi menyebar ke wilayah Pasifik Khatulistiwa tengah dan timur.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mengonfirmasi bahwa peningkatan suhu laut akibat Super El Nino atau El Nino "Godzilla" sudah terjadi di Pasifik bulan lalu. Bahkan, ada peluang sebesar 63% bahwa permukaan laut akan mengalami kenaikan suhu hingga 2℃ di atas angka normal tahun ini.

Di masa ketika masyarakat di seluruh dunia sudah terdesak oleh melejitnya biaya hidup, para ahli memperingatkan bahwa El Nino ekstrem akan memperberat beban tersebut. Ancaman guncangan inflasi ini juga membuat bank sentral bersiap, menambah kekhawatiran baru terhadap kestabilan suku bunga.

Seorang analis di bank Italia, UniCredit, menulis dalam risetnya:

“El Nino mengembalikan fenomena 'inflasi iklim' (climateflation). Gelombang panas di Eropa belakangan ini adalah pengingat bahwa garis ukur iklim telah bergeser. El Nino akan menambah lapisan tekanan baru tahun ini karena meningkatnya efek pemanasan global.”

 

Proyeksi Dampak Ekonomi dan Rantai Pasokan Pangan

Lebih dari satu abad lalu, fenomena El Nino paling parah dalam sejarah pernah menyebabkan bencana kekeringan hebat di China, Afrika bagian selatan, Brasil, Mesir, dan India. Peristiwa tersebut memicu kelaparan massal di tengah era penjajahan, hingga merenggut jutaan korban jiwa—termasuk lebih dari enam juta orang di India pada periode 1876–1878.

Meski El Nino pada tahun 1982–1983, 1997–1998, 2015–2016, dan 2023–2024 tercatat sebagai yang terkuat dalam sejarah modern, NOAA memproyeksikan bahwa El Nino 2026–2027 bisa jauh lebih parah. Akibatnya, risiko kekeringan, kegagalan panen sawah, dan ancaman terhadap pasokan pangan global otomatis meningkat.

Menurut analis dari Goldman Sachs, kekuatan El Nino kali ini diprediksi dapat mendongkrak harga bahan pangan global hingga 15,8%, yang akan memicu efek domino di seluruh dunia. Di Eropa sendiri, harga pangan diperkirakan naik 1,3% di Zona Euro.

Efek ini tidak langsung terjadi secara instan, melainkan terasa bertahap seiring dampak perubahan iklim merembes ke seluruh rantai pasokan. Goldman Sachs berpendapat bahwa dampak maksimalnya baru akan “terjadi sepenuhnya” pada paruh kedua tahun 2028.

Keterlambatan efek ini bergantung pada waktu terjadinya cuaca ekstrem yang memengaruhi produksi pangan, terutama karena adanya perbedaan siklus penanaman, pertumbuhan, dan pemanenan pada setiap jenis tanaman. Selain itu, tantangan logistik seperti menyusutnya volume air di waduk dan sungai yang menjadi jalur pengiriman komoditas juga akan ikut terganggu.

 

Peta Wilayah Terdampak dan Kerugian Triliunan Dolar

Seorang analis di UBS menjelaskan bahwa El Nino tidak memengaruhi sektor agrikultur secara seragam di seluruh dunia. Fenomena ini mengubah pola hujan dan suhu global, sehingga menghasilkan keuntungan di beberapa wilayah tertentu, tetapi membawa kerugian besar di wilayah lain.

Meski demikian, para analis sepakat bahwa El Nino akan memperparah gangguan yang sebelumnya dipicu oleh perang Iran. Masalah pasokan makanan baru akan muncul di tengah harga-harga yang sudah melesat tinggi, ditambah lagi dengan kelangkaan pupuk dan sumber energi. Negara-negara berpendapatan rendah yang sudah menderita akibat konflik Iran diprediksi akan menjadi korban paling terdampak.

Secara umum, El Nino meningkatkan risiko kekeringan di Afrika bagian selatan dan Amerika Selatan bagian utain, serta memicu banjir di Brasil bagian selatan, Argentina, Paraguay, dan Uruguay.

Saat ini, dampaknya bahkan sudah mulai terlihat pada sektor pertanian:

  • India: Mengalami musim hujan yang jauh lebih kering. Beberapa wilayah hanya mendapatkan 25% dari curah hujan normal, dan India tengah hanya mendapatkan 50%. Hal ini mengancam pasokan gandum, beras, dan tebu.
  • Asia Tenggara: Ancaman kekeringan dapat mengganggu produksi minyak sawit (bahan baku penting makanan olahan), serta panen kopi dan kakao. Kondisi yang lebih panas dan basah di beberapa area juga mempercepat penyebaran penyakit tanaman.
  • Amerika Utara & Eropa: Dampak di Amerika Utara akan terasa paling berat saat musim dingin. Sementara di Eropa, dampak paling signifikan adalah imbas dari lonjakan harga pangan global.

 

Kerugian hingga Rp 6,2 Kuadriliun

Tiga tahun lalu, Bank Sentral Eropa (ECB) memperkirakan bahwa El Nino yang kuat dapat mendongkrak komoditas pangan global sebesar 9%, dengan kedelai, jagung, dan beras sebagai komoditas yang paling terdampak.

Berdasarkan data UniCredit, skenario El Nino ekstrem ini berpotensi menyebabkan kerugian hingga 14,3% pada produksi agrikultur global. Angka ini setara dengan US$ 342 miliar atau sekitar Rp 6,2 kuadriliun (asumsi kurs Rp 18.144 per dolar AS).

“Guncangan harga bisa mencapai 10% hingga 50% pada komoditas utama. Sementara komoditas yang paling terdampak seperti beras, minyak sawit, gula, dan kopi dapat mengalami kenaikan ekstrem sebesar 50% hingga 100%, atau bahkan lebih. Sistem pangan dunia memasuki paruh kedua tahun 2026 dengan ruang toleransi kesalahan yang semakin sempit,” tutup UniCredit.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6